BAB 112

1992 Kata

Perjalanan darat menuju Tetebatu memakan waktu cukup lama. Namun tak ada yang benar-benar mengeluh. Karena pemandangan sepanjang jalan terlalu indah untuk dilewatkan. Langit biru. Sawah bertingkat. Udara yang perlahan kian dingin. Dan Gunung Rinjani yang mulai terlihat dari kejauhan. “Ya Allah…” gumam Fira sambil membuka jendela sedikit. “Bagus banget.” “Rasanya selalu kayak pertama kali ya, Fir,” ujar Risa. “Iya lho,” sahut Fira. “Mall jadi nggak ada menarik-menariknya ya,” timpal Alya. “Lo mah anak urban sejati,” tanggapku. Di depan sana, Kang Mehdi duduk di samping sopir. Ia sibuk menggeser playlist yang sedang diputar. “Tak ada lagu lain, Bang?” tanyanya ke pengemudi travel kami. “Jangan diganti, Syekh!” sambar Kang Nino. “Lagu galau terus dari tadi. Nggak bagus buat kes

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN