Setelah sampai di rumah sakit, Kayla langsung dibawa masuk ke ruang perawatan. Robi mondar-mandir di depan pintu dengan wajah tegang dan tangan yang masih berlumur darah dari perkelahian tadi.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar.
“Dia cuma syok, nggak apa-apa kok,” ucap sang dokter tenang.
“Makasih, Dok…” Robi akhirnya bisa bernapas lega.
Ia masuk ke ruangan dan duduk di samping tempat tidur Kayla. Tangannya perlahan menggenggam tangan Kayla yang dingin, menatap wajah gadis itu yang pucat dengan mata yang membiru akibat pukulan Zevan.
Beberapa saat kemudian, Kayla mengerang pelan. Matanya terbuka, menatap sekeliling dengan pandangan kabur.
“Gue… di mana?” tanyanya pelan.
“Di rumah sakit,” jawab Robi lembut, menatap mata Kayla yang masih merah. “Sakit, ya?”
“Heeum… ini pusing, Bi,” ucap Kayla dengan nada manja, mencoba tersenyum meski wajahnya meringis.
“Sorry, tadi gue nggak keburu narik lo,” kata Robi penuh rasa bersalah.
“Gak apa-apa kok, Bi,” balas Kayla dengan senyum lemah.
Baru saja suasana mulai tenang, suara langkah tergesa terdengar dari luar. Pintu terbuka, dan Zevan muncul dengan wajah lebam, bibir pecah, dan mata merah.
“Kayla, sayang… maafin aku,” ucap Zevan sambil melangkah mendekat.
Kayla menatapnya dingin. “Van, udah berapa kali gue bilang, kita udah putus. Mending lo pulang sana.”
“Tapi Kayla, aku sayang kamu,” ucap Zevan memelas.
Robi langsung berdiri, nadanya meninggi. “Lo gila apa? Lo selingkuhin Kayla, anjing, terus lo bilang sayang? Mau lo apa, hah?”
“Lo diem, ya! Nggak ada urusannya sama lo!” bentak Zevan.
“Baik dulu maupun sekarang, siapa pun yang sakitin Kayla, itu urusan gue!” suara Robi tegas, penuh amarah yang ditahan. “Dan sekarang lo denger baik-baik—Kayla pacar gue. Jadi pergi dari sini sebelum gue bener-bener nggak tahan!”
Robi mendorong Zevan ke luar ruangan.
Zevan menatap balik dengan mata penuh benci. “Gue pastiin, Kayla bakal balik lagi sama gue. Ingat itu!”
“Urus aja si Laras, jangan ganggu Kayla!” balas Robi ketus.
Zevan berhenti sejenak di ambang pintu. “Semuanya salah paham, gue mau jelasin itu sama Kayla.”
“Salah paham?!” Robi hampir meledak. “Lo nge*** sama cewek lain, terus bilang salah paham?! Salah paham di otak lo yang rusak itu, Van!”
Zevan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Robi menutup pintu dengan keras. Keheningan kembali mengisi ruangan.
Sementara di Jakarta
Tubuh Laras yang penuh luka bakar akhirnya bergerak pelan setelah dua hari tak sadarkan diri. Matanya terbuka sedikit, pandangannya kabur menatap langit-langit rumah sakit.
“Gue… di mana?” ucapnya lirih, menahan nyeri yang menjalar di seluruh tubuh.
“Kamu di rumah sakit, Nak,” jawab Bu Wulan, ibunya, dengan mata sembab karena menangis dua hari dua malam.
“Aku… kenapa, Bu?” tanya Laras sambil terisak.
“Kamu kebakar, Nak. Kok bisa kamu ada di dalam apartemen itu?” tanya Bu Wulan heran.
Laras terdiam beberapa detik, lalu matanya berubah tajam.
“Ini semua gara-gara Kayla… b******k!” geramnya.
“Kayla? Maksudmu?” Bu Wulan menatapnya dengan bingung.
“Dia ngunci aku di apartemen itu, Bu. Trus… dia bakar tempat itu. Dia cemburu Zevan lebih milih aku!”
“Apa?!” Bu Wulan terkejut. “Gila, apa si Kayla! Kita laporin dia! Ibu nggak bisa diem aja!”
Ia langsung meraih ponsel dan menelepon polisi. Sementara itu, Laras tersenyum samar—senyum penuh dendam dan niat jahat yang tersimpan rapi di balik wajah yang luka.
“Kamu tenang aja, Nak. Nanti paman kamu yang urus si Kayla itu. Biar tau rasa,” ucap Bu Wulan dengan nada geram.
Laras menatap langit-langit, matanya berkilat dingin. “Iya, Bu… biar dia ngerasain rasanya kebakar hidup-hidup.”
Kembali ke Bandung
Robi sedang mengganti perban di wajah Kayla dengan hati-hati.
“Aduh, Bi… sakit,” keluh Kayla meringis.
“Maaf ya. Lagian kenapa sih lo nyamperin dia,” ucap Robi lembut, mencoba tersenyum menenangkan.
Kayla ikut tersenyum tipis. “Gue takut lo bonyok, Bi. Malu juga… banyak yang videoin kemarin.”
“Tenang aja, gue jago. Si Zevan mah cetek,” ucap Robi sambil tersenyum nakal.
“Belagu lo,” sahut Kayla sambil terkekeh.
Robi berdiri dan mengacak rambut Kayla. “Gue ke bawah dulu, ambil makanan pesenan.”
“Ih, lo mah, Bi! Kusut rambut gue,” rengek Kayla manja.
Robi hanya tertawa dan keluar kamar.
Begitu sendirian, Kayla mengambil ponselnya. Notifikasi pesan masuk. Saat dibuka, matanya langsung melebar.
“Kamu ya dasar w************n! Kamu kurung anak saya di apartemen pacar kamu, lalu kamu bakar! Gila kamu! Saya laporkan ke polisi. Tunggu aja, kamu bakal meringkuk di penjara!” — Bu Wulan.
Kayla membeku.
“Apa ini…? Ya Tuhan, kok jadi gini sih…” ucapnya pelan, suaranya bergetar.
Air mata mulai mengalir. Ketika Robi datang membawa dua kantong makanan, ia langsung menatap Kayla yang tampak shock.
“Loh, kok nangis? Bengong lagi,” tanya Robi heran.
“Bii… kok gue difitnah sih…” ucap Kayla lirih, matanya berkaca-kaca.
“Fitnah kenapa?” tanya Robi pelan, duduk di sampingnya.
“Baca ini,” ucap Kayla sambil menyerahkan ponselnya, suaranya nyaris pecah.
Robi membaca pesan itu, dan wajahnya langsung mengeras. “Hah?! Gila ya itu orang! Maki-maki lo seenaknya!”
Ia mengepalkan tangan. “Tenang, Kay. Kita nanti cari cara. Sekarang lo tenang dulu, makan dulu, ya?”
Robi menggenggam tangan Kayla erat-erat, menatapnya dalam.
Kayla mengusap air matanya, lalu mengangguk pelan. Robi tersenyum tipis, membuka makanan, dan menyuapi Kayla perlahan.
Malam itu mereka makan bersama dalam diam, hanya suara sendok dan detak jantung yang terdengar. Setelah makan, Robi memberi obat dan menunggu sampai Kayla tertidur.
Ia menatap wajah Kayla yang tenang dalam tidur, lalu berbisik pelan,
“Gue janji, gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo lagi.”