46. Kesalahan Kedua 46

1476 Kata
“Ibu yang bilang, Vin. Tadi setelah kamu pulang dari rumah, Ibu telepon aku katanya udah 3 hari ini kamu ke rumahku terus? kenapa kamu nggak bilang ke aku? aku kan bisa bantuin kamu, Vin.” Ucap Alena dengan nada kesal. “Em,iya maafkan aku, Al. Aku nggak ada tujuan apa-apa, aku cuma ingin ngeyakinin kedua orang tuamu agar mau menerima aku.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Alvin semakin menggigil. Suaranya terdengar di telinga Alena, dan ia pun bertanya pada Alvin. “Suaramu kenapa? kamu sakit?” tanya Alena di seberang sana. “Aku nggak apa-apa kok, Al.” Elak Avin. “Aku nggak percaya, ayolah jujur aja kamu kenapa?” “Ba ... Badanku menggigil, Al.” “APA?” suara Alena terdengar berteriak di telepon. “Jangan teriak, telingaku sakit.” “Eh iya, maaf aku lupa kalau aku lagi ngomong di telepon. Kamu pasti sakit karena kehujanan tadi kan? kamu itu emang aneh-aneh kok, ya udah sekarang minum obat dulu!” “Aku nggak ada persediaan obat di rumah, Al.” “Aduh gimana nih, coba aku minta tolong sama ibu aja.” “Jangan, Al. Aku nggak mau ngrepotin orang tuamu.” “Nggak usah nolak! kamu nginep dimana ini sekarang?” “Em, Nggak usah, Al.” “Kalau kamu tetep ngeyel, aku nggak bakal angkat teleponmu lagi.” “Jalan Sri Ratu no 39A, itu alamatku.” Setelah mendengar jawaban Alvin, Alena langsung menutup teleponnya. Kemudian Alena menghubungi ibunya. Menceritakan kalau saat ini Alvin sedang sakit, badannya menggigil dan demam, mungkin habis kehujanan sepulang dari rumahnya tadi siang. Mendengar hal itu, Bu Dewi menjadi khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan Alvin, karena itu Bu Dewi memutuskan untuk pergi ke rumah Alvin. Awalnya Pak Pramono tidak mau mengantarkan, tapi karena Alena memohon-mohon sambil menangis di telepon, akhirnya hatinya luluh juga. Orang tua Alena sudah sampai di depan penginapan Alvin, dan saat sampai Alena menghubunginya. Setelah mendapat telepon dari Alena, Alvin bergegas pergi ke pintu depan untuk menemui orang tua Alena. Tubuhnya terasa lemas, tapi ia berusaha untuk berjalan dengan sekuat tenanga. Ia membuka pintu dan di balik pintu rumah, sudah berdiri Pak Pramono dan Bu Dewi. Alvin memberikan salam pada mereka berdua dengan mencium tangannya. Alangkah terkejutnya mereka, karena tangan Alvin terasa panas. Wajah Alvin juga kelihatan pucat dan bibirnya terlihat membiru. Mereka tetap diam terpaku di depan pintu dengan memandang wajah laki-laki itu. Alvin mempersilahkan mereka masuk dan duduk di dalam ruang tamu, yang memang diperuntukkan bagi tamu di penginapan itu. Namun mereka berdua menolak dengan alasan hari sudah malam dan akan mengganggu jam istirahat Alvin kalau terlalu lama di sana. Setelah menyerahkan sekotak obat, mereka pun berpamitan untuk pulang. Alvin mengucapkan terimakasih pada kedua orang tua Alena, dan memohon maaf karena harus bersusah payah mengantarkan obat itu padanya. **** Keesokan harinya, di meja makan saat akan sarapan pagi, Bu Dewi berbincang-bincang dengan Pak Pramono, mereka sedang membicarakan Alvin. Bu Dewi mengutarakan pendapatnya bahwa Alvin kelihatan serius dengan Alena, hal itu terlihat saat ia dengan sengaja pergi ke kediri dan menyewa sebuah penginapan, hanya untuk membujuk mereka berdua agar menyetujui pernikahannya, dengan anak mereka. Selain itu Alvin juga nekat datang ke rumah mereka saat hujan, sampai akhirnya ia sakit. Mendengar semua pendapat Bu Dewi, Pak Pramono hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia sebenarnya tidak rela melepaskan Anak gadis satu-satunya itu pada Alvin. Bahkan menurutnya usaha yang dilakukan Alvin percuma saja, kalau nyatanya ia masih tetap belum menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. Bu Dewi merasa kebingungan, di satu sisi ia melihat adanya kesungguhan dari Alvin, di sisi yang lain ia tidak mau kalau anaknya itu menikah, dengan seorang laki-laki yang sudah beristri. Sungguh bagi mereka ini adalah pilihan yang sulit. Namun kembali lagi, jodoh adalah rahasia Tuhan. Jika memang bukan jodohnya bagaimapun juga akan di jauhkan, pun kalau misal itu sudah menjadi jodohnya, bagaimanapun keadaan Alvin, sudah beristri atau tidak pasti akan tetap di persatukan. Pasti akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Hal yang terpenting sekarang adalah ada kesungguhan dan keseriusan yang terlihat dari diri Alvin terhadap Alena. Jika mereka berjodoh nanti, mungkin kedua orang tuanya tidak akan terlalu khawatir terhadap kehidupan Alena kedepannya. **** Hari ini Alvin memutuskan untuk kembali ke surabaya. Setelah meminum obat yang diantarkan oleh orang tua Alena, kondisinya pun mulai membaik. Ia sangat bersyukur kondisinya tidak sampai parah saat itu. Sekarang ia hanya bisa pasrah dengan hasil akhir apa yang akan di terimanya nanti. Yang terpenting ia sudah berusaha untuk memperjuangkan cintanya, dan memberikan yang terbaik. Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya ia sampai juga di depan kost Alena. Ia sengaja mampir ke kost Alena untuk bertemu dengan kekasih hatinya karena sudah beberapa hari tidak bertemu. Ia merasa sangat rindu dengan Alena. Sebelum Alvin sampai disana sepertinya Alvin sudah mengatakan pada Alena kalau ia akan datang ke kostnya, karena itulah Alena snegaja menunggu Alvin did epan halamn kostnya. Saat melihat Alvin datang Alena langsung berhambur ke pelukannya. Seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Ia benar-benar sangat khawatir dengan Alvin. Sekaligus ia merasa bangga karena ternyata Alvin memang benar-benar membuktikan rasa cintanya pada Alena. Alena memeluk erat laki-laki yang sangat dicintainya itu. Ia sangat lega melihat Alvin baik-baik saja. “Untung kamu nggak apa-apa, Vin. Aku benar-benar khawatir sama kamu.” Kata Alena, dengan wajah sendu. “Aku nggak apa-apa, Maafin aku ya, Al. Aku udah buat kamu khawatir.” Sahut Alvin seraya membelai rambut panjang Alena. “Lain kali kamu jangan kayak gitu lagi, kita hadapi semuanya sama-sama. Jangan bertindak sendiri.” “Iya, Al. Aku ngerti.” “Tapi aku sangat bahagia dan bangga sama kamu. Makasih buat semuanya.” Ucap Alena lirih, kembali memeluk tubuh Alvin. Tanpa ia sadari air mata menetes di kedua pipi mulusnya. Alvin tidak tega melihat gadis yang dicintainya itu menangis, ia mengusap air matanya perlahan dan memegang kedua pipinya. “Ingat ya, apapun yang terjadi aku akan selalu di sisimu, dan aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Aku akan selalu perjuangin cinta kita sampai akhir nanti.” Ucap Alvin lirih. Perlahan ia mengecup kening Alena dengan penuh perasaan dan kasih sayang. Alena tersenyum, ia benar-benar sangat bahagia sekarang dan semoga apa yang menjadi harapannya kali ini dapat terwujud. “Aku balik dulu ya, kamu jaga diri baik-baik.” Pinta Alvin sebelum ia pergi meninggalkan kost Alena. “Iya, kamu juga.” Sahut Alena dengan tersenyum bahagia. Alvin mengangguk kemudian ia pergi meninggalkan Alena. **** Setelah pulang dari kost Alena, Alvin kembali pulang ke rumahnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Pintu terlihat dibuka dari arah dalam rumah. Terlihat Sovia sudah keluar dan menunggu Alvin di teras rumah. Perlahan Alvin keluar dari mobil, ia membawa tas kerjanya dan masuk ke dalam rumah. Sovia membantu membawakan tas kerja Alvin dan mengikutinya dari belakang. Di dalam rumah Alvin tanpa sadar melihat ada beberapa buah puntung rokok di dalam asbak di ruang tamu. Ia meliriknya dan ia yakin sekali kalau itu bukanlah bekas rokoknya, lalu bekas siapa sebenarnya, pikirnya dalam hati. Karena penasaran ia pun bertanya pada Sovia, utnuk memastikan pikirannya. “Tadi ada tamu?” tanya Alvin dengan mengerutkan dahinya. “Em, nggak ada, emang kenapa sayang?” “Oh, nggak apa-apa, cuma nanya aja.” Sahut Alvin yang sebenarnya tahu dari gelagat Sovia, tapi ia pura-pura tidak tahu. ‘Tampaknya dia berbohong padaku.’ Batin Alvin. Alvin menarik nafas dalam. Ternyata Sovia memang tidak pernah bisa berubah. Ia memang tidak tahu, siapa yang datang bertamu ke rumah itu, yang jelas ia yakin bahwa Sovia tetap tidak berubah, dan kali ini juga ia membohongi Alvin kembali. Saat pertama kali ia masuk tadi, ia juga mencium bau bekas alkohol yang sangat menyengat, tapi ia malas untuk bertanya apapun lagi pada Sovia, toh ia tidak akan mengakuinya juga. Alvin masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah handuk, lalu Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, ia keluar dan akan mengambil baju ganti di dalam lemari. Alvin terkejut, sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sentuhan itu sangat lembut membuat tubuh Alvin bergetar. Tak dapat dipungkiri memang Sovia selalu bisa membuat Alvin terbuai dalam pesonanya. Ia seakan sudah piawai untuk melakukan hal itu. Alvin sekuat tenaga menahan gejolak di dalam hatinya. Ia tak mau menyentuh Sovia untuk saat ini. Ia memang sengaja tidak membalikkan tubuhnya agar ia tidak tergoda dengan pesona Sovia. Setelah mengambil baju, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memakainya, setelah selesai baru ia keluar. Saat keluar kamar mandi ia kembali terkejut karena sang istri sudah ada di atas ranjang dengan memakai baju tidur yang sangat minim sekali. Alvin kembali menelan salivanya, ia berusaha menahan gejolak di hatinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa memperdulikan Sovia akhirnya ia mencoba untuk tidur. “Vin, aku menginginkan anak dari kamu? apakah kamu udah siap?” Sovia membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Alvin, yang sukses membuat Alvin terbelalak dengan pertanyaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN