Hanya Karena Sebuah Kemeja
"Dasar istri tak becus! Aku menikahimu, memberimu makan selama ini dan kamu terus saja membuatku kesal! Dasar wanita pemalas, tak tahu diri," ucap Rian melemparkan kemeja putih tepat mengenai wajah Mentari yang hanya bisa menunduk mendengarkan bentakan dari suaminya.
"Maaf, Mas. Tadi Vio rewel dan Dira lupa mengerjakan pr-nya, jadi aku bantu dia dulu. Aku juga menyiapkan sarapan untuk kita semua , Mas.”
“Alah alasan kamu, kamu pikir aku ga capek kerja! Kamu pikir kerja ibu gampang, Ha!”
“Maaf, Mas. Biar aku cuci sekarang," ucapnya sambil mengambil kemeja putih yang basah dan sudah tergeletak di lantai.
"Kamu gila, ya? Ini sudah jam berapa? Kamu mau aku terlambat jika aku harus menunggu kemeja itu kering! Pakai otak, Tari.” Rian menunjuk kening istrinya itu dengan kasar.
“Maaf, Mas. Aku siapkan kemeja yang lain.”
“Ga usah, aku bisa sendiri. Apa gunanya Kamu di rumah ini jika mengurus pakaian kerja suami saja tak becus. Menyesal aku menikah Kamu! Ga berguna. Kerjaan kamu hanya makan dan tiduran saja.”
Mentari hanya diam, walau ia melakukan pembelaan, Ia tetap salah dimata suaminya itu. Semakin hari sikap suaminya semakin berubah padanya. Mentari sendiri tak tahu mengapa hal itu terjadi, suaminya selalu marah padanya.
“Aku pikir aku akan bahagia jika menikah dengan wanita sepertimu, tapi ternyata aku salah. Bukannya mendapatkan kebahagiaan, hidupku malah semakin berantakan. Wanita sialan kamu," ucap Rian yang langsung meninggalkan Mentari yang hanya bisa tertunduk sambil mengusap air matanya.
Rasa laparnya kini hilang sudah berganti dengan rasa sakit karena perlakuan dari pria yang sudah berstatus suaminya selama 6 tahun itu.
"Wanita tak berguna, sial sekali hidupku," kesal Rian masih menggerutu sambil mencari bajunya. Ia langsung mengambil kemeja lain, memakainya dan segera berlalu ingin berangkat ke kantor.
"Ayah, aku ikut," ucap Dira sambil berlari mengambil tasnya saat melihat ayahnya sudah akan keluar dari pintu utama.
"Tidak, ayah sedang terburu-buru, Nak. Dira ke sekolah bareng ibu aja ya." Rian mengusap rambut anaknya. Walaupun selama ini Rian selalu bersikap kasar pada sang istri, ia sayang pada kedua anaknya.
Dira hanya mengangguk sebagai jawaban, menyalami ayahnya setelah diberi uang jajan. Rian langsung keluar dari rumah kontrakan sederhana mereka dengan masih mengomel, ia melajukan motornya menuju ke kantor.
Mentari langsung mengambil putranya yang baru berusia 2 tahun dan menggendongnya saat bocah itu menangis. Vio sedang demam. Namun, ia harus tetap mengantarkan anak ke sekolah. Dira baru saja masuk ke taman kanak-kanak dan anaknya itu sedang semangatnya ke sekolah.
Setelah mengantar putrinya ke sekolah Menteri kembali kerumah dan memulai aktivitasnya seperti biasa.
"Vio jangan rewel, ya. Vio disini dulu ibu cuci baju ayah dulu ya, Nak," ucap Mentari mencoba menidurkan anak, tetapi anak itu terus saja menangis dan tak mau lepas dari gendongan sang ibu. Membuat Mentari pun akhirnya membawa kemeja Rian menuju ke ruang cuci sambil menggendong Vio, ia memangku anak itu sambil mulai mencuci kemeja kesayangan suaminya.
Mentari tak tahu apa istimewanya kemeja itu, sampai suaminya sangat senang memakainya. Padahal Ia sudah membeli kemeja yang lebih baik dari kemeja putih itu, selama ini mentari selalu berhemat agar bisa memenuhi kebutuhan suaminya yang bekerja di kantor. Ia tak ingin suaminya berpenampilan kumuh saat bekerja. Mentari bahkan rela memakai pakaian yang sudah lusuh demi membeli pakaian yang terbaik untuk suaminya.
Semalam Mentari tak mencuci baju itu karena suaminya sudah memakainya, berpikir jika suaminya pasti akan memakai kemeja yang lain.
Setelah selesai mencuci pakaian tersebut, ia kembali mengurus semua pekerjaan rumah. Membereskan rumah dan setelahnya barulah ia memasak. Ia tak ingin jika sampai suaminya kembali marah saat pulang nanti tak ada makanan yang tersaji di atas meja makan. Tak jarang Rian menghajarnya jika ia lapar dan tak ada makanan di meja makan.
Setelah mengurus semua pekerjaan, Mentari kembali menjemput putrinya.
Semua rutinitas itu ia lakukan setiap harinya, hingga ia sendiri sudah lupa kapan ia memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Mentari yang sudah selesai menyuapi Dira dan juga Vio mendengar ponselnya berdering melihat jika itu adalah panggilan dari ibu mertuanya, Ia pun dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Bu. Assalamualaikum,” jawab Mentari mengangkat panggilan mertuanya.
“Mentari, besok Ibu ada acara arisan di rumah, kamu bisa kan datang ke rumah dan bantu buatkan makanan?”
“Iya, Bu. Tentu saja, nanti aku minta Mas Rian mengantarku dan anak-anak sebelum berangkat ke kantor.”
“Iya, usahakan cepat ya, acaranya jam 12.00 siang. Kita harus sudah selesai sebelum jam makan siang, ibu nggak mau sampai tamu-tamunya datang kamu belum selesai membuat makanannya.”
“Iya, Bu. Mentari usahakan, semoga saja mas Rian bisa mengantar dan Vio ga rewel,” jawab Mentari yang selalu patuh apapun yang diperintahkan oleh ibu mertuanya, pernah sekali ia menolak karena alasan sakit dan ia langsung dianggap menantu tak tahu diri dan mendapatkan amarah dari suaminya.
Mentari mematikan panggilannya, kemudian masuk ke kamar menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya besok. Sekaligus membersihkan kamar tidur mereka, selagi anaknya sedang asyik bermain ia akan melakukan apa yang bisa dilakukannya. Suaminya sangat tak suka jika rumah berantakan saat ia pulang bekerja.
Di saat Mentari sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang istri dan ibu, sang suami justru sedang bersama dengan seorang wanita cantik di sebuah restoran. Keduanya sedang menikmati makan malam bersama, mereka sesekali tertawa bahagia sambil berbincang santai. Pria itu sama sekali tak berpikir apakah istri dan anaknya di rumah sudah makan atau belum, apakah istrinya memasak untuknya atau tidak.
"Kamu kenapa sih dari pagi aku perhatikan wajahmu terus ditekuk?" tanya Salma sambil mengusap sisa makanan yang ada di bibir Rian.
Mendengar pertanyaan itu, Rian menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Terlihat jelas wajah frustasi yang ditunjukkan oleh pria beristri itu pada teman wanitanya.
"Aku hanya merasa kesal dengan istriku, aku minta dia mencuci bajuku saja dia malas-malasan. Padahal dia seharian hanya tinggal di rumah dan aku yang seharian keluar mencari nafkah untuk memberi mereka makan. Dia benar-benar tak tahu terima kasih," gerutunya kesal.
"Memangnya kamu sudah tak punya baju lain? Mengapa sampai marah hanya karena satu baju yang belum dicuci?"
Rian tersenyum dan menggenggam tangan Salma. "Tentu saja aku punya banyak baju, tapi baju itu adalah baju kesayanganku. Baju yang kamu beli dari gaji pertamamu, Sayang. Setiap aku memakainya, aku merasa bersemangat untuk bekerja. Hari ini aku ingin kembali memakainya untuk bertemu denganmu, tapi sayang istri bodohku itu selalu saja lupa untuk mencucinya. Aku sampai harus memakai baju ini," ucapnya menunjuk baju yang dipakainya, baju yang dibeli oleh Menteri saat hari ulang tahun pernikahan mereka.
Padahal jika dilihat dari merek kemeja tersebut, kemeja yang digunakannya saat ini jauh lebih mahal daripada kemeja putih pemberian Salma.
Pria itu sudah termakan rayuan wanita seksi itu, sehingga membuat ia bahkan rela memarahi wanita yang sudah bersamanya selama 6 tahun, melayaninya dengan baik dan memberinya dua anak hanya karena sebuah kemeja murahan.