“Arial!” Langkahku berhenti tepat di ambang pintu. Pemilik suara itu, yang sejak tadi kuhindari, akhirnya mengejarku. Dadaku kembali sesak, kakiku terasa berat untuk sekadar berbalik hadap. Aku menarik napas dalam, lalu menoleh, beranjak beberapa langkah agar tak menghalangi jalan. Sementara itu, Papa berada beberapa langkah di belakang Mehdi dan Nino. Tatapan beliau lurus ke arahku. Tak ada sorot marah atau kecewa, justru kekhawatiran yang kutangkap. Namun, itu pun mampu membuatku tak tenang. “Mau kemana, Nak? Kok buru-buru pergi?” tanya Papa di titik temu. Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tak tahu harus menjelaskan apa. Papa masih menunggu jawabanku. “Itu... Iyal tiba-tiba ingat kelupaan sesuatu, Pa,” tanggapku akhirnya. Mehdi menoleh ke arahku, lalu ke arah Papa, ekspre

