41. Kesalahan Kedua 41

1735 Kata
Sore ini, Angga sengaja datang ke kantor Alena, untuk mengetahui kemana sebenarnya Alena pergi setelah pulang kerja. Ia sengaja mencari tempat parkir yang tersembunyi, agar adiknya itu tidak mengetahui keberadaannya. Setelah menunggu agak lama, akhirnya ia melihat Alena keluar dari gedung perkantoran itu. Alena berjalan menunju ke sebuah mobil berwarna putih yang terparkir diluar gedung dan jaraknya agak jauh dari gedung. Sebelum ia masuk ke dalamnya, ia melihat sekelilingnya, ia takut jika ada yang mengetahui kalau dirinya pulang bersama Alvin. Angga yang sudah sangat penasaran akhirnya mengikuti mobil itu. Mobil Alvin menuju ke sebuah tempat makan di pusat kota, Ia mampir ke warung bakso langganannya yang memang terkenal enak dan ramai oleh pembeli. Setelah sampai di depan warung bakso itu, ia memarkirkan mobilnya. Alvin keluar dari mobil, dan memutari mobil untuk membukakan pintu Alena. Setelah pintu terbuka, Alena pun keluar, mereka masuk ke dalam warung bakso yang tidak pernah sepi oleh pembeli itu. Mereka berbagi tugas, Alvin bertugas untuk mengantri sedangkan Alena mencari tempat duduk untuk makan. Angga memarkir motornya, ia membuka helm dan melihat sekeliling warung bakso itu. Ia lega ketika melihat mobil Alvin, karena tadi ia sempat kehilangan jejak Alena, saat berhenti di lampu merah. Angga masuk ke dalam warung bakso, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan adiknya itu. Saat menemukannya tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Alena, duduk di kursi depan Alena. Gadis itu terkejut, ia tak menyangka kalau akan bertemu dengan kakaknya di tempat itu. Wajah Alena berubah keheranan, kenapa bisa kebetulan Angga berada di tempat itu? padahal ia tahu benar kalau kakaknya itu tidak seberapa suka bakso. Apalagi beli bakso di tempat yang antriannya panjang seperti itu, pasti ia tidak akan mau. “Mas, ngapain di sini?” tanya Alena dengan mengerutkan dahinya. “Beli bakso lah, emang mau ngapain lagi.” “Ya tau kalau beli bakso, tapi kan nggak biasanya Mas Angga mau bela-belain beli bakso di tempat yang antri seperti ini.” “Suka-suka dong. Mas yang beli kok kamu yang bingung.” Wajah menyebalkan Angga kembali membuat Alena gemas, kalau Angga bukan kakaknya mungkin dari tadi ia udah membungkam mulut laki-laki itu. “Ya udah, iya. Katanya mau beli bakso kenapa malah duduk di sini?” tanya Alena. “Nah kamu sendiri, kok juga malah duduk, nggak pesan sama kayak yang lain?” “Aku udah dipesenin sama temenku. Noh, dia yang pakai kemeja kotak-kotak warana merah.” Jelas Alena sembari menunjuk ke arah Alvin yang sedang mengantri. Sedangkan Alvin sepertinya merasa kalau sedang dibicarakan, buktinya ia langsung menoleh saat Alena menunjuk ke arahnya. Angga ikut menoleh ke arah Alvin, dan ia menjadi tahu laki-laki mana yang sekarang tengah dekat dengan adiknya itu. Sekarang tugasnya adalah mencari tahu siapa sebenarnya Alvin, dan apakah dia adalah laki-laki yang baik buat Alena. “Aku mau ikutan ya, pesen sama temenmu sekalian.” “Hish, iya bentar aku bilangin ke dia dulu.” Ucap Alena memutar mata jengah. Ia bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Alvin. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua, yang jelas Alvin sempat melirik ke arah Angga saat mereka tengah berbicara. Setelang Alvin mengangguk mengerti, Alena kembali ke tempat duduknya. “Udah aku pesenin, Mas.” kata Alena, kembali duduk di kursinya. “Oke, makasih banyak adikku sayang. Tapi btw itu teman apa ya, kok Mas nggak pernah tau?” “Itu temanku kantor, Mas. Tadi sekalian bareng mau pulang.” “Oh gitu, bener ya cuma teman?” “Iya, Mas. Kalau nggak percaya ya udah.” “Oke, aku percaya. Nanti tolong kenalin dia padaku.” Alena menjawab ucapan Angga hanya dengan menganggukkan kepalanya saja, setelah itu mereka kembali diam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, Alvin kembali ke meja mereka dengan membawa tiga buah mangkok bakso ditangannya. Ia membawa bakso itu dnegan menggunakan baki yang telah disediakan di sana. Alvin tersenyum pada Angga, dengan sopan ia memperkenalkan dirinya. “Kenalin nama saya Alvin, Mas.” Ucapa Alvin sembari mengulurkan tangannya ke arah Alvin. “Kenalin juga, Aku Angga, kakak Alena.” Jawab Angga dnegan membalas uluran tangan Alvin. “Iya, Mas. Salam kenal.” “Salam kenal juga. Ayo makan dulu keburu dingin baksonya!” “Iya, silahkan, Mas!” Setelah perkenalan singkat itu, mereka bertiga melanjutkan acara makan malam yang kelihatannya hanya sebuah kebetulan semata. Padahal memang disengaja oleh Angga, agar ia bisa mengenal lebih dekat siapa laki-laki yang dekat dengan adiknya itu. Suasana menjadi canggung, karena kedatangan Angga. Namun tak lama kemudian, Angga mendapatkan telepon dari seseorang. Setelah mendapat telepon itu Angga berpamitan pada mereka berdua untuk pulang duluan, karena masih ada urusan lain. Tak lupa ia berpesan pada Alena agar tidak pulang terlalu malam. **** Semakin lama hubungan Alena dan Alvin semakin dekat. Cinta Alena pada Alvin pun semakin kuat. Perhatian dan kasih sayang Alvin, telah mampu membuat Alena benar-benar jatuh dalam pesona Alvin kembali, dan dengan mudahnya Alena melupakan luka lama yang dibuat oleh kali-laki itu. Apalagi akhir-akhir ini, Alvin sering bercerita pada Alena, jika rumah tangganya dengan Sovia semakin memburuk. Ia mengatakan pada Alena jika ia sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi pada Sovia, karena nyatanya istrinya itu tidak pernah bisa berubah. Ada saja ulah Sovia yang membuat Alvin marah padanya. Tiap hari Sovia tetap pergi bersama dengan teman-temannya, bahkan terkadang ia sampai pulang larut malam. Ia selalu berbohong menjenguk mamanya kalau pulang larut malam. Namun sebenarnya Alvin mengetahui kalau ia berbohong, tapi Alvin berpura-pura menutup mata. Ia tampaknya sudah tidak memperdulikan istrinya itu mau berbuat apa. Alvin sepertinya sudah mulai jengah dengan rumah tangganya. Ia bahkan sering mengajak Alena untuk berlibur. Alena juga tidak menolak dengan ajakan Alvin, karena mereka berdua memang mempunyai perasaan yang sama. Pagi ini mereka berencana untuk pergi ke luar kota, Alvin mengajak Alena pergi ke villa milik keluarganya. Mereka rencananya akan menghabiskan akhir pekan di villa itu. Sebelum Alvin ke sana, ia memberikan libur pada Pak Yono sang penjaga Villa, Alvin beralasan ia akan menggunakan villa itu bersama teman-temannya, jadi ia menyuruh Pak yono untuk pulang kampung. Tanpa rasa curiga laki-laki setengah baya itu, mengikuti perintah anak majikannya. Ia pun pulang ke kampung halamannya selama Alvin berada di sana. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya, mereka pun sampai di villa yang berada di kota malang itu. Seperti biasa Alvin memarkirkan mobilnya di depan rumah. Alena turun dari mobil dan sangat terkejut dengan pemandangan yang indah di sekitar villa itu. Di sekitar Villa di tumbuhi dengan pepohonan hijau dan segar membuat suasananya terlihat asri. Ditambah lagi dengan hawa dingin yang membuat Alena betah berlama-lama di sana. “Kita liburan di sini, Vin?” tanya Alena, yang masih tidak percaya dengan pemandangan yang indah di depannya. “Iya, kita liburan di sini. Kenapa kamu nggak suka, Al?” “Sebaliknya, aku sukaa banget. Ini indah sekali, aku pasti bakalan kerasan berlama-lama tinggal di sini.” “Bener?” tanya Alvin memastikan. “Iya, Vin. Sekali lagi makasih ya.” Uacap Vania dnegan wajahnya yang terlihat sangat bahagia. “Aku akan selalu membuatmu bahagia, Al. gimanapun caranya.” Mendengar kata-kata Alvin, Alena menjadi terharu kemudian ia memeluk laki-laki di depannya itu. Alvin membalas pelukan Alena dan memberikan kecupan di puncak kepalanya. “Makasih buat semuanya.” Gumam Alena seraya berbisik di telinga Alvin. “Iya sama-sama, Al. Ayo sekarang kita masuk ya, diluar dingin!” ajak Alvin. “Ayo.” Mereka berdua masuk dengan membawa barang-barang yang sudah disiapkan dari rumah. Di dalam villa itu ada tiga kamar. Kamar yang biasa ditempati oleh Alvin dan ada dua kamar tamu. Alvin sudah menyuruh Pak Yono untuk mempersiapkan kamar untuk tamu. Jadi saat Alena menempatinya, kamar itu sudah dalam keadaan bersih dan rapi. Alena masuk ke dalam kamarnya, yang kebetulan juga bersebelahan dengan kamar Alvin. Ia menata semua barang-barang bawaaannya, kemudian ia bergegas untuk mandi. Malam harinya Alena memasak untuk makan malam. Pak Yono sudah mempersiapkan semua bahan-bahan makanan di dalam kulkas, sebelum ia pulang kampung, jadi mereka tinggal memasaknya saja. Malam ini Alena memasak nasi goreng spesial dengan telor mata sapi di atasnya. Bau masakan yang sangat lezat dan menggugah selera membuat Alvin pergi ke dapur untuk melihatnya. Saat akan masuk ke dapur, ia melihat Alena berdiri membelakanginya dengan tangannya yang sibuk memegang alat penggorengan. Entah kenapa Alvin sangat senang melihat Alena dalam keadaan seperti itu. Ia menghampiri Alena dengan perlahan, ia memeluk tubuh Alena dari belakang. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Alena terkejut dan menghentikan aktifitasnya. Alvin membayangkan andaikan ia menikah dengan Alena, pasti ia dapat melakukan hal seperti ini setiap pagi hari, sugguh sangat romantis sekali pikirnya. Pasti sangat menyenangkan bukan? Alvin mengecup rambut Alena dengan penuh kasih sayang. Ada satu kebanggan tersendiri di hati Alvin bisa bersama dengan Alena sekarang. Ia adalah seorang gadis yang baik, sabar, pengertian dan sangat menyanyangi Alvin. Pelan-pelah Alvin membalikkan tubuh Alena menghadap ke arahnya, Ia menatap mata Alena lekat-lekat, ia menyelipkan anak rambut di wajah Alena yang menutupi pemandangan wajah cantiknya itu. Alvin perlahan memberikan kecupan manis di kening Alena. Gadis itu merasakan kehangatan dari bibir Alvin saat menyentuh keningnya, sangat lembut. Membuat hatinya semakin bergetar aneh. Kecupan itu perlahan turun ke bibirnya. Alvin memegang tengkuk leher Alena dan melakuka cium4n itu dengan lembut dan perlahan. Alena memejamkan matanya menikm4ti aroma mint yang tercium dari bibir laki-laki itu. Perlahan Alvin menyentuh rambut bagian belakang leher Alena, sehingga membuat gadis itu semakin tenggelam dalam permainan itu. Tanpa sadar sekarang mereka berdua sudah berada di atas sofa dapur. Tak berhenti sampai di situ, Alvin mulai memainkan tangannya menyentuh area sensitiff gadis itu. Belum sempat itu terjadi, Alena langsung tersadar dan memegang tangan Alvin, pertanda ia ingin mengakhiri semua ini. Alvin mengerti dan perlahan melepaskan bibirnya dari Alena. Perlahan ia membetulkan posisi duduknya. Begitu juga dengan Alena, ia membetulkan kancing bajunya yang ternyata secara tidak sadar sudah terlepas dua buah di bagian atas. Alvin menarik nafas berat, terdengar ada sesuatu yang tertahan. Ia menoleh ke arah Alena dan memegang kedua tangan gadis itu. “Maafkan aku, AL. Aku hampir saja melakukan hal yang nggak seharusnya di lakukan.” Pinta Alvin dengan wajahnya yang penuh dnegan penyesalan. “Iya, nggak apa-apa, Vin. Aku mengerti.” Jawab Alena sembari tersenyum ke arah Alvin. “Al, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. “ Ucap Alvin sembari menyelipkan anak rambut di telinga Alena. “Iya,katakan saja, Vin.” “Al ... Maukah kamu menikah dneganku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak?” tanya Alvin perlahan dengan suara yang pelan, tapi cukup membuat jantung Alena berdebar dengan kencang. Degh,...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN