“Anak?” tanya Alvin terkejut.
“Iya, apakah kamu nggak menginginkan seorang anak, Sayang?”
“Ta-tapi apakah kamu sudah siap?”
“Aku sudah siap. Karena aku udah bayangin punya anak dari kamu pasti sangat membahagiakan.”
“Tapi aku ....” Alvin tak meneruskan kata-katanya karena ia bingung harus menjawab apa.
“Tapi kalau kamu belum siap nggak apa-apa, Vin. Pelan-pelan saja. Mungkin kamu masih ingin menikmati hidup berdua dengan aku saja kan? aku mengerti pikiranmu.” Sahut Sovia dengan tersenyum, meskipun terlihat ada sedikit kekecewaan di wajahnya.
“I-iya maksudku begitu. Makasih ya kamu udah ngertiin aku.” Ujar Alvin dengan sedikit gagu. Kemudian mereka tidur saling membelakangi satu sama lain.
Malam itu mereka tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Tak ada yang tahu apa yang ada di pikiran Sovia saat itu, mengapa tiba-tiba ia menginginkan anak dari Alvin. Tapi yang jelas Alvin sudah merasa lega karena ia mempunya alasan untuk menolak permintaan istrinya itu.
****
“Bu, apakah ibu tetap pada pendirian ibu, tidak bersedia merestui pernikahan aku dengan Alvin?” tanya Alena dari sambungan teleponnya. Siang ini Alena nekat menghubungi ibunya untuk menanyakan keputusannya. Ia sangat berharap dengan datangnya Alvin ke sana kapan hari, keputusan orang tuanya akan berubah.
“Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ibu ingin menanyakan satu hal padamu?” tanya ibunya di seberang sana. Suaranya terdengar bernada serius.
“Apa itu Bu?”
“Apakah selama ini kamu bahagia bersama Alvin?”
“Kenapa ibu bertanya seperti itu? tentu saja aku bahagia, karena kami saling mencintai.” Jawab Alena dnegan penuh keyakinan.
“Ibu hanya ingin memastikan saja, Nak.”
“Aku mencintainya Bu, dan aku menerima apapun keadaannya.”
“Meskipun dengan keadaan dia yang sudah punya ...?” tanya ibunya tidak mau meneruskan kata-katanya. Suara ibunya di telepon terdengar hening sejenak, mungkin ia tak mau melanjutkan karena takut Alena tersinggung atau sedih dengan kata-kata yang akan diucapkannya itu.
“Sudah punya istri maksud ibu?” tebakan Alena memang sangat benar, itulah yang ingin diucapkan oleh Ibunya dari tadi.
“Iya, apakah kamu nggak keberatan Al?”
“Katanya dia akan menceraikan istrinya, Bu. Aku percaya sama Alvin.”
“Kamu sudah tau akibatnya kan? kalau ternyata ia membohongi kamu, bagaimana nasibmu nanti?” tanya ibunya dengan nada suara meragu.
“Maksud ibu?”kata Alena balik bertanya.
“Ibu takut saja, Al. Kalau ternyata dia bohongi kamu dan tidak menceraikan istrinya, Ibu tidak bsia membayangkan apa yang akan terjadi padamu ....” jawab ibunya dengan nada suara yang sendu, terdengar ada kesedihan saat kata-kata itu terucap dari bibirnya. Namun ia berusaha menutupinya.
”Ibu tenang saja, Aku sudah siap dengan apapun yang terjadi.” Ucap Alena dengan yakin dan kata-kata itulah, yang seketika itu membuat ibunya yakin dengan keputusan yang akan dibuatnya.
“Baiklah, Al. Kalau begitu ibu mengijinkanmu menikah dengan Alvin.” Jawab ibunya lirih. Suaranya hampir saja tak terdengar di telepon. “Tapi ibu ingin berpesan satu hal padamu, apapun yang terjdi nanti, kamu tidak boleh menyesali keputusanmu.” Kata ibunya kemudian. .
“Apa, Bu? Jadi beneran ibu merestuiku? Ibu mengijinkanku untuk menikah dengan Alvin.”
“Iya, asalkan kamu bahagia, ibu pasti merasa bahagia juga ....” Jawab ibunya lagi. Alena seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia merasa sangat bahagia yang tak terkira. Ternyata Ibunya benar-benar merestui hubungannya dengan Alvin. Andaikan saat itu, Ibunya ada di depannya mungkin ia akan memeluk ibunya dan menangis di pelukannya. Sayang saat ini mereka terpisah oleh jarak. Akan tetapi jarak yang memisahkan tetap tak mengurangi sedkitpun rasa bahagia Alena.
Namun kebahagiaannya tiba-tiba terkikis oleh kenyataan bahwa, Bapaknya tetap belum merestui pernikahannya. Ibunya mengatakan bahwa Pak Promono masih butuh waktu untuk berpikir, karena baginya semua ini terlalu tiba-tiba. Meskipun begitu Alena tetap bersyukur setidaknya ia sudah mendapatkan restu dari Ibunya, itu sebenarnya sudah cukup membuatnya bahagia.
Setelah mengobrol cukup lama dengan ibunya di telepon, hatinya merasa agak lega, beban beratnya seakan berkurang. Jika saja ia menceritakan hal ini pada Alvin, mungkin ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya. Sekarang ia hanya tinggal menunggu waktu agar Bapaknya juga berubah pikiran, untuk merestui pernikahannya. Ketika itu terjadi masalahnya akan selesai. Ia tidak akan bingung lagi seperti sekarang.
****
Malam harinya, Alvin datang ke kost Alena. Ia merasa sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Alena. Sungguh Alena telah membuat dirinya merasa tidak tenang seharian. Rasa penasaran itu membuatnya untuk ingin segera bertemu dengan gadis yang dicintainya itu.
Beberapa saat kemudian Alvin telah sampai di depan halaman kost Alena. Ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam halaman rumah kost itu. Saat mengetahui Alvin telah tiba, Alena segera menuju ke depan dan ingin segera memberitahukan berita bahagia yang didengar dari ibunya tadi siang. Ia berhambur memeluk Alvin dengan eratnya. Alvin semakin penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu, kenapa wajahnya terlihat senang dan berseri-seri.
“Ada apa, Al. Kenapa kamu tampak senang?” tanaya Alvin dengan wajah penasaran
“Ibu, Vin.”
“Kenapa dengan Ibu?” mendengar pertanyaan Alvin, Alena malah meneteskan air matanya. Alvin semakin bingung, kenapa Alena sekarang tiba-tiba malah menangis? bukankah tadi ia terlihat bahagia? Alvin mencoba menenangkan Alena. Ia mengusap air mata Alena, mengelus puncak rambutnya dan mengecup dahinya dengan lembut.
“Ceitakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu?” bisiknya pada gadis itu. Alena masih terisak, air mata haru tidak bisa lagi ia bendung. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah cantiknya. Perasaan bahagianya tidak dapat ia pendam lagi, ia ingin segera membaginya dengan Alvin.
“Ibu menyetujui pernikahan kita.” Ucap Alena lirih, dengan diiringi air mata harunya yang tak kunjung berhenti. Alvin terkejut mendengarnya, apakah Alena tidak salah dengar saat telepon dengan ibunya. Apakah memang benar ibunya menyetujui pernikahnnya dengan Alena. Kalau itu memang benar terjadi maka ia tidak sia-sia datang ke kota kediri kapan hari. Tenyata usahanya itu membuahkan hasil. Meskipun ia sempat mendapatkan penolakan dan sakit karena kehujanan, tapi ia merasa sangat bahagia. Benar kata pepatah yang mengatakan usaha tidak akan menghianati hasil. Mungkin inilah yang sangat ditunggu-tunggu. Hasil yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua.
Namun ia tidak bisa senang dulu, karena masih ada satu orang yang belum menyetujuinya, yaitu Pak Pramono. Ia masih harus berjuang untuk meyakinkan beliau agar bisa menyetujui pernikahannya dengan Alena. Memang kelihatannya susah, tapi dalam hatinya ada sedikit keyakinan bahwa ia akan bisa menyelesaikan ini semua. Ia memang benar, ia harus meyakinkan dirinya sendiri, baru ia bisa meyakinkan orang lain.
Tinggal selangkah lagi, Alvin akan dapat memiliki gadis di depannya itu dengan seutuhnya.Ini seperti sebuah mimpi yang akhirnya akan terwujud. Namun dalam kebahagiaannya itu entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan Sovia. Mengapa ia tiba-tiba ingin memiliki anak dari Alvin? apa sebenarnya rencana wanita itu. Ia tidak akan mengabulkan permintaan Sovia, karena ia tidak ingin membuat hati Alena terluka. Ia hanya ingin Alena lah satu-satunya wanita yang akan melahirkan anak-anaknya kelak, bukan Sovia.