Layaknya orang kesetanan, Devan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan di pagi hari ini cukup lengang. Waktu masih menunjukkan setengah enam kurang sepuluh menit. Jelas saja jalanan Kota Semarang tidak sepadat seperti di saat jam-jam kerja. Lelaki itu menancapkan gas dalam-dalam, bergarap dirinya bisa bertemu kembali dengan Azahra untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang telah terjadi di antara mereka berdua. Berkali-kali Devan meremas tangannya karena gugup. Dirinya tidak bisa membayangkan jika harus hidup jauh dari Azahra. Ditinggalkan tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu pada wanitanya jelas sangat menyesakkan bagi Devan. Dirinya tidak ingin, hubungan yang telah mereka jalin selama ini harus putus di tengah jalan hanya karena kesalahpahaman. Devan in

