Aku menjambak rambutku, lalu menatap kosong. Setelahnya, titik pandangku kembali ke layar ponsel. Bukan mimpi. 🚫You deleted this message Padahal, barusan banget, kalimat itu masih ada di sana. Kok nda dicuekin sih, Kang? Dan sekarang… hilang. Aku menelan ludah. Meraung panik. “Ya Allah…” ujarku, lalu mengusap wajah dengan kasar. “Amanda, lo ngapain sih?” Kunyalakan layar gawaiku lagi, membuka chat itu kembali. Tak ada. Raib. Seolah aku tak pernah menulis apa pun. Padahal tak begitu ceritanya. Aku yang mengetik. Aku yang mengirim. Dan aku juga yang—dengan panik—langsung menghapusnya. Masalahnya… Kang Iyal keburu membacanya. Aku menghempaskan napas, lalu menenggelamkan wajahku di bantal, berteriak keras. “Maluuu banget, ya Allah,” ujarku kemudian dengan suara yang teredam. R

