42 Kesalahan Kedua 42

1735 Kata
PART 42 Alena terdiam mendengar pertanyaan Alvin. Ia serasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat itu. Mungkin jika Alvin mengucapkan pertanyaan itu saat dirinya masih berpacaran dengan Alena, pasti Alena tidak akan sebimbang sekarang. Alena akan langsung menjawab iya tanpa harus berpikir panjang. Masalahnya sekarang Alvin masih terikat pernikahan dengan Sovia. Ia tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Memang Alena mencintai Alvin, tapi ia tidak akan pernah mau menikah dengan orang yang sudah beristri. Ia mau menikah dengan Alvin jika laki-laki itu sudah tidak terikat pernikahan dengan siapapun. “Maaf, Vin. Aku nggak bisa.” Tolak Alena dengan tegas. Tubuh Alvin seketika melemas mendengar jawaban Alena. “Tapi, Al. Aku memang benar-benar menginginkanmu menjadi istriku.” Ucap Alvin dengan suara sendu. Ia menghadap ke arah Alena. Menangkup kedua pipinya, dan menatap kedua mata Alena dengan dalam. Seolah ingin menunjukkan kalau dirinya merasa terluka dengan penolakan Alena. Sementara itu Alena menundukkan kepalanya, ia terdiam sejenak tanpa mampu berkata apapun. Ia bingung harus berkata apa lagi pada Alvin. Di satu sisi ia memang sangat mencintai Alvin, di sisi lain ia tidak mau merusak kebahagiaan orang lain. “Al, kamu nggak cinta aku? berarti pikiranku selama ini salah tentang perasaanmu padaku?” Ucap Alvin dengan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. “Bukan, Vin. Maksudku nggak gitu. Aku emang cinta kamu, tapi aku nggak mau menikah denganmu, kalau kamu masih terikat pernikahan dengan Sovia. Kalian masih suami istri, Vin. Tolong sadari itu.” Kata Alena. “Aku kan udah jelasin ke kamu berkali-kali, kalau rumah tanggaku dengan Sovia lagi nggak baik-baik saja. Aku udah nggak betah dengannya. Aku hanya ingin hidup denganmu saja, Al.” Kata Alvin seraya menatap ke arah Alena. Gadis itu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alvin, memang benar ia berkali-kali menceritakan pada Alena, perihal rumah tangganya yang lagi dalam masalah itu. Namun tampaknya Alena masih ragu. Bukan ragu dengan perasaannya, melainkan ia ragu apakah Alvin benar-benar akan meninggalkan Sovia, seperti yang ia katakan pada Alena. “Kalau masalahmu udah selesai dengan Sovia, aku akan menikah denganmu.” Jawab Alena singkat sembari menundukkan kepalanya. Alvin menarik nafas dalam, tampaknya ia belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Alena. Ia ingin jawaban yang lebih dari itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tapi ia tidak mau memaksa Alena untuk mengikuti kemauannya. Ia tidak ingin Alena pergi darinya, makanya untuk hari ini cukup sampai disini pembahasan tentang masalah ini. “Tolong kamu pikirin lagi ya, Al. Aku mau menikah denganmu secepatnya tanpa menunggu aku berpisah dengan Sovia, karena aku nggak mau kehilangan kamu, bahkan aku nggak mau kamu dimiliki oleh orang lain selain aku.” Kata Alvin panjang lebar, seakan ia masih mau mendengar Alena menjawab iya tentang pertanyaannya itu. “Maksudmu ... ?” “Maksudku sementara kita nikah siri dulu, Al. Setelah aku urus perceraianku dengan Sovia, aku akan menikahimu dengan sah di mata hukum dan agama.” Ujar Alvin dengan sangat yakin. “Aku nggak mau kehilanganmu, Al.” Tambahnya. Ia memegang kedua tangan Alena, menatap lekat matanya. Ia berusaha meyakinkan Alena dengan keseriusannya. Namun Alena tampaknya masih ragu-ragu dengan perasaannya sendiri. Nikah siri? Ia tidak bisa membayangkan saat kedua orang tuanya dan kakaknya mendengar hal itu, pasti tanpa berpikir panjang mereka akan menolaknya. Apalagi nikah siri karena Alvin masih laki-laki yang beristri. Alena terdiam sejenak, kepalanya mendadak penuh memikirkan tentang semua kata-kata Alvin. Bagaimana bisa laki-laki itu punya pikiran untuk menikahinya secara siri? Lalu kalau Alena menerimanya dan tiba-tiba Sovia tidak mau diceraikan, bagimana nasibnya nanti. Tidak, ia tak mau mengambil resiko itu. Ia mau menikah dengan normal dan dengan laki-laki yang tidak ada ikatan pernikahan dengan siapapun. “Aku kasih kamu waktu, Al. kamu pasti ingin berpikir dulu kan? tolong pikirkan baik-baik ya, Al. Aku sayang kamu.” Ucapnya seraya memberikan kecupan pada kening Alena. Ia bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke kamar. Sedangkan Alena masih tenggelam dalam kebingungannya sendiri. Tetap dengan pikiran yang sama, di satu sisi ia sangat mencintai Alvin, dan di sisi lain ia tidak mau merebut suami orang lain. Itulah yang ada dipikirannya saat ini. Malam harinya, Alena duduk di depan Villa. Ia memandang ke atas langit gelap yang ditaburi dengan bintang-bintang. Sungguh sangat indah kelihatannya, saat itu tiba-tiba ia terkejut karena ada tangan seorang laki-laki yang telah memeluknya dari belakang. Ia dapat merasakan itu tangan siapa, entah kenapa saat Alena dekat dengan laki-laki itu, perasaannya merasa tenang dan nyaman. Pelukan tangannya yang kekar itu membuatnya merasa aman dan merasa dilindungi. Pikirannya goyah, apakah ia memang harus menerima tawaran Alvin untuk menikah siri, tapi kalaupun menolak apakah ia akan punya kesempatan lagi untuk menikah dengan Alvin, laki-laki yang sangat dicintainya itu? dalam kebimbangannya ada suara di telingannya yang benar-benar sangat menenangkan hatinya. “Aku akan selalu membahagiakanmu sampai kapanpun, aku juga akan selalu menjagamu sampai aku nggak ada dunia ini lagi.” gumamnya sangat lirih, tapi terdengar jeas di telinga Alena. Alena merasa terharu dengan kata-kata itu, di telinganya kata-kata itu terdengar sangat manis dan sungguh membuat Alena merasa sangat dicintai sebagai seorang wanita. Perasaan inilah yang sangat ia rindukan dan perasan inilah yang selama ini sangat ia inginkan. Ia menarik kedua tangan laki-laki dibelakangnya itu, menariknya kedepan seolah memberi syarat, tolong jangan lepaskan aku lagi sampai kapanpun juga. Sekarang ia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikannya pada Alvin besok pagi. Ia sudah yakin akan melakukannya, karena ini adalah kehidupannya sendiri. Ia merasa berhak bahagia dan tak ada seorangpun yang dapat menghalangi kebahagiannya itu. Ia merasa yakin pada dirinya sendiri semua akan baik-baik saja, dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dari awal. Selain itu ia siap menerima resikonya, jika memang benar-benar ada kejadian buruk yang akan terjadi. Keesokan harinya, Alena sengaja berdandan dengan sangat cantik, Ia memakai dress floral dengan warna pink yang kalem. Tak lupa ia mengoleskan lipstik warna orange di bibir tipisnya. Pagi-pagi sekali, gadis itu sudah menyiapkan sarapan di meja, dua piring nasi goreng demgan telor mata sapi di atasnya menjadi menu sarapannya pagi ini. Selain bakso, nasi goreng adalah makanan favorite Alvin, dan ia sangat hafal tentang hal itu. Sebenarnya ia tak ada niatan untuk memasak pagi ini, karena Alvin mengatakan kalau ia akan mengajak Alena sarapan di luar, makanya ia melarang Alena untuk memasak hari ini. Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia bergegas ke kamar Avin untuk membangunkannya. “Tok ... Tok ... Tok ....” Sura ketukan pintu dari luar, seketika membuyarkan mimpi indahnya. Ia perlahan bangun dari tempat tidurnya dengan mata yang tertutup separuh. Ia masih setengah sadar ketika membuka pintu kamarnya dan melihat seorang gadis yang terlihat sangat cantik dengan dress floral di atas lututnya. “Selamat pagi, Vin. Mandi dulu gih, setelah ini kita sarapan.” Ucap Alena seraya tersenyum manis di depan Alvin. Ia membalas senyuman gadis di depannya itu, dan hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. “Kamu sangat cantik hari ini, Al.” Ujar Alvin seraya menghampiri gadis itu dan ingin mengecup keningnya, tapi dengan sigap Alena menghindari dan berlari ke meja makan. “Mandi sana, biar nggak jorok!” teriaknya dengan tertawa mengejek. Sementara Alvin hanya bisa tersenyu0m melihat tingkah laku Alena, kemudian kembali masuk ke kamarnya untuk mandi. Beberapa saat kemudian setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Alvin menghampiri Alena yang sudah siap di meja makan. Alvin mencuri kecupan di kening Alena. Gadis itu berteriak manja tapi sebenarnya ia juga menyukai perlakuan Alvin padanya. Mereka menikmati sarapan yang sangat sederhana itu dengan penuh kebahagiaan. Di sela-sela sarapan paginya Alena mengatakan sesuatu pada Alvin. “Vin, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu.” Ucapnya, sembari diam sebentar dari aktivitasnya. “Iya katakan saja, Al. Aku akan mendengarkanya.” Jawab Alvin dengan tetap mengunyah nasi goreng yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. “Vin, apakah tawaran untuk menjadi istrimu masih berlaku?” tanyannya dengan polos. “Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ....” Alvin terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Alena. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Saking kagetnya, ia sampai menyuruh Alena untuk mengulang pertanyaannya sekali lagi. “Coba kamu ulangi lagi pertanyaanmu itu, Al. Aku nggak denger tadi!” suruh Alvin dengan wajah yang masih tidak percaya. “Apakah tawaran untuk menjadi istrimu masih berlaku?” tanya Alena mengulangi lagi pertanyannya. Alvin berdiri dari tempat duduknya, ia perlahan berjalan menghampiri Alena. Alvin membangunkan Alena dari tempat duduknya, kemudian ia memeluk erat tubuh Alena dengan kebahagiaan yang terlihat jelas di wajahnya. “Kita akan menikah secepatnya dan aku akan membahagiakanmu untuk selamanya.” Ucap Alvin dengan lembut di telinga Alena, membuat gadis itu sangat terharu dan buliran air mata tak terasa terjatuh di pipinya. Iya, inilah yang sebenarnya yang dari dulu ia inginkan, menikah dengan Alvin. Menikah dengan laki-laki yang selama ini selalu ada di dalam hatinya, yang nyatanya tak pernah tergantikan oleh siapapun. Alvin menatap wajah Alena, dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. **** Akhirnya liburan di Villa itu berakhir dengan indah, mereka sepakat akan meminta restu pada kedua orang tua Alena, untuk melangsungkan pernikahan itu. Tak lupa juga ia akan meminta restu pada kakaknya, Angga. Rencananya awal minggu ini mereka berdua akan pergi ke kempung halaman Alena untuk meminta restu pada kedua orang tua Alena. Mungkin ini adalah hal yang paling menakutkan karena mereka bisa menebak, bagaimana respon kedua orang tua Alena jika tau anak mereka akan menikah siri dengan laki-laki yang sudah beristri. Kedua orang tuanya pasti akan marah besar. Namun mau tidak mau mereka harus melakukannya agar bisa melangsungkan pernikahan itu, karena butuh seorang wali untuk menikahkan mereka berdua. Renacana pertama mereka akan mencoba bertemu dengan Angga, untuk menceritakan perihal pernikahan itu. Alena sangat berharap kakaknya itu akan menyetujui rencananya. Malam hari di sebuah rumah makan di tengah kota, Alena, Alvin dan Angga duduk dengan santai setelah menghabiskan makan malam mereka. Entah kenapa Alena merasa takut untuk memulai pembicaraan ini, lidahnya terasa kelu dan badannya seakan membeku di tempatnya. Sementara itu Alvin terlihat gelisah, ia bingung bagaimana harus memulainya. Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain. Alena terlihat menyenggol bahu Alvin, memberi tanda pada Alvin untuk memulainya duluan. “Em-Mas, tujuanku mengajak Mas Angga kesini, sebenarnya ada sesuatu yang mau aku bicarain.” Ucap Alvin dengan gagu. Seketika itu Angga menatap kearahnya dengan tatapan yang tajam dan penuh dengan rasa penasaran. “Mau ngomong apa, ngomong aja, aku dengerin.” Jawab Angga dengan mengernyitkan dahinya. “Mas, kami rencananya akan menikah.” Ucap Alvin dengan wajah yang penuh keyakinan. “Apaaaa???” teriak Angga karena terkejut dengan kata-kata Alvin. Matanya menatap Alvin dengan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN