Kegilaan Rian

1088 Kata
Hari ini Mentari hanya menemui Cahaya sebentar saja, mereka hanya membahas jadwal yang nantinya akan Mentari jalani. Membuat Mentari segera pulang dan menghabiskan banyak waktu di rumah bersama anak-anaknya. “Semoga kalian tak menyalahkan ibu dengan keputusan ibu memisahkan kalian dengan ayah kalian, Nak.” Mentari mengusap rambut Vio, putranya. Alasan selama ini ia bertahan hanya mereka, dan mereka jugalah alasannya untuk berpisah. Mentari ingin anaknya bahagia bersamanya. Setelah anak-anaknya beristirahat Mentari mulai belajar berpose di depan kamera ponselnya sendiri, belajar bagaimana tersenyum, bagaimana cara memancarkan cahaya matanya, bagaimana mimik wajah agar dia terlihat lebih cantik di kamera, semua dipelajarinya dengan baik sambil mengingat ajaran Cahaya. Bukan hanya itu, Mentari juga mencari di beberapa akun media sosial, bagaimana cara berpose dengan baik sebagai seorang model di depan kamera. Semua dicoba oleh Mentari di depan cerminnya, sesekali mengambil gambar dan ia bisa mempelajari bagaimana seharusnya ia berpose agar terlihat lebih cantik, bagaimana senyum yang harus diperlihatkannya di depan kamera agar wajahnya terlihat lebih menarik. “Ternyata Cahaya benar, aku memang cantik.” Mentari merapikan rambutnya di depan cermin, mencoba mencari posisi tepat untuk wajahnya. Hari pun berlalu dengan rutinitas Mentari seperti itu, dan semua itu terus berulang-ulang. Ia akan ke salon, berlatih dan mengurus anak-anak, ia tak pernah lagi berkutat di dapur atau mengurus cucian kotornya. Karena selama suaminya tak ada, ia tak pernah memasak di rumah. Mentari memilih untuk membeli makanan jadi. Ia juga tak pernah mencuci pakaiannya, ia menggunakan jasa laundry dan masalah membersihkan rumah, Mentari hanya membersihkan seadanya saja. Satu minggu pun berlalu dan suaminya tak kunjung pulang, juga tak ada kabar kapan ia akan pulang. Hari kedelapan. Rian bersandar di sandaran tempat tidur dengan Sari yang berada di dadanya, ia mengusap-ngusap rambut wanita itu yang memeluknya dengan erat. Rencana tiga hari, kini berubah menjadi lebih dari seminggu Rian tinggal di sana. Saat ini kondisi tubuh mereka yang sama-sama polos tanpa sehelai benang pun membuat Rian lupa akan keluarganya, kini hanya selimut tebal yang menutupi bagian tubuh mereka dan itu terjadi setiap harinya. "Apa istrimu tak marah kamu tak pernah pulang? Dia juga pasti merindukan pelukanmu dan permainanmu," ucap Sari dengan manja sambil memainkan rambut-rambut halus yang ada di d**a Rian. "Aku tak peduli dia merindukanku atau tidak, yang jelas aku mendapatkan apa yang aku inginkan di sini, darimu," ucap Rian mengecup pucuk kepala Sari. Ia akui permainan Sari sangat lihai di atas ranjang, jika dibandingkan dengan Mentari. Ia mendapatkan kepuasan tersendiri. Akan tetapi, ada sesuatu dari Menteri yang membuat ia rindu ingin bermain dengan istri dekil nya itu. Fakta jika hanya dirinya yang pernah menyentuh istrinya adalah hal yang tak bisa diberikan oleh Sari. Ya, jika dia membandingkan antara tubuh Sari dan tubuh Mentari istrinya, ia lebih mengagumi tubuh Mentari yang ukuran dadanya sangat pas untuknya, d**a yang masih berisi walau sudah memberikan dua orang anak. Sangat jauh berbeda dengan d**a yang dimiliki oleh Sari ataupun Salma, mereka masih belum memiliki anak. Namun, ia sama sekali tak berselera. Akan tetapi permainan mereka membuat Rian mengabaikan akan hal itu. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat Rian malas untuk pulang, uangnya benar-benar habis. Ia juga malu kembali meminta pada ayah dan ibunya, ia juga malu jika sampai anak-anaknya meminta uang dan ia tak bisa memberikannya. Di rumah itu, ia mendapatkan makanan yang enak dan juga tak perlu memikirkan uang bensin. Karena ia ke kantor hanya tinggal duduk manis di bangku penumpang di mobil Sari. Terkadang Sari juga memberinya uang jajan. "Kapan kamu akan pulang? Aku tak mau ya ada masalah jika kamu terus berada di sini, sesekali pulanglah dan berikan nafkah batin pada istrimu. Terkadang seorang wanita tak bisa ditebak jika nafkah yang satu itu tak dipenuhi." "Baiklah, besok aku akan pulang," ucap Rian mengeratkan pelukannya pada Sari karena besok adalah hari di mana ia akan gajian, sudah dipastikan ia akan kembali memiliki uang dan ia juga khawatir pada kedua anaknya, takut jika sampai Mentari lalai memberi mereka makan. Walau ia akui jika uang yang diberikan waktu itu pasti sangat kurang, tetapi Rian percaya Mentari pasti memiliki cara untuk memberikan anak-anaknya makan. Besok ia akan pulang dan memberikan uang bulanan untuk Mentari, Rian berencana akan mencari alasan lain agar ia bisa kembali bisa menginap di rumah Sari. Sari baru saja mendapat kabar jika suaminya akan pulang minggu depan, ada pekerjaan yang harus dilakukannya sehingga untuk bulan ini ia terlambat pulang. Hal itu membuat Rian masih bisa menginap beberapa hari sebelum suami Sari pulang. Keesokan harinya, Salma tersenyum bahagia saat menerima notifikasi pesan masuk dari perusahaan, notifikasi jika perusahaan sudah mentransfer gaji mereka masing-masing. Namun, senyumnya langsung menghilang saat melihat Rian menghampirinya. "Kamu mau ngapain lagi kesini, bukannya sudah ada Ibu Sari ya?" tanya Salma, selama beberapa hari ini ia merasa tenang karena Rian tak pernah mengganggunya, ia juga merasa tak nyaman saat Rian terus saja mendekatinya dan merayu nya saat mereka bekerja. "Kita sudah gajian, bayar hutangmu." "Lain kali ya, Mas. Gaji bulan ini sudah aku siapkan untuk membayar sesuatu, tak ada lebihnya lagi. Aku membayar uang mu di bulan depan saja, ya?" rayu Salma. "Tidak, bayar sekarang atau …," ucap Rian menggantung dan menatap penampilan Salma yang terlihat begitu seksi hari ini. "Atau apa?" tanya Salma dengan kening berkerut, ia memperbaiki belahan dadanya, tadi ia sengaja memperlihatkannya pada atasannya saat memberikan laporan. Salma membiarkan atasannya itu menikmati bongkahannya. Rian melihat ke sekelilingnya, kemudian menarik Salma menuju ke gudang. "Kamu mau apa? Lepaskan!" "Aku anggap hutangmu lunas. Namun, kita main sekali lagi di sini," ucap Rian membuat Salma membelalakkan matanya, mana mungkin ia bisa melakukan hal itu di kantor dan di jam kerja. "Kamu jangan gila! Bagaimana jika ada yang melihat." "Ya sudah, jika kamu tak mau, bayar hutang sekarang," ucap Rian dengan tegas, bahkan ia memasang wajah sangarnya membuat Salma langsung menciut. "Ya sudah, tapi lakukan dengan cepat. Aku tak mau jika ada yang tahu," ucapnya membuat Rian pun langsung menyunggingkan senyum dan akhirnya mereka melakukannya. Tanpa keduanya ketahui, di dalam gudang itu juga ada Sari dan salah satu karyawan lainnya, mereka masuk lebih dulu di gudang itu dan melakukan hal yang sama. Begitu Salma dan Rian masuk, mereka langsung bersembunyi. Sari mengepalkan tangannya erat saat melihat bagaimana Rian melakukannya dengan Salma, ia tak terima, ia seolah dikhianati oleh Rian. 'Dasar pria b******k!' umpat Sari dalam hati kemudian mengambil video keduanya dan langsung mengirimnya ke web perusahaan. Setelah mengirim video singkat tersebut, Sari langsung pergi dari gudang itu melalui pintu lain. Begitupun karyawan pria yang bersamanya, mereka tak mau ikut-ikutan digerebek jika tetap berada di sana. Walau sangat sayang untuk melewatkan tontonan gratis di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN