Bagian 3

738 Kata
"Mbak ngopi mbak!" "Iya silahkan bang, makasih," jawabku ramah saat penghuni tenda sebelah menawariku kopi. Ternyata memang suasana diluar masih ramai, terlihat orang-orang masih mengobrol di depan tendanya masing-masing, ada juga beberapa yang masih di sibukan dengan kegiatan memasak. Aku lalu menuju semak-semak mencari tempat yang benar-benar aman. Ramainya suasana tempat ini membuatku sedikit kebingungan mencari area untuk buang air kecil. Aku memilih sedikit lebih masuk ke dalam hutan dan kemudian menuntaskan keinginanku untuk buang air kecil. "Desi..." "Desiiii..." Terdengar suara seseorang memanggil namaku. Dengan perasaan was-was kuperhatikan sekeliling area ini, takut ada orang yang mengintipku. Namun aku tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa, hanya gelapnya hutan dan semak belukar yang lumayan tinggi. "Desiii..." Suara itu terdengar lagi, sepertinya suara seorang wanita. Bulu kudukku langsung berdiri. Kupercepat kegiatan buang air kecil ini lalu segera kembali menuju tenda dengan sedikit berlari. "Kenapa lu Des?" Tanya Toyib saat aku tiba di tenda. "Gak kenapa- napa," balasku berbohong karena tidak ingin membuatnya ketakutan. "Masa sih? Gausah takut Des, lu liat apaan barusan?" Tanya Toyib penuh selidik. "Liat apaan emang?" Ferdy ikut nimbrung, disusul oleh Rivan. Ternyata kedua orang itu belum tertidur. "Apaan sih? Gue gak kenapa-napa juga!" Ucapku sambil sedikit tertawa agar mereka percaya. "Kalo gue ngerasa ada yang ngikutin," Toyib mulai bercerita. "Kedenger suara kresek-kresek pas gue kencing, tapi pas gue tengok gak ada apa-apa!" Lanjut Toyib. "Ah perasaan lu doang kali?" Ucap Ferdy ringan. "Mungkin sih. Tuh tuh liat! Gue merinding!" Ucap Toyib sambil memperlihatkan bulu-bulu ditangannya yang berdiri. "Kedinginan lu itu mah!" Ferdy tetap tak percaya dengan cerita Toyib. "Udah-udah tidur ah istirahat!" Ajak Rivan menyadari gelagat kurang baik mengenai obrolan ini. Aku pun langsung masuk sleeping bag dan melupakan kejadian tadi, nanti saja akan kuceritakan kalau kami sudah pulang. Begitu pikirku. *** Pukul 1 pagi alarm di handphone membangunkanku. Aku langsung membuka tenda, menyalakan kompor lalu memasak. Terdengar suara beberapa pendaki lain yang sepertinya juga sudah terjaga, atau bahkan mungkin sebagian belum tidur sama sekali. Pukul 02:30 kami mulai berjalan meninggalkan tenda, sedikit meleset dari waktu yang sudah direncanakan. Tidak lupa kami berdoa dahulu untuk memohon perlindungan dan kelancaran selama dalam perjalanan. Jalur pendakian ramai lancar, ratusan pendaki berbaris rapi seperti sedang mengantri untuk menonton sebuah konser. Ramai sekali. Beberapa menit berjalan kami melihat plang penunjuk arah yang kami nantikan. Lurus menuju puncak gunung Gede, sedangkan belok kanan menuju puncak gunung Pangrango. Kami langsung belok kanan mengikuti petunjuk plang tersebut, di ikuti oleh beberapa orang yang bertujuan sama seperti kami, sisanya semua mengambil jalan lurus untuk menuju puncak Gede. "Benerkan kata gue?" Ucap Rivan sambil tersenyum bangga. "Udah ayo jalan!" Jawab Ferdy ketus. Trek menuju puncak Pangrango memang sangat terjal, beberapa kali kami juga harus berjalan merangkak karena terdapat pohon rubuh yang melintang menghalangi jalan. "Van kalo ada tempat datar break dulu ya," pintaku saat melewati sebuah tanjakan yang lumayan terjal. "Yaudah disini aja nih!" Jawab Rivan yang berada di posisi depan sambil menyorotkan senter ke sebelah kanan jalur. Kami beristirahat di sebidang tanah yang lumayan datar, luasnya mungkin bisa menampung sekitar 5-6 orang dalam posisi duduk. "Ngopi dulu aja sekalian ya? Gue belum ngopi nih," ajak Ferdy. Rivan melihat jam di tangannya lalu berkata "Oke boleh!" Ferdy langsung membuka tas dan mengeluarkan alat masak, dengan sekejap nesting berisi air sudah siap diatas kompor untuk dipanaskan. Aku melihat jam di HP ternyata baru satu jam kami berjalan meninggalkan tenda. "Ngopi dulu sini bang biar anget," ucap Rivan berbasa-basi pada pendaki lain yang berjalan melewati kami. Mereka hanya menjawab, "Iya bang silahkan!" Tanpa berhenti. Entah sudah berapa rombongan yang datang silih berganti melewati kami yang sedang beristirahat ini, hingga ada satu rombongan yang terdiri dari 3 orang datang berjalan melewati kami. "Ngopi dulu bang!" kembali Rivan menyapa rombongan tersebut. Seperti biasa, rombongan yang Rivan sapa hanya tersenyum sambil berkata "Mari-mari, silahkan bang," tanpa tertarik untuk mampir. Mungkin tanggung karena posisi kami memang berada ditengah-tengah tanjakan. Namun tanpa diduga salah seorang dari rombongan tersebut langsung menepi dan bergabung bersama kami. "Darimana bang? Ferdy membuka obrolan pada orang itu. Dari wajahnya terlihat sepertinya pria itu sudah lumayan tua, sekitar umur 45 tahunan. "Saya asli orang sini," jawab pria itu sambil memberikan tangannya untuk berjabat. "Beni." Ucapnya memperkenalkan diri. Rasa dingin langsung terasa saat telapak tanganku bersentuhan dengan tangannya. Rivan memberiku kode untuk membuatkan kang Beni kopi, aku pun segera menyiapkannya. "Gulanya banyak atau sedikit Kang?" "Bebas. Terserah yang ngasih, tapi saya lebih suka yang agak pait," jawab kang Beni sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN