"Kenapa sih?" Toyib penasaran lalu mengambil dan meneguk kopi itu, kemudian menyerahkannya pada Rivan.
Setelah meneguk kopi itu Rivan langsung membuangnya.
"Kok bisa ya? Padahal gue tau tadi Desi ngeracik kopi nya kayak gimana," ucap Rivan terheran-heran.
"Udah yuk, kita berdoa lagi biar gak ada hal-hal yang tidak di inginkan," ajak Rivan.
Pukul empat lebih kami pun kembali melanjutkan lagi perjalanan. Sepanjang perjalanan kepalaku terus saja berpikir tentang kopi tadi, kok bisa ya?
Kenapa kopi itu menjadi hambar?
Kopi itu tidak ada rasanya sama sekali, seperti air putih biasa hanya saja berwarna hitam.
Aroma kopinya pun tidak terasa sama sekali, dan kenapa kopi itu masih utuh?
Sedangkan tadi dengan jelas aku melihat kang Beni meneguk kopi itu beberapa kali bahkan terlihat seperti menghabiskannya.
"Hahaha gue jadi pengen ketawa," ucap Toyib senyam-senyum saat kami beristirahat lagi.
"Kenapa emang?" Tanya Rivan.
"Cincin ini. Masa gue dibilang gak paham cara pake nya, jelas-jelas ini lagi gue pake! Hahaha..." Jawab Toyib sambil tertawa.
"Sejak kapan lu pake cincin itu?" Tanya Ferdy.
"Belum lama sih."
"Selama pake itu perasaan lu gimana? Tanya Ferdy lagi.
"Gak gimana-gimana, emang kenapa?" Toyib balik bertanya dengan tatapan sinis.
"Ya kalo gapapa mah berarti aman, gue takutnya itu cincin ada isinya," jawab Ferdy yang langsung membuat kami terheran-heran.
"Ada isinya gimana Fer?" Tanyaku penasaran.
"Iya kayak ada tuah atau kodamnya gitu, yang diem didalem cincin itu!" Ferdy menjelaskan.
"Gatau deh kalo itu, gue cuma suka motifnya aja, bagus," ucap Toyib sambil memperhatikan cincin tersebut.
"Tapi emang sih Paman gue suka nyari benda-benda pusaka gitu ke tempat-tempat angker," lanjutnya.
Entah kenapa aku menjadi takut mendengar perkataan Toyib barusan.
Rivan dan Ferdy pun sepertinya terkejut mendengar ucapan tersebut.
"Wah bisa jadi, Paman lu dapet cincin itu darimana?" Tanya Ferdy lagi.
Persis seperti orang yang sedang menginterogasi maling.
"Nah kalo itu gue gatau Fer. Kenapa sih pada percaya begituan?!" Jawab Toyib kesal.
"Udah ntar kita tanyain aja secara detail ke kang Beni diatas!" jawab Rivan sambil mengajak kami untuk melanjutkan lagi perjalanan.
Langit semakin terang, kulihat jam sudah menunjukan pukul lima kurang.
Kini kami tidak lagi bertemu dengan pendaki lain, sepertinya kami adalah rombongan terakhir yang naik saat ini.
Setelah berjalan kurang lebih sekitar empat jam akhirnya kami sampai juga di puncak gunung Pangrango.
Suasana tidak terlalu ramai, hanya terdapat beberapa orang saja yang sedang duduk-duduk dan ada juga yang sedang berfoto-foto di sebuah tugu yang menjadi penanda puncak gunung ini.
Mataku tidak menemukan sosok kang Beni ditempat ini, mungkin dia sedang berada di lembah Mandalawangi.
Kami beristirahat sambil menunggu untuk berfoto di tugu itu secara bergantian, kemudian kamipun kembali berjalan untuk menuju lembah Mandalawangi.
Terlihat dua orang yang sedang duduk di antara pohon-pohon edelweis.
Dari jaket yang dikenakannya sepertinya aku mengenali kedua orang tersebut.
"Itu kang Ipin bukan sih?" Tanyaku sambil menunjuk kedua orang itu.
"Mana? Oh iya bener!" Jawab Rivan.
Kami pun langsung berjalan menuju kearah mereka.
"Kang Ipin ya?" Sapa Rivan sambil mendekatinya.
"Iya bang, siapa ya? Ucapnya.
"Kita yang tadi istirahat di tanjakan, yang sambil masak," Rivan menjelaskan.
"Oh yang tadi subuh nawarin kopi di jalur ya?" Tanya mereka sambil tertawa.
"Iya betul!" Sambar Ferdy.
Kami ikut duduk berisitirahat bersama mereka yang sedang memasak mie instan.
"Kok tau nama saya bang?" Tanya kang Upin.
"Iya tadi kan temen kalian ngobrol lumayan lama bareng kita dibawah," jawab Rivan.
Kang Upin dan Kang Ipin langsung saling berpandangan.
"Temen yang mana ya Bang?" Tanyanya heran.
"Kang Beni."
"Kang Beni?? Kang Beni siapa ya?" Tanya mereka lagi.
"Kalian tadi bertiga kan?" Tanyaku pada mereka.
Lagi-lagi ekspresi mereka terlihat seperti kebingungan.
"Kita naik cuma berdua aja Mbak!" jawab mereka dengan serius.
"Masa sih kang?" Toyib mencoba meyakinkan.
"Sumpah demi Allah, kita dari awal naik cuma berdua aja!"
Sekarang giliran kami yang terheran-heran mendengar jawaban mereka.
Kami langsung menjelaskan ciri-ciri kang Beni kepada mereka berdua, namun tetap saja mereka mengaku tidak mengenalinya.
Aku tidak mengerti lagi dengan semua ini, hanya senyum yang bisa kulakukan untuk menyembunyikan keanehan yang telah kami alami.
"Sebenarnya siapa kang Beni itu?" Batinku bertanya-tanya.
Setelah Rivan dan Ferdy mengisi penuh botol minum kami di sumber mata air yang ada disini, kamipun langsung berpamitan turun.
"Kami duluan ya Kang!"
"Bareng aja bentar lagi bang," ajak mereka.
Namun kami menolaknya karena kami harus buru-buru untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Gede.