Dentingan suara piring dan sendok memenuhi ruang makan dari rumah keluarga Devan. Seperti biasa, mereka makan bersama setiap sarapan dan makan malam. Siska, selaku nyonya rumah memasak sendiri makanan apa yang akan tersaji di atas meja ruang makan keluarganya. Meskipun mereka telah memperkerjakan satu asisten rumah tangga, tapi menurut Siska dirinya tidak puas jika tidak memasak sendiri.
Siska baru akan memasrahkan urusan memasak jika dirinya ada urusan mendadak yang kiranya tidak bisa menyempatkan waktu memasak lebih dulu.
Lihatlah, betapa pandainya Siska memasak. Banyak sekali ragam lauk pauk dan sayur yang tersaji di atas meja pagi hari ini.
“Wuah, Mama masak banyak hari ini,” ucap Devan ketika baru bergabung dengan keluarganya yang lain untuk sarapan.
“Iya, Devan. Di kulkas banyak sekali ikan yang sampai membeku, sayang kalau tidak segera dimasak. Kita kan bisa bagikan juga ke tetangga dan pegawai kamu di studio untuk makan siang,” jawab Siska tersenyum.
Begitulah Siska, wanita paruh baya itu sangat baik, rendah hati, dan juga ringan tangan untuk membantu sesamanya yang kesusahan maupun berbagi hal-hal kecil seperti makanan kepada orang lain. Siska sudah menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya dan Devan.
“Nanti satu kotak ini kasih sama Arip dan yang lainnya, kalian bisa makan siang bersama di studio,” kata Siska menunjuk kotak makan berwarna orange kepada Devan.
“Hadeuh, Mama ini kebiasaan kayak Devan masih anak sekolah saja dikasih bekal makan siang. David saja enggak pernah mau bawa bekal,” cibir Devan menatap adik lelakinya.
David menatap Devan, siswa kelas dua belas itu memutar bola matanya jengah mendengar penuturan kakaknya.
“David kan nggak suka makan siang, Kakak,” jawab David sambari memasukkan potongan sosis ke dalam mulutnya.
Devan mengacak rambut adiknya dengan gemas. “Iye-iye, bad boy!” ejek Devan membuat orang tuanya ikut terkekeh.
Mereka kembali melanjutkan sarapan dengan tenang, beberapa kali Imam Rewangga bertanya kepada anak-anaknya apa yang mereka butuhkan. Bagi Imam, dia mencari harta untuk keluarga dan untuk kaum fakir yang memiliki bagian atas hartanya.
“Papa, Mama. Bisakah kita setelah ini berbicara?” tanya Devan kepada orang tuanya.
Imam dan Siska menatap putra sulungnya dengan kening berkerut. Tumben-tumbenan sekali Devan bersikap serius di depan mereka.
“Ada apa, Devan?” tanya Imam Rewangga menatap putranya dengan tidak kalah seriusnya.
“Devan ingin membicarakan hubungan Devan dengan Azahra, Pa.”
Imam Rewangga mengangguk mengerti, sedangkan Siska mengulum senyumnya, seakan bisa menebak apa yang akan Devan bicarakan dengan mereka.
“David berangkat sekolah dulu,” ucap David berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Devan.
“Hati-hati, David. Jangan ngebut,” peringat Siska mewanti-wanti putra bungsunya.
David hanya mengacungkan jari jempolnya menjawab ucapan dari sang mama. Lelaki itu langsung hilang dari penglihatan keluarganya disusul suara motor Kawasaki KLX 230 miliknya.
“Ck, dasar anak itu. Sudah diperingati jangan ngebut juga,” cibir Imam Rewangga menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku David yang sangat berbalik dengan Devan.
Memang karakter setiap anak mereka berbeda, jika Devan terlihat adem ayem saja, maka David tipikal anak yang suka berbuat onar. Entah sudah berapa kali Imam maupun Siska dipanggil guru BK karena kenakalan David.
“Bagaimana Devan, apa yang ingin kamu bicarakan tentang hubunganmu dan Azahra?” tanya Imam sambil mengusap mulutnya dengan tissue.
“Begini, Pa. Kan, Devan sama Azahra sudah lama berpacaran. Kami mau membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius,” jelas Devan.
“Maksudnya, kamu mau menikah dengan Azahra?” tanya Siska meluruskan.
Devan mengangguk mengiyakan ucapan sang mama. “Umur kami sudah matang, masalah ekonomi rasanya Devan sudah cukup mampu untuk menghidupi Azahra. Devan mau minta tolong ke Papa dan Mama untuk melamar Azahra di depan keluarganya,” jawab Devan mengutarakan niatnya.
Imam Rewangga dan Siska tersenyum lembut. Tidak ada alasan untuk mereka menolak niat baik dari putra sulungnya. Jika memang itu hal baik, kenapa juga Imam dan Siska harus menolak? Lagi pula hubungan Devan dan Azahra sudah lama terjalin. Pernikahan mereka berdua juga impian bagi Imam dan Siska.
“Kalau begitu nanti Mama akan hubungi mamanya Azahra, kita atur hari yang tepat untuk datang ke sana,” jawab Siska tersenyum.
“Itu niat yang sangat mulia, Devan. Papa dan Mama pasti akan mendukungmu, Nak.”
Devan merasa beruntung lahir di tengah-tengah keluarga Rewangga yang begitu hangat dan harmonis. Semua masalah mereka selesaikan dengan baik-baik, rasanya tidak pernah terdengar pertengkaran di dalam rumah mereka. Sangat nyaman dan pantas untuk disebut sebagai rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB, Devan segera berpamitan dengan kedua orang tuanya. Devan telah berjanji untuk menjemput Azahra pagi ini.
Siska dengan semangat langsung mengambil ponselnya. Ibu dari dua anak itu merekahkan senyumnya mencari kontak dari Aisyah, ibu dari Azahra. Suara nada tersambung semakin membuat Siska berbinar bahagia.
“Hallo, Mbak?” sapa seseorang di sana.
“Hallo, Aisyah,” ucap Siska dengan nada yang kentara sekali akan kebahagiaan.
“Iya ini Aisyah, Mbak. Ada yang bisa Aisyah bantu?” tanya Aisyah.
“Begini, kamu sudah diberi tahu sama Azahra belum?”
Kening Aisyah mengkerut. “Diberi tahu apa? Azahra tidak bilang apa-apa sama Ai, Mbak.”
“Wah kamu ini ketinggalan kereta, Ai. Dengarkan Mbak, ya. Anak-anak kita mau membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Sekarang, Mbak dan Mas Imam berencana mau datang silahturahmi ke rumah kalian akhir pekan ini. Apakah Ai dan Agus tidak keberatan?” tanya Siska kepada Aisyah.
Aisyah menggeleng di sana. “Tentu saja kami tidak keberatan, Mbak Siska. Kami justru senang mendengar kabar membahagiakan ini. Nanti biar Ai yang bicara sama Mas Agus.”
“Terimakasih, Ai. Jangan lupa siapkan jamuan yang enak ya untuk kami,” ucap Siska sambari terkekeh renyah, begitu pula dengan Aisyah yang sudah sangat dekat dengan keluarga dari Devan.
Kabar bahagia itu tentu saja membuat Aisyah mencari sosok Azahra yang tadi pamit masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas sebelum putri tunggalnya dijemput oleh sang kekasih.
“Azahra, benar yang dikatakan mamanya Nak Devan? Kalian berencana menikah?” tanya Aisyah dengan antusias membuka kamar Azahra.
Azahra menoleh ke arah pintu. Di sana mamanya berdiri dengan pandangan mata berbinar bahagia. Azahra mengangguk dan tersenyum, pertanda bahwa apa yang telah mamanya dengar itu benar adanya.
“Iya, Ma. Mas Devan tadi malam mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Azahra. Ini juga kan keinginan Azahra sejak dulu. Saat banyak pasangan yang telah menjalin hubungan lama namun kandas di tengah jalan, Mas Devan dengan kesungguhannya meminta Azahra menjadi istrinya.”
Aisyah duduk di tepi ranjang Azahra, menatap putri tunggalnya yang kini tengah menyisir rambut panjangnya sepunggung. Rambut indah yang memang menurun dari keluarga Aisyah.
“Kalau Azahra senang, Mama dan Papa juga senang. Memang benar apa kata Zahra, jodoh tidak ada yang tahu. Kadang bertemu sebentar, saling cocok, terus menikah juga banyak. Dan, yang pacaran lama kayak kamu dan Devan akhirnya putus juga tidak sedikit. Mama juga yakin, kalau Nak Devan itu lelaki yang cocok untuk mendampingi Azahra. Insyaallah, niat baik pasti akan dilancarkan oleh Allah,” jelas Aisyah kepada putrinya.
“Mama nanti yang bilang sama Papa, ya? Azahra malu membahas pernikahan sama Papa,” ucap Azahra.
Azahra memang tipe anak yang pemalu, dia jarang bercerita dengan papanya masalah hubungannya dengan Devan. Agus seorang guru PNS sekaligus wakil kepala sekolah yang mendapatkan tempat kerja lumayan jauh jarak tempuhnya dari rumah mereka. Setiap Azahra bangun tidur, pasti papanya sudah berangkat ke sekolah. Hanya malam hari saja mereka bisa menyapa.
“Nanti siang Mama akan beritahu papamu,” jawab Aisyah tersenyum.
Suara klakson mobil dari luar rumah Azahra membuat kedua wanita yang tengah berbincang di dalam kamar langsung berhamburan keluar. Bisa mereka tebak jika yang mengklakson mobil adalah Devan, sebagai sinyal bahwa lelaki itu telah sampai sampai.
“Kalian berangkat bersama?” tanya Aisyah dijawab anggukan dari Azahra, matanya nampak bahagia.
Melihat Azahra dan Aisyah keluar dari rumah, Devan segera membuka pintu mobilnya, menghampiri kedua wanita berbeda generasi di sana.
“Pagi, Tante,” sapa Devan kepada Aisyah.
Lelaki itu mencium tangan Aisyah dengan sopannya, Aisyah tersenyum melihat Devan.
“Pagi, Nak Devan. Melihatmu di pagi hari pasti seharian ini hari terasa lebih indah. Bukan begitu, Zahra?”
Azahra mendengus, mamanya memang jago sekali merecoki dirinya.
“Ish Mama, udah deh Azahra langsung berangkat sekarang,” pamit Azahra mencium tangan mamanya.
Kekehan keluar dari mulut Aisyah. “Devan pamit dulu, Tante.”
“Iya Devan, hati-hati di jalan,” jawab Aisyah tersenyum.
Devan membukakan pintu untuk Azahra, setelah itu Devan berlari kecil memasuki mobil di bagian kursi kemudi. Lelaki itu mengklakson sekali menyapa Aisyah sebelum melajukan mobilnya membelah jalanan.
“Bagaimana pagi harimu?” tanya Devan menoleh ke arah Azahra. “Tentu saja baik, kan kamu melihat lelaki setampan diriku di pagi hari,” kekeh Devan dengan percaya dirinya.
Hanya dengusan yang keluar dari mulut Azahra. Sudah terbiasa mendengarkan ucapan percaya diri dari kekasihnya. Ibaratnya, Azahra sudah kebal.
“Tentu saja baik, kan aku melihat lelaki setampan dirimu di pagi hari,” ucap Azahra mengikuti ucapan Devan.
Devan mengacak rambut Azahra, pagi hari Devan juga sangat baik dan membahagiakan karena melihat Azahra sepagi ini.
“Aku tidak sabar melihat wajahmu sebelum tidur dan sebangun tidur, aku menantikan hari itu segera tiba,” ucap Devan.
“Mamamu tadi menghubungi mamaku, akhir pekan ini mereka akan datang ke rumahku,” jelas Azahra.
“Mama mertuamu?” tanya Devan tersenyum.
“Iya-iya, mama mertuaku, Puas kamu?”
Devan menggeleng. “Belum puas, sih.”
Cup. Devan mencium pipi Azahra, membuat wanita itu melebarkan matanya.
“Kamu menciumku?” omel Azahra dengan matanya melebar sempurna.
“Morning kiss.”
Cubitan tangan Azahra langsung mendarat syantik di pinggang Devan sampai lelaki itu terpekik kecil.
“Aw … aw, maafkan aku. Ampun, aku hanya latihan saja sebelum kita menikah,” ucap Devan mengaduh kesakitan.