Tentang Aisyah

1998 Kata
Rasa kesal belum reda mendengar perkataan Ibu yang seenaknya saja meminta apartemen ini diberikan kepada Aisyah. Sekarang ditambah lagi harus melihat wanita tersebut nantinya di dalam kamarku sampai batas waktu yang tak ditentukan. Ibu tetap memutuskan menginap di sini untuk beberapa hari. Dia bilang sekalian ingin merasakan hidup satu atap dengan menantu barunya. Apalagi kami tidak jadi pergi bulan madu sesuai dengan rencananya. Memang kenyataannya dulu kami, Casandra dan aku langsung tinggal beda rumah dengan Ibu. Itu karena kami sudah menyiapkan sebuah rumah, jauh sebelum pernikahan kami terjadi. Padahal menurut pandangannya, kami seharusnya menginap dulu di rumahnya sebagai bentuk penghormatan dan perpisahan sebelum pindah ke rumah sendiri. Namun itu semua tidak kami lakukan. Setelah pesta resepsi selesai, kami langsung pindah ke rumah kami tanpa pernah merasakan tinggal dulu sebentar di rumah orang tuaku. Menginap pun tidak pernah. Ibulah yang duluan menginap di rumah kami demi merasakan bagaimana tinggal di rumah besar milik kami tersebut. Apalagi bisa dibilang rumah besar kami termasuk rumah mewah yang sering wara-wiri di acara gosip selebritis. Pernah kuajak Ibu agar tinggal di rumahku saja, tapi ditolaknya dengan alasan tidak ingin meninggalkan rumah lama yang penuh kenangan bersama almarhum Ayah. Sebenarnya Casandra juga tidak ingin tinggal satu atap dengan Ibu lantaran hubungan mereka yang kurang harmonis. Ia takut bakal terjadi gesekan yang lebih besar, andai tinggal bersama. Memang sejak awal, Ibu sudah terang-terangan tidak menyukai Casandra, dan istriku itu juga termasuk keras, dia tidak berusaha untuk merebut hati ibu. Prinsipnya satu, kalau tidak disukai, kenapa harus berpura untuk balik menyukai. Entah dari mana dia dapat Quote macam itu, jujur aku tidak menyukai kalimat tersebut karena tidak bisa dikaitkan dalam hubungan keluarga. Tidak ada salahnya mencoba mendekati ibuku demi merebut hatinya. Wajar karena mereka seharusnya mempunyai hubungan yang baik antara mertua dan menantu. Bukan saling menjauh dan menjelekkan. Setelah obrolan panjangku dengan Ibu berakhir, mau tidak mau aku harus masuk kamar. Kulihat Aisyah duduk di sofa yang jaraknya tidak jauh dari tempat tidurku sembari membaca buku. Entah buku atau kitab, aku tak mengerti dan tidak ingin tahu dengan apa yang sedang dibacanya. Terdengarnya mirip seperti bacaan orang sedang mengaji, tapi buku yang dibacanya tidak tampak seperti alquran. Kurebahkan diri di atas tempat tidur dengan meletakkan kedua tangan bertumpu di dahi. Mencoba bersikap tak acuh padanya. Berpura tampak tertidur, padahal tidak. Rasa kesalku masih membara karena ulah Ibu. Harusnya kami tidak satu kamar. Huh! Kurasa ini hanya akal-akalan Ibu saja biar bisa mengawasiku dan Aisyah di apartemen ini. Ibu masih curiga kalau kami masih menjaga jarak setelah resmi menyandang status sebagai suami-istri. Walau kenyataannya memang benar seperti itu. *** "Bu, saya izin ke kamar dulu." "Bang," ujarnya menyapaku juga. Aku hanya mengerjap sekali menanggapinya. Aisyah izin pamit masuk kamar pada kami setelah beberapa detik terdengar hening tidak ada yang bersuara lagi menanggapi pertanyaan spontan Ibu barusan. Syukurlah. Kalau Aisyah pergi, paling tidak aku lebih leluasa bicara dengan Ibu. "Iya, istirahatlah. Maaf, Ibu tadi ganggu." Aisyah menggeleng seraya mengulas senyum tipis dan lalu melangkah ke arah kamarnya. Namun …. "Eh, salah." Gumaman lirihnya masih terdengar olehku, dan tentu juga terdengar Ibu karena letak duduk kami yang dekat. Aisyah lalu menggeser sedikit langkahnya menuju kamarku. Hampir saja salah kamar. Dia ingin masuk ke kamar awalnya saat pertama tidur di apartemen ini. Ibu terkekeh. "Aisyah … Aisyah, istrimu lucu juga, " celetuknya dengan menggelengkan kepala. Syukur Ibu tidak curiga kalau sebenarnya Aisyah hampir salah kamar. "Jadi kan apartemen ini untuk Aisyah. Ibu serius loh." Ibu kembali membahas hal tersebut setelah sosok Aisyah menghilang masuk kamar. "Nanti saja Bu, bahas itu. Baru saja ia jadi istriku sudah membahas yang terlalu rumit." Aku mencoba berkilah. "Rumit apaan? Simpel kok. Dia juga istrimu, Yan. Perlakukan dengan adil. Kalau Casandra saja kamu belikan apartemen, masa' Aisyah tidak?" "Beda, Bu. Apartemen itu hasil kerja keras Casandra sendiri." Meski ada sedikit uangku buat menambahkannya, dan Ibu tidak tahu. "Kalau yang ini sayang, Bu, dikasih begitu saja sama Aisyah. Dia siapa? Baru juga masuk jadi bagian dalam hidupku, tapi sudah dapat kenyamanan seperti ini. Enakan di dia. Aku yang kerja keras, tapi dia yang menikmati. Lagian Ibu kan tahu apartemen ini mahal. Belum tentu juga hubungan kami ini akan langgeng sampai selamanya, bisa saja kan." "Hei! No, no! Kamu akan tetap sama Aisyah sampai kapanpun. Dia istri yang baik, Yan. Mantu yang baik juga buat Ibu. Jadi jangan ucapkan kata itu. Lagian kamu itu suaminya, ya wajarlah memberikan sesuatu yang berharga. Mau seperti apa nantinya hubungan kalian, apa salahnya ngasih sesuatu yang berkesan buat dia. Kamu kan nanti bisa beli lagi. Terserah mau semahal apapun, pasti bisa. Uangmu banyak, Yan. Beda sama Aisyah." Ibu menundukkan pandangannya ke bawah. Tatapannya seketika sendu. Hatiku jadi mencelos melihatnya. "Beda apanya, Bu?" Aku bertanya heran melihat sikap Ibu barusan. Beliau terlalu membela Aisyah yang baru saja dua hari jadi istriku. Kenal juga baru, tapi kenapa Ibu bisa sesayang itu sama dia. Tampak Ibu menghela napas berat. Lalu …. "Aisyah itu anak yatim piatu. Ibu tahu banyak kesedihan yang disembunyikan olehnya, tapi di depan orang, ia terlihat tegar. Hidupnya tidak senyaman kamu ataupun Casandra. Dia sudah kehilangan orangtua sejak kecil. Namun yang membuat Ibu salut, ia tidak pernah mengeluh atau terlihat menampakan kesedihannya tersebut. Kamu tahu Yan, Ibu harus mengeluarkan uang berapa untuk melepaskan Aisyah dari jerat bibinya?" Nada bicara Ibu lebih pelan, terdengar seperti berbisik. Mungkin takut kedengaran Aisyah. "Maksud Ibu?" Aku bertanya balik karena tidak mengerti apa maksud perkataan Ibu barusan. Mataku memicing menunggu jawaban darinya. "Lima ratus juta." Ibu menyebutkan angka nominal yang tidak sedikit. Ibu rela mengeluarkan uang sebanyak itu, apakah untuk …? Tiba-tiba pikiranku tertuju pada satu hal. "Buat?" Kembali aku bertanya tak sabar. Ibu melirik ke arah pintu kamarku. "Kita ke dapur saja. Ibu haus, " ucap Ibu kemudian bangun dari duduknya beranjak pergi tanpa berucap apa pun lagi. Memang segelas air dingin di atas meja tadi sudah habis diminumnya. Aku dengan cepat mengekor langkahnya. Sepertinya ini merupakan pembicaraan serius hingga Ibu mengajakku ke ruangan lain agar tak terdengar oleh sosok yang menjadi objek pembicaraan kami. Padahal kurasa duduk di ruang tengah pun, tidak akan terdengar sampai ke dalam kamarku karena kami bisa bicara sepelan mungkin. Sampai area dapur, aku mengambil tempat dengan duduk di kursi tinggi yang berada di bar kecil. Kulihat Ibu membuka kulkas dan mengeluarkan satu botol air mineral kemasan satu liter, dan meletakkannya di hadapanku. Dua buah gelas tak luput diambilnya. "Ibu belum cerita kan awal ketemu Aisyah dimana?" Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya. Memang benar dan aku penasaran kenapa Ibu bisa memilihkan istri seperti dia. "Dulu Ibu tidak sengaja ketemu Aisyah di panti Asuhan. Kamu kan tahu kalau Ibu sering mengunjungi panti asuhan buat berbagi sedekah atau sumbangan. Uang dari kamu juga Ibu bagikan ke sana juga kan atas permintaanmu. Pas waktu itu lagi ada acara ulang tahun teman Ibu yang pengen ngerayain ultahnya di sana, nah pas waktu itu ada Aisyah. Ibu lupa dia di sana ngapain ya?" Tampak Ibu berpikir dengan memijit keningnya. Mencoba mengingat. "Apa ya? Lupa. Pokoknya ada dia di sana dengan beberapa orang anak pesantren lainnya. Itu kejadian sudah lima bulan lalu. Ibu susah ingatnya. Nah yang membuat Ibu jatuh cinta itu saat dia nenangin anak kecil–anak panti di sana yang sedang nangis kejer. Cara dia menangani anak itu hingga diam, sangat lembut Yan. Anak itu pun sangat nyaman dengan Aisyah. Tiba-tiba saja Ibu langsung sreg sama dia dan pengen jadiin dia mantu." Ibu masih sempatnya memuji wanita tersebut. "Terus yang 500 juta itu apa hubungannya?" "Tunggu dulu, diam dan dengarkan. Ibu kan belum selesai ceritanya." Seketika aku diam. Lalu mengambil gelas yang dibawa Ibu dan mengisinya dengan air mineral. Kemudian meminumnya sampai tandas. "Ibu cari info. Ibu tanya orang panti. Terus setelah tahu, Ibu cari info lagi lewat pesantren tempatnya menimba ilmu. Semuanya Ibu dapatkan, sampai alamatnya pun, Ibu juga tahu. Nyuruh orang juga sih pastinya menyelidiki seperti apa keluarga Aisyah dan … seperti yang kamu lihat, inilah hasilnya." "Apa? Itu soal 500 juta?" tanyaku tak sabar. Jawaban Ibu belum jelas. Aku lebih penasaran soal uang ratusan juta tadi. Serta maksud Ibu soal membebaskan Aisyah dari jerit bibinya. "Bibinya minta bantuan. Bahasa halusnya sih gitu. Kayak syarat lah. Si Yuni meminta Ibu memberikannya uang 500 juta. Katanya buat menambah barang dagangan serta merenovasi toko kelontongnya yang atapnya mulai bocor kalau Ibu jadi meminang keponakannya itu. Kasarnya sih kayak upah karena telah membesarkan Aisyah dari kecil. Dari yang Ibu tangkap, Yuni itu ngeluh sudah banyak keluar uang katanya buat Aisyah. Apalagi katanya harapannya kan cuma Aisyah, buat ikut bantu-bantu dia. Sedang anaknya yang cowok tinggal beda kota, sudah menikah dan kata Yuni susah dimintai uang. Ibu cuma kasihan sama Aisyah. Anak itu terlalu baik, masih mau membantu Yuni, padahal cuma dimanfaatkan doang." Sudah kuduga, perkiraanku tentang bibinya Aisyah tepat. Cuma mementingkan uang. "Tunggu. Kapan Ibu ngasih uang itu dan kenapa Ibu tetap melanjutkan pernikahan kami? Orang kayak Bi Yuni nggak bakalan berhenti minta uang, meskipun sudah dikasih uang sebanyak itu, pasti nanti dia akan minta lagi, dan lagi. Kalau niat bantu, Ibu tinggal angkat Aisyah jadi anak, gampang kan, nggak perlu angkat jadi istri Ryan." Aku protes akan sikap Ibu yang mau-maunya menuruti keinginan bibinya Aisyah. Harusnya kalau sudah tahu perangai buruknya batalkan saja pernikahan kami. Orang seperti itu hanya akan jadi benalu. Apalagi dia tahu aku sudah beristri. Bisa jadi akan memanfaatkannya untuk memerasku agar tidak membocorkan rahasia ini ke orang banyak. "Tidak akan. Kamu tenang saja. Ibu sudah bikin perjanjian hitam di atas putih. Pokoknya sudah Ibu takut-takuti dia. Ibu juga ngancam akan menyebarkan tentang dia yang sudah menjual keponakan demi uang." "Apa bedanya sama Ibu? Sama saja, kan Ibu yang 'beli'. Sama-sama situasi yang nggak menguntungkan," tukasku sedikit mencemooh tindakan Ibu. "Nah karena itulah kami sama-sama diam, tidak ada yang berani membocorkan, adil kan?" kelakarnya seolah benar. "Ibu aneh." "Sudahlah, jangan ledek Ibu. Pokoknya cobalah kamu ngalah. Cintai Aisyah kayak kamu mencintai Casandra. Nggak sulit kok. Apalagi Aisyah itu orangnya penurut, beda sama istrimu itu. Dia juga nggak kalah cantik." Ingin sekali membantah kalau masalah hati tidak bisa dipaksa, tapi berdebat dengan Ibu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya capek. "Entar deh dicoba. Ryan masuk dulu Bu, mau istirahat." Aku memutus pembicaraan. Ingin beranjak pergi tapi …. "Ibu tahu kalau Aisyah puasa hari ini?" Entah kenapa tiba-tiba ingin menyampaikan informasi ini sama Ibu. Tidak penting tapi tiba-tiba saja terlintas di benak. "Udah tahu. Aisyah yang cerita waktu Ibu tanya udah makan apa belum. Tega kamu, Yan. Malam tadi baru digituin udah dibiarkan puasa. Harusnya kamu larang. Aisyah memang terbiasa berpuasa karena bawaan dari pesantren, tapi kan kamu suaminya. Kalau dilarang pasti dia nurut." Ternyata salah lagi. Harusnya aku tidak cerita. Jadi bumerang buatku sendiri. Aku hanya mampu menggaruk kepala melampiaskan kebodohanku. "Sudah sana istirahat. Temani istrimu. Nanti sore Ibu akan siapkan makanan buka buat Aisyah. Untung Ibu berinisiatif beli bahan makanan buat masak tadi sebelum kesini. Insting Ibu kuat kalau di apartemen ini pasti tidak ada bahan makanan." Ibu masih saja menggerutu. Lamunanku akan pembicaraan bersama Ibu buyar ketika mendengar kalimat penutup Aisyah saat mengakhiri membaca kitab. Seketika aku menoleh ke arahnya. Terdiam sekian detik saat netra kami saling terpaut satu sama lain hingga Aisyah berucap, "Apa Abang butuh sesuatu?" Entah kenapa menatapnya selalu menimbulkan perasaan aneh buatku. Apa itu karena kasihan setelah tahu kisah hidupnya? "Tidak." Aku segera membuang muka. Tidak ingin memperdalam perasaan tersebut. Nanti membuatku jadi lemah saat berhadapan dengannya. Setelah kata penolakanku, tidak ada sahutan lagi darinya. Aku pun tak berani menoleh. Mendengar kisah hidupnya yang menderita membuatku jadi dilema. Apa apartemen ini harus kuberikan padanya? Tapi sayang. Harga apartemen ini hitungan miliar. Masih berat kalau harus kuberikan padanya dengan cuma-cuma. Kalaupun seandainya kami bercerai, harga jual apartemen ini lebih dari cukup untuk biaya hidupnya nanti. Pasti dia tidak akan menderita lagi. Atau sebaiknya kami membuat perjanjian saja untuk nasib rumah tangga kami kedepannya? Aku hanya tidak ingin memanfaatkan kesulitan orang lain demi egoku sendiri. Terutama Ibu. Beliau bilang ingin menyelamatkan Aisyah, tapi kenyataannya berbeda. Ia malah menjerumuskan wanita polos itu ke dalam pernikahan tanpa cinta, dan itu bersamaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN