Hal sederhana yang Esa sukai di dunia ini adalah senyum Hana. Ya, cuma senyum Hana. Meskipun senyum yang terpatri di wajah polos Hana bukan karenanya. Entahlah, menyukai seseorang bisa sebodoh ini. Tapi Esa tidak menyesal. Sama sekali tidak, meski perasaannya tidak pernah terbalas. Baginya, asal Hana tidak terluka saja cukup. Bukan berarti ia baik-baik saja. Tentu Esa terluka, tetapi kata rela menjadi penawar bagi luka itu. Esa tidak naif. Cinta pertamanya bukan Hana. Tapi untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan tulus untuk seseorang. Perasaan yang meskipun menyakitkan, Esa tidak menyesalinya. Hati memang tak bisa ditebak bukan? Seseorang dengan gelar playboy sepertinya pun, bisa mencintai seseorang dengan sangat besar. "Ngapain ngeliatin gue kayak gitu, anjir? Serem banget Esa, kay

