“Alhamdulillah!” “Akhirnya formasi dental balik normal lagi!” “Yakin udah sembuh lo, Yal?” Satu per satu sapaan hangat itu kuterima saat aku membuka pintu ruang dokter. “Alhamdulillah,” sahutku. “Congrats, Yal!” ujar beberapa teman sejawatku. Aku paham maksudnya. Selamat karena akhirnya tuntutan kami dikabulkan pengadilan. dr. Rozi mendekatiku, merangkul singkat, lalu melangkah kembali. “Shift satu, Dok?” tanyaku. “Poli Umum,” sahutnya. Aku mengangguk. Saat ia menggenggam kenop, pintu justru terdorong dari luar. dr. Arshaka muncul sambil membawa tumbler dan sebuah map yang isinya cukup tebal. “Assalamu’alaikum, Dok,” sapaku. “Wa’alaikumussalam.” Ia menarik salah satu kursi di meja meeting, meletakkan map itu di sampingnya. “Jatah lo,” ujarnya sambil menepuk singkat tumpukan l

