"Temannya sekalian ajakin ngopi aja atuh kang, kasian takut nyariin ntar," ujar Rivan sambil menyodorkan segelas kopi hitam yang baru saja ku buatkan.
"Ah gapapa udah biasa," jawabnya enteng.
"Rokoknya ada? Punya saya dititip temen." Lanjut kang Beni sambil tertawa kecil.
Rivan langsung mengeluarkan dua bungkus rokok yang berbeda, filter dan kretek, lalu menaruhnya tepat di samping kopi tadi beserta koreknya.
"Saya suka yang kretek," ucap kang Beni sambil mengambil rokok itu lalu membakarnya.
15 menit pertama kami terlibat obrolan yang lumayan seru, Dia bercerita bahwa ini adalah pendakian terlamanya bersama kedua rekannya tadi yang bernama Upin dan Ipin. Namun di menit berikutnya kang Beni lebih banyak diam. Raut wajahnya terlihat seperti menyimpan kesedihan.
"Kamu, siapa tadi namanya?" Tanya kang Beni sambil menepuk pundak Toyib.
"Toyib Kang."
"Hemm...cincin kamu bagus," ucap kang Beni sambil memperhatikan cincin yang dipakai Toyib.
Sebuah cincin berwarna perak dengan hiasan batu akik berwarna toska yang tidak terlalu besar.
"Dapet darimana?" Tanya kang Beni.
"Emang kenapa Kang?" Toyib balik bertanya.
"Menarik!" jawabnya singkat.
"Menarik?" Toyib penasaran.
"Menurut kamu itu cincin apaan?" kang Beni balik bertanya.
"Cincin batu akik biasa aja sih, ini dikasih paman saya," jawab Toyib sambil mengusap-usap batu akik tersebut.
"Oooohh..." Respon kang Beni sambil menyeruput kopi lalu menghisap lagi rokoknya dalam-dalam.
Sepertinya dia adalah perokok berat, kuperhatikan mulutnya tidak berhenti mengepulkan asap tembakau yang ia hisap. Cepat sekali dia menghabiskan tiap batang rokok itu, dan itu adalah rokok ketiga yang sudah ia bakar.
"Cincin itu sebenarnya tidak cocok buat kamu, Kamu tidak paham cara memakainya."
Lanjut kang Beni.
"Maksudnya kang?" Tanya Toyib bingung.
"Mendingan di simpen lagi!"
"Saya duluan ya, terimakasih loh kopi sama rokok nya, saya suka," ucapnya sambil berlalu meninggalkan kami.
Namun baru beberapa langkah tiba-tiba dia berhenti lalu menoleh, "Hati-hati ya kalian!" lalu kembali berjalan.
"Iya Kang!" jawab kami serempak.
"Maksudnya apaan ya?" Tanyaku yang juga tidak mengerti dengan apa yang diobrolkan kang Beni mengenai cincin itu.
"Gue juga gak ngerti. Ayo ah kita lanjut!" Ajak Toyib sambil membereskan semua peralatan.
Namun hal aneh kami dapati saat melihat gelas kopi yang tadi di minum oleh kang Beni. Kopi itu masih utuh seperti tidak pernah ada yang meminumnya.
"Mungkin dia gasuka kopi kali, tadi pura-pura minum buat ngehargain kita doang," ucap Ferdy asal.
"Gak mungkin!" ucapku dalam hati.
Yang terakhir kulihat tadi, dari cara kang Beni meminumnya sepertinya kopi itu sudah habis tinggal menyisakan ampasnya saja.
"Udah lu abisin aja Van," lanjut Ferdy.
"Ogah ah, buang aja ya?" Ucap Rivan ragu.
"Sayang kalo di buang, sini Gue aja yang abisin!" Ferdy mengambil gelas itu dari tangan Rivan.
"Srupuuut...."
Ferdy berhenti, lalu melihat kearah kami satu persatu sambil terdiam.
"Kenapa Fer?" Tanyaku cemas
"Cobain deh," pintanya agar aku mencicipi kopi itu.
"Emang kenapa?" Aku ragu.
"Cobain aja biar ga penasaran."
Kata penasaran yang dia ucapkan benar-benar membuatku menjadi penasaran, perlahan aku menyeruput kopi itu dan aku pun melakukan hal yang sama seperti Ferdy.
Secara bergantian kutatap Rivan dan Toyib sebagai bentuk pemberitahuan bahwa ada hal yang aneh dari kopi tersebut.
"Kenapa sih?" Toyib penasaran lalu mengambil dan meneguk kopi itu, kemudian menyerahkannya pada Rivan.
Setelah meneguk kopi itu Rivan langsung membuangnya.
"Kok bisa ya? Padahal gue tau tadi Desi ngeracik kopi nya kayak gimana," ucap Rivan terheran-heran.
"Udah yuk, kita berdoa lagi biar gak ada hal-hal yang tidak di inginkan," ajak Rivan.