Aku menatap tajam wanita yang duduk di seberangku ini. Namun malah dibalasnya dengan kernyitan dahi tanpa rasa bersalah. "Ngomong apa tadi sama Ibu sampai dia mau nginap di sini?" ketusku dengan wajah sangar. Pertanyaan itu terlontar juga untuknya.
"Tadi? Bukankah Abang dengar sendiri Ibu ngomong apa?" Eh, bukannya takut, dia malah balik bertanya.
Benar sih, aku dengar sendiri apa saja yang mereka bicarakan dan Aisyah tidak ngomong apapun karena ibukulah yang terus bicara tanpa henti sedari tadi. Sedang Aisyah cuma menganggukkan kepala, mengiyakan semua ucapan ibu. Aku yang malas mendengarkan obrolan dari satu sisi itu memilih fokus makan saja.
Sial, kalau sampai Ibu beneran menginap di sini, maka sudah dipastikan aku harus satu kamar dengan Aisyah. Parahnya lagi, dia pasti minta kami secepatnya bikin anak. Itu kan yang diinginkannya, cucu--anak dariku.
"Ya sudah, aku sudah kenyang. Mau masuk kamar dulu." Kulempar lap tangan ke atas meja dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkannya yang tercengang akan sikapku.
Bodoh amat, lagi kesal. Sepanjang jalan menuju kamar aku ngedumel. Sampai kamar pun langsung merebahkan diri dan menghubungi Ibu kembali. Namun ponselnya tiba-tiba mati, tidak dapat dihubungi. Pasti disengaja.
"Aarrgh!" erangku dengan melempar bantal ke lantai.
***
Terdengar suara ketukan pintu. Irama ketukannya familiar. Itu Aisyah. Pasti aku sedang bermimpi, tapi kenapa mimpinya seperti nyata. Ini semua karena Aisyah yang suka mengganggu tidurku dengan mengetuk pintu kamar seperti itu. Ada saja yang ditanyakannya. Kepalaku menyelusup ke bawah bantal mencoba menghindari suara bising tersebut.
"Bang, Bang Adrian." Nah, pakai panggil nama lagi. Ini fix suaranya Aisyah. Kenapa harus muncul di mimpiku juga? Please pergilah, Syah. Biarkan aku mimpi indah dengan Casandra.
"Bang, Bang Adrian. Subuh Bang. Yuk solat bareng." Suaranya merdu, lembut caranya memanggilku, tapi tetap saja bikin gondok. Pakai ajak solat segala. Mana pernah aku solat kalau bukan akting di drama religi. Semua hanya formalitas tuntutan peran.
Mataku mengerjap pelan mencoba menajamkan penglihatan secara perlahan. Suara panggilan itu ternyata masih menggema disertai ketukan pintu kamar. Sangat nyata seolah aku yang membawanya dari mimpi, sampai aku terperangah sendiri setelah menegakkan badan, duduk dan berhasil mengumpulkan kesadaran kalau bahwa itu semua bukan mimpi.
Itu Aisyah!
"Bang." Senyum wanita berpakaian muslimah ini terkembang sempurna saat pintunya kubuka. Ia menyapaku ramah. Entah yang ke berapa kali pintu ini kubuka untuknya.
"Hm," jawabku tak bersahabat sembari membuka lebar mulutku, menguap. Alis naik satu isyarat bertanya.
"Abang mandi gih. Biar Segar, sekalian Aisyah tunggu solat subuh bareng."
"Kalau mau solat, solat aja sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak, ya."
"Tapi–"
Brak! Pintu kututup keras. Sengaja. Sempat kulihat bibir Aisyah terbuka ingin bicara, tapi tertahan. Aku tak peduli apa yang ingin dikatakannya. Aku memilih kembali ke tempat tidur. Menghabiskan hariku di sana dengan bermalas-malasan. Hari ini libur. Besok pun seterusnya libur juga tidak ada aktivitas kerja apapun. Aku harus menunggu seminggu lagi sampai cuti kerjaku selesai, agar terbebas dari apartemen ini dan terjebak bersama wanita kampungan tersebut.
Ternyata Aisyah tak menyerah. Ia masih saja mengetuk pintu kamarku dengan berbagai seruannya. Tutur katanya masih sopan dan lembut. Tidak sedikitpun terdengar keras, apalagi marah saat pintu tersebut tidak terbuka untuknya. Mungkin karena merasa lelah dan pintunya tidak dibukakan juga, akhirnya ia berhenti dengan sendirinya.
"Ahhh!" Aku meregangkan otot karena terlalu lama rebahan sambil main game online. Mulai bosan dan capek, kuputuskan keluar dari kamar. Jam menunjukkan pukul satu siang. Perut sudah berbunyi minta diisi. Tiba-tiba ….
Astaga, Aisyah! Pagi tadi dia makan apa? Di sini kan tidak tersedia stok makanan. Kuamati sekitar ruangan, tidak terlihat sosok berpakaian lebar tersebut. Pasti di kamarnya.
Segera ku ketuk pintu kamarnya. Pintu tersebut terbuka dengan cepat. Di depanku berdiri seorang wanita dengan senyum merekah mengenakan mukena putih. Di tangan kanannya memegang sebuah buku.
"Iya, Bang. Abang perlu sesuatu?" tanyanya lembut. Masih saja ia bersikap lembut padaku, padahal sedari awal aku selalu ketus padanya. Malahan terkesan kasar. Namun ia selalu membalasnya dengan wajah begitu manis.
Aku tercengang sekian detik sampai tersadar kembali. "Tidak. Tidak ada." Lalu membalikkan badan dan melangkah pelan ingin menjauh. Ada apa denganku? Bisa-bisanya tadi terpesona pada wanita seperti itu.
"Eh, kamu sudah makan?" Kuputar badan menghadapnya lagi. Harusnya kalimat itu yang kutanyakan padanya dari awal, tapi malah ambyar dan lupa seketika saat ia bertanya lebih dulu.
Aisyah menggeleng. Kuhembuskan napas kasar karena sudah menduga demikian.
"Mau pesan apa? Biar kupesankan. Di sini tidak ada makanan, harusnya kamu minta aku pesankan makanan. Jangan diam saja, terus menahan lapar sampai jam segini. Kalau kamu sakit, aku juga yang repot." Mulutku kembali menceramahinya karena kesal.
"Aisyah puasa, Bang. Maaf tidak izin." Terdengar sesal dari nada suaranya.
Mataku membelo mendengarnya. Gerakan tangan di atas layar ponsel terhenti seketika.
Puasa? Jadi dia puasa? Ngapain izin? mau puasa apa nggak itu bukan hakku melarangnya, terserah dia, aneh.
"Oh." Hanya itu yang terucap dari bibirku, seolah kehabisan kata-kata. Ingin ngedumel kembali, tapi semua perkataan yang terlintas dalam benakku lenyap seketika. Harusnya mendengar dia sedang berpuasa itu hal yang wajar karena dia dari pesantren, hanya saja aku tak menduga sampai ke arah sana. Kukira ia kelaparan di dalam kamar karena tak berani meminta makan padaku. Mana tadi sudah sok memarahinya panjang lebar. Hasilnya bikin malu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, aku membalik badan ingin melangkah pergi begitu saja, tapi langkah kakiku terhenti tepat saat ingin masuk ke dalam kamar.
"Kamu puasa?" tanyaku memastikan, merasa tidak yakin dengan perkataannya setelah teringat akan sesuatu hal. Syukur pintu kamarnya belum ditutup kembali dan ia masih berdiri di depan sana.
Aisyah mengangguk.
"Yang benar? Sahur pakai apa?" Baru ingat kalau di apartemen ini tidak nyetok makanan, atau pun bahan mentah lainnya. Jadi dia makan pakai apa?
"Sebiji kurma dan air putih, Bang." Wanita di depanku ini tersenyum lagi saat mengatakan hal tersebut. Tidak tampak kesedihan di kedua matanya. Pendar matanya berbinar terang seolah ia bahagia.
Sebiji kurma dan air putih? Apa itu kenyang? Aku terdiam membeku di depannya saat mendengar hal tersebut.
Sebiji kurma? dua kata itu terulang terus di kepala, seolah otakku sedang berpikir keras menggambarkan bagaimana bentuk sebiji kurma bisa membuatnya berpuasa pada hari ini. Di bayanganku benda tersebut kecil dan tidak mengenyangkan. Aku merasa jadi orang jahat membiarkan istri baruku itu berpuasa dengan benda lebih kecil dari bola pingpong. Beda cerita kalau dia bilang makan sepuluh biji kurma, mungkin aku akan percaya kalau dia sedang berpuasa.
"Bang, maaf. Aku numpang naruh kurma di kulkas Abang. Maaf baru izin. Dari tadi mengetuk kamar Abang tapi nggak dibukain. Kalau Abang keberatan, nanti Aisyah ambil lagi."
"Oh, nggak. Nggak papa'. Apa yang mau kamu simpan, di manapun di apartemen ini bebas. Silakan," ujarku tidak keberatan sama sekali dengan pikiran yang masih terbagi.
"Makasih, Bang," balasnya menyinggung kan seulas senyum. Manis. Kenapa jadi candu buatku melihatnya tersenyum seperti itu?
"Bang." Tangannya mengibas di depan wajahku. Sial! Aku sempat-sempatnya terpesona dan terlihat bengong di depannya. Ilmu apa yang dimilikinya hingga memperdayaku?
"Ya?"
"Apa Abang perlu sesuatu?"
"Tidak." Aku menggeleng cepat dan berlalu pergi menjauh dari kamarnya.
Aneh, kenapa dadaku berdegup kencang seperti itu saat menatapnya? Ada apa dengan matanya? Tidak ada yang istimewa di sana, atau dirinya. Aku seperti terhipnotis. Sudah terlalu sering aku bertatap pandang dengan banyak wanita. Bahkan yang lebih cantik dari Casandra pun pernah, tapi tak pernah kurasakan perasaan aneh seperti yang terjadi barusan.
Aku berhenti di depan lemari pendingin dua pintu besar, dan kubuka salah satu pintunya. Mataku memicing terpaku pada bungkusan plastik yang terlihat asing di dalam lemari es yang tak berpenghuni. Kuambil dan memeriksa isinya.
Ini kurmanya? Sebiji kurma kuambil dalam bungkusan plastik hitam tersebut dan mengamatinya dengan kening mengernyit.
Ini kurma biasa, yang kutahu dijual dengan harga dua puluh ribuan. Kenapa bisa tahu, karena ART di rumah pernah beli yang model seperti ini. Keras dan teksturnya tidak selembut seperti kurma yang biasa dibelikan Casandra saat bulan puasa. Jadi Aisyah makan ini buat sahur? Hanya sebiji? Sebiji kurma yang kecil dan terlihat kurus mengerucut ini apa bisa mengenyangkannya? Padahal ia bisa makan lebih dari sebiji kurma karena kalau dihitung isinya lebih dari 5 biji. Kenapa juga harus berhemat dan menyakiti diri? Kalau dia bilang dan minta, pasti kubelikan yang mahal dan paling enak.
Aku menggeleng. Ingin rasanya membuang bungkusan tersebut tapi urung karena tidak mungkin membuang benda tersebut tanpa seizin pemiliknya. Jadi kumasukkan kembali ke dalam kulkas.
Aku berjanji akan memesankan makanan yang enak dan banyak buat dia buka puasa nanti sore.
***
"Iya, Bu." Akhirnya Ibu menghubungi. Ponsel kuletakkan di atas meja rias dengan menghidupkan tombol pengeras. Tanganku sibuk memasang jam tangan. Aku baru saja selesai mandi dan sudah berpakaian santai sambil merapikan diri di depan cermin.
"Ibu di depan apartemenmu. Bukain!"
"Apa?!" Kuraih ponsel dan menempelkannya ke daun telinga.
"Bukain pintunya!" Perintah tersebut terdengar jelas di telingaku karena Ibu menjerit hingga terpaksa sedikit kujauhkan ponselnya.
"Ibu ngapain ke sini?" Bergegas berjalan keluar kamar.
"Ya nemuin mantu."
Astaga, tidak!