Ditangkap Polisi

893 Kata
Keesokan harinya, Kayla sudah diperbolehkan pulang. Robi mengantarnya dengan mobil. Udara pagi itu terasa hangat, tapi suasana hati Kayla masih berat setelah semua yang terjadi. “Lo nggak kerja, Bi?” tanya Kayla pelan sambil melirik ke arah Robi. “Nggak. Cuti dulu. Lo kan nggak ada yang jagain,” jawab Robi santai, matanya fokus ke jalan. “Lah, gimana urusannya, Bi? Kan gue ada Arka,” ucap Kayla, sedikit terkejut. “Gak apa-apa, lagi santai kok kerjaan gue,” jawab Robi sambil tersenyum lembut. “Makasih ya, Bi,” ucap Kayla dengan senyum kecil di bibirnya. “Sama-sama,” jawab Robi singkat, namun suaranya hangat. Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan rumah Kayla. Namun, pemandangan di sana membuat keduanya terkejut—dua mobil polisi terparkir di depan pagar, dan beberapa petugas tampak berdiri di halaman rumah. Kayla membeku. “Ada apa, Pak?” tanya Robi sopan sambil turun dari mobil. Seorang polisi mendekat. “Ini rumahnya Bu Kayla, kan?” “Iya, Pak,” jawab Kayla dengan suara gemetar. “Anda ikut kami,” ucap polisi itu tegas. Dari dalam rumah, terdengar teriakan histeris. “Jangan ambil anak saya!” teriak Bu Ami sambil berlari keluar, matanya sembab, napasnya tersengal. “Bu… Ibu tenang dulu,” ucap Robi sambil berusaha menenangkan wanita paruh baya itu. “Robi, Kayla nggak bersalah!” ucap Bu Ami dengan suara bergetar, air mata jatuh tanpa henti. “Ibu jangan nangis ya. Kayla cuma dimintai keterangan kok,” ucap Kayla dengan tenang, mencoba menahan air mata yang sudah di pelupuk. “Hati-hati ya, Nak,” lirih Bu Ami, memeluk Kayla seolah tak mau melepas. Siang itu, Kayla pergi bersama Robi mengikuti mobil polisi. Jalanan terasa panjang dan sunyi. Kayla menggigit bibir, mencoba kuat, sementara Robi hanya bisa diam—kedua tangannya mengepal di atas lutut. Di kantor polisi, suasana terasa tegang. Kayla duduk di kursi besi, wajahnya pucat. Di hadapannya, Pak Asep, penyidik yang terkenal tegas, menatap dengan sorot tajam. “Jadi, malam kejadian, kamu lagi di mana?” tanya Pak Asep. “Saya lagi ke rumah pacar saya, Pak… malam itu mau kasih kejutan,” jawab Kayla pelan, suaranya sedikit bergetar. Pak Asep mencatat. “Terus?” Kayla menelan ludah. “Tapi pacar saya…” Kalimatnya terhenti. Robi yang duduk di sampingnya perlahan mengusap punggung Kayla, memberi isyarat agar ia tenang. “Kenapa?” tanya Pak Asep dengan nada tegas. “Pacar saya… lagi gituan sama selingkuhnya,” ucap Kayla ragu-ragu, wajahnya menunduk dalam-dalam. Polisi di pinggir ruangan menahan tawa kecil mendengar pengakuan itu. Suasana yang tegang sedikit mencair. “Terus gimana lagi?” tanya Pak Asep mencondongkan badan. “Saya mundur karena kaget, Pak. Tapi saya nyenggol gelas wine sampai pecah. Zevan tahu ada suara, mereka udahan. Zevan kejar saya, saya lemparin kue ke sofa. Zevan nggak tahu kalau lilinnya masih nyala.” Kayla menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke arah Pak Asep. “Nah, yang ngunci kamar apartemen bukan saya, Pak. Si Zevan yang ngunci, karena takut ketahuan siapa cewek itu,” ucap Kayla jujur. Pak Asep terdiam sejenak, memutar bolpoin di jarinya, lalu mengangguk kecil. Menurut laporan dan pengakuan Kayla, semuanya terdengar logis dan masuk akal. Ia lalu menelepon kepolisian Jakarta dan memberikan kesaksian Kayla. “Tunggu ya,” ucap Pak Asep sebelum beranjak. Tak lama kemudian, kepolisian Jakarta langsung bertindak. Mereka memanggil Zevan untuk dimintai keterangan. “Saya waktu kejadian lagi di bawah, Pak. Sama pacar saya,” ucap Zevan cepat. “Yang mana pacar kamu?” tanya Pak Bagas, penyidik dari Jakarta. “Yang ngobrol di bawah, Pak,” jawab Zevan. “Yang di kamar siapa?” tanya Pak Bagas lagi, suaranya meninggi. “Dia… dia teman saya, Pak,” jawab Zevan ragu-ragu, matanya gelisah. “Teman tapi gituan, ya?” ucap Pak Bagas menatap sinis. Para polisi di ruangan itu terkekeh menahan tawa. “Kamu kunci pintu apartemen biar Kayla nggak tahu siapa yang di dalam, kan?” tanya Bagas lagi. “Itu… hmm… itu… saya pikir nggak akan kebakaran, Pak,” jawab Zevan gugup sambil menggaruk kepalanya. “Kamu salah! Udah ngunci pintu kamar kamu, hingga pacar kamu terbakar,” ucap Bagas ketus. “Dia bukan pacar saya,” elak Zevan cepat. “Terserah. Yang ada di kamar kamu ya pacar kamu!” sahut Bagas dengan nada tajam. “Kamu ditahan.” Sementara itu, di Bandung, Kayla pun ikut ditahan atas dasar kelalaian karena melempar kue dengan lilin yang masih menyala. Robi dan Kayla sama-sama terdiam, wajah mereka pucat pasi. “Gimana ini, Bi…” ucap Kayla dengan mata berkaca-kaca. “Gue akan cari bantuan,” ucap Robi cepat, suaranya bergetar tapi tegas. “Bi… gue nggak mau ditahan,” tangis Kayla pecah. Robi mendekat dan memeluknya erat. “Nanti gue balik lagi, ya,” bisiknya di telinga Kayla. “Nggak mau masuk penjara…” isak Kayla lirih, menggenggam jaket Robi. “Nggak akan. Sekarang nurut aja sama polisi. Gue cari bantuan, ya,” ucap Robi lembut, mencoba tetap tenang meski matanya mulai memerah. Kayla akhirnya menurut. Ia berjalan masuk ke dalam sel kantor polisi, langkahnya berat. Robi melepas hodie dari tubuhnya, lalu memberikannya pada Kayla, termasuk sepasang kaus kaki. “Biar nggak kedinginan,” katanya pelan. Kayla menatapnya sendu, lalu mengenakan hodie itu. Robi menatap lama dari balik jeruji, dadanya sesak. Malam itu, ia pulang dengan satu tekad bulat—mencari bantuan dan membebaskan Kayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN