Bab 4

1051 Kata
Lalu lalang para karyawan di salah satu anak perusahaan Corlyn Company, beberapa dari mereka sibuk mengurus tugas yang telah menjadi kewajibannya. Begitupun dengan Azahra, wanita itu kini tengah berdiri di depan staf karyawan satu tim dengannya, menerangkan apa saja yang akan menjadi tugas mereka dalam proyek baru perusahaan. Azahra dengan cekatannya menerangkan semua tugas serta kewajiban satu timnya agar tidak terjadi kesalahan apapun dalam pelaksanaan. Wanita itu menyibak rambutnya ke belakang, Azahra menatap semua staf karyawan dengan kedua alisnya bertaut. “Bagaimana? Ada yang perlu kalian tanyakan?” tanya Azahra kepada semua staf. Mereka dengan kompak menggeleng. “Tidak ada, Bu. Kami sudah jelas,” jawab mereka dengan diikuti anggukan kepala satu sama lainnya. Azahra terkekeh ringan, wanita itu tentu saja mengerti apa yang kini ada dalam pikiran mereka. Semua staf satu timnya pasti berpikir untuk tidak perlu bertanya, karena jam makan siang akan tiba dalam setengah jam lagi. Kalau mereka bertanya, bisa-bisa materi yang akan dibawakan Azahra tidak selesai tepat waktu. Sebenarnya, semua itu salah para staf itu sendiri yang telat masuk ke dalam ruang daring. Padahal Azahra sudah meminta mereka datang pukul 10.00 WIB tepat, namun masih saja mereka molor seperti jam karet. “Saya tahu, kalian pasti pikirannya sudah berkelana ke kantin. Menu makan siang kita apa ya hari ini? Pasti itu kan yang kalian pikirkan sekarang?” ucap Azahra bertanya dengan wajah gelinya. Dengan kompaknya para staf Azahra mengangguk dan terkekeh mendengar ejekan yang keluar dari mulut supervisor mereka. “Ibu Zahra memang cenayang, selalu bisa menebak apa isi hati dan pikiran kami,” sahut salah satu di antara mereka memuji ketanggapan Azahra atas semua sikap para staf satu timnya. “Wajah kalian sudah seperti piring makan, serius deh. Coba kalian saling pandang,” ucap Azahra terkekeh. Semuanya saling pandang, kemudian mereka tertawa renyah dengan gurauan yang dilemparkan Azahra untuk mengisi kejenuhan mereka. “Kita lanjut ya piring, tiga slide lagi,” kekeh Azahra membuat semua stafnya menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Azahra ucapkan. Mana ada supervisor yang memanggil timnya dengan sebutan piring? Astaga, Azahra memang pandai mencairkan suasana. Tidak salah dia begitu klop dengan Devan yang memang sangat menjengkelkan. “Untuk selanjutnya ....” Tidak terasa, waktu makan siang telah tiba. Azahra mengakhiri pertemuan mereka dengan penutupan. Semua tim Azahra langsung berhamburan keluar silih berganti untuk menuju kantin kantor mereka.Corlyn Company sangat bersahabat dengan semua karyawannya, mereka menyediakan makan siang dan beberapa makanan ringan yang dengan bebasnya bisa mereka bawa sebagai cemilan saat bekerja. Banyak orang berlomba-lomba untuk masuk ke salah satu anak perusahaan Corlyn Company, selain karena perusahaan itu telah jaya selama delapan dekade, Corlyn Company juga sangat loyal kepada semua karyawannya. Siapa yang tidak mau bekerja di perusahaan sebesar dan sehebat Corlyn Company. “Azahra?” panggil Pak Soni, Manager Corlyn Footeria, salah satu anak perusahaan Corlyn Company yang bergerak di bidang jasa penyedia makanan cepat saji. Azahra menoleh, wanita itu melemparkan senyumnya menyapa atasannya. “Pak Soni,” sapa Azahra menundukkan kepalanya di depan Pak Soni. Pak Soni melangkahkan kakinya menuju Azahra. “Bagaimana? Sudah kamu share informasi terbarunya untuk proyek kita di Bandung?” tanya Pak Soni kepada Azahra. “Sudah, Pak. Baru saja saya selesai berdiskusi dengan mereka. Syukurlah, sampai sekarang tidak ada kendala yang tampak,” ucap Azahra tersenyum ramah. Rasa bangga kini menyelimuti Pak Soni, sejak awal lelaki itu telah mempunyai firasat bahwa Azahra adalah bibit unggul di antara para karyawan baru Corlyn Footeria. Tidak menunggu waktu lebih lama, Pak Soni mendapuk Azahra sebagai supervisor dalam proyek baru perusahaan tahun ini. Siapa sangka, proyek baru mereka berjalan lancar hingga saat ini. “Kerja bagus, pertahankan kinerjamu, dan tetap semangat,” ucap Pak Soni tersenyum bangga. “Tentu saja atas dukungan Bapak,” jawab Azahra tetap rendah diri di depan managernya. “Ya sudah, ini masuk jam makan siang. Bapak duluan.” Azahra tersenyum menatap Pak Soni berlalu meninggalkan dirinya di sana. Getar ponsel Azahra membuat wanita itu menunduk, menatap layar ponsel yang kini berkedip menampilkan satu panggilan masuk. Mas Devan calling … Nama Devan tertera di layar ponsel wanita itu. Tanpa membuang waktu lama, Azahra menggeser tombol hijau di layar ponselnya. “Hallo, Mas Devan?” “Sayang, kamu sudah makan siang?” tanya Devan di seberang sana. “Belum, Mas. Ini Azahra mau ke kantin. Ada apa?” tanya Azahra balik. “Mau makan siang bersama dengan, Mas? Kita makan di dekat kantormu saja,” ucap Devan. Azahra mengulum senyumnya. “Memangnya mas belum makan siang?” “Van, ini tepaknya aku bawa pulang deh biar biniku yang cuci.” Suara Mas Arip membuat Azahra menutup mulutnya agar tidak tertawa, sepertinya Devan baru saja makan siang bersama dengan para pegawainya di studio. “Hah? Apa Sayang?” ujar Devan menekan kata sayang memberi kode kepada Mas Arip untuk tidak mengganggunya dulu. “Sepertinya Mas Devan sudah makan siang dengan teman-teman di sana,” ucap Azahra. “Belum kok, Mas Devan belum makan siang,” jawab Devan dengan cepat. “Ih, Mas Devan kok rakus,” ucap seorang wanita yang Azahra tahu benar siapa, dia adalah Cantika, salah satu tim editor Devan. “Gue sikat juga elu!” kesal Devan melempar bantal sofa studionya kepada Cantika. Azahra terkikik geli mendengarkan suara Devan yang kini sangat kesal dengan para pegawainya. Lelaki itu memang tidak pernah meminta para pegawainya untuk memanggilnya bos ataupun pemilik studio. Mereka sangat dekat satu sama lain, sudah seperti keluarga. “Maaf, Sayang, tadi ada iklan sedikit,” kekeh Devan membuat Azahra menggelengkan kepalanya. “Iya, bagaimana Mas? Ada perlu apa?” tanya Azahra berpura-pura tidak mengerti dengan kode pertanyaan kekasihnya. “Loh, memangnya menelpon calon istri Mas itu harus ada perlu?” sahut Devan berlagak kaget. “Bukan begitu Mas, maksud Azahra Mas mau ajak Azahra makan siang bersama?” ucap Azahra menebak. Devan mengangguk di sana. “Iya, kamu mulai peka dengan ucapan Mas. Kalau begini kan, Mas makin cinta sama kamu.” “Halah gombal, ya sudah Azahra tunggu ya Mas. Jangan lama-lama,” ucap Azahra. “Kamu duluan saja, pesan makanan dulu. Mas makan seperti biasanya saja, tapi ayamnya satu.” Tawa Azahra sontak saja meledak mendengar ucapan dari Devan. Lelaki itu memang punya menu favorit jika makan di depan kantor tempat Azahra bekerja. Nasi dengan dua ayam spicy sebagai idolanya. “Iya, Azahra tahu.” “Apa? Kamu mencintaiku? Kalau itu Mas sudah tahu Sayang,” goda Devan membuat wajah Azahra memerah di tempatnya. Azahra menutup panggilan telepon mereka berdua, wanita itu tersenyum ketika layar ponselnya menampilkan wallpaper foto dirinya dengan Devan saat berlibur di Bali tiga bulan yang lalu. Diusapnya lembut layar ponsel miliknya, wanita itu berdoa di dalam hati semoga cintanya dan Devan akan tetap terjaga sampai akhir hayatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN