Terpaksa Satu Kamar

1814 Kata
"Aisyah, Buka!" "Aisyah!" Kuketuk kamar Aisyah dengan cepat, disertai memanggil namanya agar segera dibukakan pintu. Kuharap ia tidak tidur, karena aku akan merasa bersalah telah mengganggu waktu istirahatnya. Apa lagi ia sedang berpuasa. "Ya, Bang." Pintu terbuka. Aisyah terlihat bingung. Mungkin caraku yang terlalu memaksa minta dibukakan pintu terlihat janggal. "Cepat bereskan pakaianmu sekarang juga!" "Hah?! Maksudnya Bang?" Ia masih dalam mode bingung, dan gelagapan mendengar perintahku. "Nggak usah tanya dulu. Turuti saja, cepat!" titahku tak ingin ditanya, apalagi dibantah. Bukan waktunya menjelaskan. Aku gelisah dengan melirik ke arah pintu depan. "Tapi Bang–" Aisyah terdiam. Telunjukku sudah memberi isyarat padanya untuk diam. Aisyah tampak pasrah dan berjalan menuju arah lemari pakaiannya. Ia sigap memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper yang diambilnya dari lemari. Aku mencoba membantu agar cepat selesai dengan membereskan beberapa buku yang tergeletak di atas nakas. Meraupnya sekaligus dan keluar dari kamarnya menuju kamar sebelah, kamarku. Kuletakkan beberapa bukunya di atas meja kerja. Lalu kembali ke kamarnya. Siapa tahu ada yang harus kubereskan lagi agar mempercepat proses perpindahan paksa ini. Ponselku tak berhenti berdering dan aku tahu itu siapa. "Sudah?" Kulihat Aisyah sudah memegang pegangan kopernya dan menatapku yang masuk ke dalam kamarnya dengan nanar. Kemudian ia mengangguk lemah. Kuedarkan pandangan ke penjuru kamar, mengamati dengan teliti apakah barang Aisyah masih tertinggal atau tidak. Jangan sampai Ibu tahu kalau kami pernah beda kamar karena kalau Ibu memang benar menginap, maka di kamar inilah ia tidur. "Sini!" Belum sempat kuraih kopernya, bel apartemen berbunyi. Pasti itu Ibu. Aisyah memberi kode bertanya lewat kedua matanya. "Itu Ibu, makanya ayo!" Kutarik koper dan tangannya secara bersamaan. "Ibu?" "Hussstttt!" Kuminta ia diam sembari menuntunnya ke kamar sebelah. "Ibu datang, tapi kenapa–" "Diam!" pintaku memaksanya masuk kamarku. "Kenapa ke sini, Bang?" Matanya mengitari kamarku dengan kening mengernyit. "Kamu diam saja di sini, jangan keluar kamar, dan itu! Bereskan pakaianmu ke dalam lemari pakaian sebelah sana." Telunjukku ke arah walk in closet dimana lemari pakaian berada. "Cari yang kosong dan masukkan ke dalam sana. Aku menemui Ibu dulu." Gegas langkahku menuju pintu depan meninggalkan Aisyah yang terbengong sendiri. Di depan masih terdengar bel dibunyikan. begitupun dengan ponselku yang masih berdering karena panggilannya belum dijawab. Sampai di depan pintu, aku mengambil napas panjang dulu sebentar, sebelum pintu kubuka. "Lama sekali?" Wajah sewot Ibu tampak di hadapan. Belum sempat kujawab, Ibu mendorong badan ini dengan sengaja, dan masuk begitu saja ke dalam apartemen. "Ini!" Disodorkannya dengan kasar bungkusan warna cokelat berisi belanjaan yang ada di tangannya. Di belakang terlihat koper kecil berwarna hitam. Sepertinya benar Ibu akan menginap di sini. Ibu mengitari setiap area apartemenku seolah sedang mencari sesuatu atau orang. Pasti Aisyah. Aku mengekor langkahnya di belakang dengan bersikap santai seraya membawa belanjaannya tersebut. "Mana Aisyah?" Benar kan mencari Aisyah. Akhirnya Ibu bertanya juga. "Tidur, Bu." Sengaja berbohong agar Ibu tidak menemui Aisyah dulu. Kuharap wanita itu tidak berisik saat membereskan barangnya di kamarku. "Jam segini masih tidur?" Nadanya masih terdengar ketus. Pasti Ibu menilai buruk Aisyah karena jam segini masih tidur. Maaf, Syah. Terpaksa. Semoga saja Ibu tidak suka dan marah hingga berinisiatif membatalkan pernikahan kami. Mumpung wanita itu belum ku'apa-apain'. "Memangnya tadi malam 'mainnya' berapa ronde?" Ibu mengedipkan matanya ke arahku. Lalu mengambil duduk di sofa ruang tengah. Astaga! Aku speechless dengan mulut ternganga. Dugaanku salah. Ibu tidak marah pada menantu barunya tersebut, tapi malah menggodaku. Ia kira malam tadi kami sudah itu. Kuputar bola mata dengan mulut terkunci, jengah dengan pertanyaannya. "Eh, kok malah ditaruh di atas meja. Sana, masukkan ke dalam kulkas!" Sorot matanya mengarah ke belanjaan yang kuletakkan sembarang. Isinya bahan makanan mentah dan ada beberapa yang siap saji. "Iya, nanti." Ibu menanggapinya dengan gelengan kepala. "Gimana, Aisyah. Servicenya oke kan? Masih gadis." Sedikit berbisik saat mengucapkan dua kata terakhir. Dikerlingkannya sebelah mata ke arahku. Astaga, Ibu, santai sekali mengatakannya. Beliau bahkan terlihat penasaran soal malam pengantin kami. Padahal semalam kami tidak melakukan apapun. Kamar saja berbeda, bagaimana bisa gituan. "Sudahlah, Bu. Ini ngapain Ibu kemari? Pakai nginap segala." Aku mengubah topik. "Lah, emang nggak boleh? Apartemenmu ya apartemen Ibu juga. Ibu ke sini mau pantau kalian berdua, sudah ngapaian aja. Mesra, apa mesra. Takutnya nggak ngapa-ngapain. Sikap kalian kan kemarin jaim-jaiman, nggak mau dekatan. Terutama kamu, Yan." Ibu menebak seraya menggerakkan tangannya membentuk gelas meminta diambilkan minum olehku. Aku menghela napas berat dengan menggelengkan kepala. Bingung dengan pertanyaan Ibu. Tadi sok-sokan menanyakan berapa ronde, eh ternyata beliau ragu juga apakah kami sudah gituan. Dengan malas aku beranjak ke area dapur. Menghindari menjawab pertanyaan tersebut. Tidak lupa membawa belanjaan yang harus dimasukkan ke dalam kulkas. Langkahku yang ingin menghampiri Ibu dengan membawa segelas air minum terhenti saat berada di depan mulut ruang tengah. Di sana, ada pemandangan yang mengejutkan. Kulihat Ibu tidak duduk sendiri, tapi bersama Aisyah. Wanita itu ternyata keluar kamar dan sekarang duduk bersebelahan dengan Ibu. Padahal sudah jelas kuperingatkan untuk tetap berada di dalam kamar. Katanya mau jadi istri penurut, tapi satu peringatan saja sudah dilanggarnya. Apa ini wajah aslinya? Sok polos. "Ryan, Kenapa bengong? Sini!" panggil Ibu dengan lambaian tangan. Wajahnya ceria tidak seketus sebelumnya. Apa karena Aisyah? Aku mendekat. Lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka berdua. Kemudian meletakkan segelas air dingin di di hadapan Ibu. "Kamu ini bilang Aisyah masih tidur. Wong Ibu lihat dia lagi ngaji kok di kamar." Ibu menegurku, mematahkan pernyataanku sebelumnya. Mataku menyipit sembari menatap Aisyah. Mencari jawaban darinya. Namun sayangnya wanita itu cuma tersenyum tipis tanpa menanggapi tatapan tajamku. Apa tidak peka? "Dari mana Ibu tahu?" Terpaksa kutanyakan karena penasaran. "Ibu tadi masuk kamarmu. Kepo saja mau tahu Aisyah memang masih tidur atau lagi ngapain, karena terdengar suara berisik dari dalam sana." Senyum semringah menghiasi bibir Ibu. Dielusnya bahu Aisyah dengan penuh kasih sayang. Jauh berbeda perlakuannya dengan Casandra. Ia tidak pernah seakrab ini, seperti saat sedang bersama Aisyah. "Oh." Hanya membulatkan bibir membentuk huruf O yang bisa kulakukan. Malas menanggapi lagi. "Nah, ini, Ibu punya kejutan buat kalian." Ibu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku dan Aisyah mengamati dalam diam. Lalu keningku mengernyit saat sebuah lembaran kertas diletakkannya di atas meja. Kuambil dan membacanya, lalu bertanya spontan. "Tiket ke Bali?" Kepala Ibu mengangguk mengiyakan. Kutatap Aisyah yang sedari tadi hanya diam saja. "Iya, dua tiket buat bulan madu kalian." Dirangkulnya Aisyah yang duduk di sebelahnya. "Bulan madu?" Tampak Aisyah membulatkan matanya terkejut. Ibu mengangguk cepat. "Ibu tidak salah memesan tiket ke Bali?" Kulempar tiket yang kuambil barusan ke atas meja dengan wajah kesal. "Dimana salahnya?" Tanpa rasa bersalah Ibu bertanya. Lalu mengambil selembar tiket tersebut seperti sedang menelitinya. "Bu, sadar tidak anak Ibu ini siapa?" Ibu kembali mengernyitkan kening tampak heran. Sebelum dijawab, sudah kusela lebih dulu. "Adrian Dinata, Bu. Seorang artis terkenal di Indonesia yang pasti dikenali banyak orang juga dan Ibu memilih Bali sebagai tempat tujuan bulan madu? Apa itu bukan tindakan bodoh?" "Eh, eh. Jaga mulutmu Yan. Masa Ibu dibilang bodoh?!" Ibu melotot ke arahku. Salah lagi. Maksudnya bukan begitu. "Bukan gitu, Bu, maksud Ryan," elakku cepat menyela mencoba menjelaskan. Bukan Ibu yang kubilang bodoh, tapi tindakannya yang sembrono dan suka bertindak sesuka hatinya itulah yang kusebut bodoh. "Kamu bilang bodoh itu merujuk ke Ibu." "Bukan Bu. Maksudnya bukan seperti itu, tapi …, ehm, Iya, Ryan salah, Ryan minta maaf, ya, Bu." Tak ingin memperpanjang perdebatan. Lebih baik minta maaf lebih dulu. "Ya, mau gimana lagi. Ibu lupa kalau kamu artis dan bakal dikenali orang. Bisa saja kan kalian nyamar, atau pakai apa kek biar nggak dikenali. Kalau Aisyah kayaknya nggak perlu deh karena orang nggak bakalan tahu apalagi kenal dengannya. Paling kamu Yan. Tinggal taruh kumis atau apalah di wajahmu. Gampang kan?" Dengan mudahnya Ibu mencoba memberi solusi atas tindakannya yang cukup gegabah tanpa bertanya terlebih dulu padaku. "Nggak semudah itu Bu. Bahaya. Apalagi kalau sampai ketahuan Casandra kalau aku liburan ke Bali sama wanita lain. Bakal panjang ceritanya. Belum lagi keciduk tim gosip yang lambe itu, makin parah. Karirku dipertaruhkan Bu. Lagian kenapa Ibu nggak koordinasi dulu atau bertanya sama Ryan?" sesalku mengeluhkan sikap Ibu. Aku harus bisa membuat Ibu percaya dan membatalkan rencana bulan madu ke Bali. Sebenarnya bisa saja pergi ke sana. Namun harus dengan persiapan yang matang. Tidak bisa pergi begitu saja. Apalagi tetiba pergi besok sesuai jadwal yang tertera di tiket. Paling tidak aku harus mengubah sedikit penampilan agar tidak dikenali siapa pun. Hanya saja karena malas dan tidak ingin dipaksa ke sana, aku harus mampu membuat Ibu ragu akan rencananya dan membenarkan ucapanku. "Ya terus gimana? Masa batal? Sayang Yan tiketnya. Mana Ibu sudah pesan villa buat kalian di sana." Tuh kan, asal pesan tanpa tanya lagi. Ibu … Ibu. Sudah beberapa kali kepala ini digeleng-gelengkan menanggapi sikap Ibu. Capek. "Tetap nggak bisa. Soal tiket dan villa biarkan saja, Bu. Mau gimana lagi. Ryan nggak bisa ke sana. Salah Ibu kan nggak tanya dulu." Sengaja berakting sedikit menyalahkannya. Ibu tampak berpikir. "Kalau gitu bulan madu di sini saja. Nggak papa' kan Syah di apartemen ini dulu. Nanti Adrian pasti ajak kamu pergi." Ibu berusaha membujuk Aisyah. Syukurlah, rencana ke Bali batal. Aku tidak siap pergi berduaan dengan istri baruku tersebut. Kuperhatikan wanita tersebut hanya diam mengangguk. Terlalu pasrah atau memang kebiasaannya? Eh, tapi apa jangan-jangan ini semua permintaan Aisyah? Bisa jadi dia yang menyarankan Ibu memintaku bulan madu ke Bali dengannya? "Yan, kamu urus sendiri deh bulan madu kalian. Ke luar negeri juga nggak masalah biar lebih gampang dan nggak dikenali orang. Iya kan? Soal biaya kamu urus juga, uangmu kan banyak. Mama sudah rugi banyak karena gagal ke Bali. Manjain Sandra aja bisa, masa buat Aisyah nggak bisa," tukas Ibu membandingkan kedua istriku itu dan membuyarkan pikiran burukku tentang Aisyah. "Iya nanti. Terus sekarang apa? Ibu nggak jadi nginap di sini kan?" "Kata siapa? Ibu sudah sengaja bawa koper, masa nggak jadi? Tentulah Ibu tetap nginap di sini. Lagian Ibu penasaran sama apartemen kamu ini. Pengen ngerasain tinggal di sini. Kayaknya apartemen ini lebih mewah dari yang lainnya. Iya kan Yan?" Manik matanya mengedarkan pandangan ke segala sisi ruang apartemenku. Mengamati tiap area yang tertangkap oleh matanya. "Masa' Bu? Nggak juga. Kurang lebih sama dengan yang terdahulu," jawabku sedikit gugup. Memang kenyataannya apartemen ini paling mewah dari yang sudah ada. Bahkan melebihi mewahnya apartemen Casandra karena rencananya apartemen ini akan kuberikan ke Casandra sebagai hadiah ultahnya bulan depan. Aku sudah malas menutupi keberadaan apartemen ini padanya. Takut wanitaku itu salah paham dan menangkap maksudku dengan pemikiran berbeda. Harusnya tidak ada yang boleh tahu apartemen ini selain aku, tapi malah keduluan Ibu dan wanita yang terpaksa kuajak tinggal di sini–Aisyah. "Kenapa dirahasiakan? Jangan bilang ini kejutan buat Casandra, ya?" Ibu menatapku menyelidik. Tebakan Ibu benar. "Apaan Bu, ini apartemenku. Casandra sudah punya apartemen sendiri." Mencoba membantah. Semoga Ibu tidak curiga. "Baguslah. Kalau begitu ini untuk Aisyah." "Apa?!" Perkataan Ibu membuatku terperanjat kaget. Apa-apaan Ibu dengan mudahnya bilang apartemen ini untuk Aisyah. Wanita yang baru hadir dalam hidupku. Tidak! Aku tidak akan memberikan apartemen ini padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN