Keesokan harinya, mereka pergi berdua. Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung dan menyesakkan. Kayla mencoba menenangkan diri, berusaha mengatur degup jantungnya yang terus berdetak kencang seolah habis maraton jarak jauh. Begitu pula dengan Arhan. Ia sesekali melirik Kayla. Ia ingin basa-basi, namun lidahnya kelu, tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Jantungnya ikut berdetak kencang, ia grogi dan sangat gugup berada sedekat ini dengannya. "Mas?" ucap Kayla, memecah keheningan, suaranya terdengar lembut namun sedikit bergetar. "Akh, iya! Ada apa, Kayla?" Arhan terlonjak kaget, nyaris salah menginjak pedal. "Kok kaget sih, Mas? Apa aku memanggil terlalu kencang suaranya?" tanya Kayla, menunduk, takut telah mengganggu konsentrasi Arhan. "Enggak, enggak kok. Akunya saja y

