Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu diketuk.
"Siapa sih? Nggak bisa ya, biarin aku tidur barang sebentar." Mata yang berat, enggan 'tuk dibuka. Rasa lelahku belum hilang, sudah terbangun oleh suara ketukan pintu kamar. Padahal ponsel sudah sengaja kumatikan agar tidak terganggu oleh dering suaranya. Casandra sudah kuhubungi lebih dulu dengan berbohong padanya kalau sinyal di tempatku berada lagi buruk. Jadi, dia tidak akan curiga kalau aku susah dihubungi. Namun ternyata aku lupa kalau di rumah ini, aku tidak sendiri. Itu pasti Aisyah. Apalagi maunya?
"Apa?!" bentakku setelah pintu berhasil kubuka. Wajah polos Aisyah tampak di hadapan. Ia sudah berpakaian lengkap dengan hijab menutupi kepalanya.
"Anu, itu. Aku mau …." Entah apa maunya. Ia bicara tergagap begitu. Mataku memicing dengan dahi mengkerut.
"Aku mau masak, tapi bingung nggak ada apapun di dapur, dan nggak ada kompornya juga."
Astaga, drama apa lagi ini. Waktu istirahatku terganggu karena urusan dapur. Di sana memang tidak nyetok makanan. Kulkas pun kosong melompong kecuali hanya terisi minuman. Aku sangat jarang ke apartemen ini. Jadi tidak ada niat buat menyetok bahan makanan ataupun memasak. Soal tidak ada kompor, sepertinya ini pr lagi buatku. Aku harus menjelaskan lagi, apa saja yang ada di area dapur karena bagian sana sebenarnya sudah diisi furniture lengkap beserta kompor gasnya. Hanya saja Aisyah yang gaptek teknologi dan tidak mengetahuinya, membuatku harus kerja keras dan banyak bersabar menghadapinya.
"Kamu lapar?"
Aisyah mengangguk, tapi setelahnya menggelengkan kepala.
"Aku ingin masak buat kamu." Aku mendesah berat. Sedikit ada rasa senang melihat seseorang berniat ingin memasakkan sesuatu untukku. Namun sayangnya itu bukan Casandra.
Kuamati arloji di tangan, sudah menunjukkan jam delapan malam. Sudah malam rupanya. Cukup lama aku tertidur. Pasti Aisyah kelaparan.
"Kita pesan saja. Di sini memang tidak ada apa-apa. Aku jarang ke sini." Segera beranjak mendekati nakas tempat dimana ponselku berada. Membuka aplikasi gofood dan mencari menu makanan siap antar yang bisa dipesan.
"Kamu mau makan apa?" Aku menoleh ke arahnya yang masih berdiri di depan pintu.
"Terserah."
"Suka apa?" tanyaku lagi. Jemariku masih menari di atas layar ponsel yang menyala. Bingung saat memilih menu.
"Ehm … terserah. Samain saja sama Abang." Refleks aku membalikkan badan menghadapnya.
"Kalau aku makan batu, kamu ikutan juga?" Aku mulai kesal mendengar kata terserah terucap terus dari mulutnya.
Aisyah terdiam sambil meremas kedua jemarinya. Ia mengangguk pelan, meski terlihat ragu.
Mendengar jawabannya yang tidak masuk akal, aku ngegas menghampiri.
"Kamu apa?" Aku bertanya seraya berkacak pinggang menghadapnya.
"A--aku?" Aisyah lagi-lagi terbata. Ia memundurkan langkahnya. Mungkin ketakutan dengan sikapku barusan. Aku mendengkus kesal dengan membuang napas kasar sambil menggelengkan kepala. Heran ada wanita seperti dia. Apa sebaiknya kubuatkan dia les public speaking biar bisa bicara benar dan tertata?
***
"Kamu siapa?" Kami berada di area ruang tamu. Kuajak ia duduk di sana, dan mulai mengintrogasinya lagi.
Aisyah diam sambil menundukkan kepala.
"Jawab!" Nada kunaikkan. Terserah disebut pemarah atau suami galak. Aku dalam mode kesal. Sepertinya wanita ini harus sedikit dikerasin.
"Aisyah, Bang."
"Kamu berbentuk apa? Manusia, jin, hewan, apa robot?" Pertanyaan nyelenehku kali ini berhasil membuatnya mendongak dan membelalakkan mata.
"Manusia. Sama seperti Abang lah. Apa maksud Abang bertanya seperti itu?" Meski lembut, terdengar kekesalan dari jawaban yang ia berikan.
Akhirnya terdengar juga kalimat yang lebih panjang dari biasanya, apalagi kata terserah.
"Kalau kamu manusia, kamu punya keinginan sendiri, maka perjuangkan. Jangan apa-apa bilang terserah dan terserah. " Kuluapkan kekesalanku padanya. Aku paling benci melihat orang yang gampang menyerah.
"Hm …." Aisyah mendesah. Lalu berani menatapku. Aku hanya ingin jadi istri yang Solehah buat Abang. Yang nurut sama suami sesuai ajaran agama kita," balasnya membuang muka.
Aku terdiam. Speechless mendengar jawabannya. Ucapannya membuat perasaan aneh kembali muncul di hati.
"Tapi kalau kamu punya keinginan, sampaikan saja. Belajarlah menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain. Sikapmu yang seperti ini bisa dimanfaatkan orang, Syah. Contohnya tuh bibimu." Nada bicaraku sedikit melunak.
Lagi-lagi matanya membulat sempurna kalau sedang terkaget.
"Bibiku baik kok."
"Baik? Dia cuma mikirin uang. Bukan kamu. Aku tahu kamu terpaksa menikah denganku karena paksaan darinya."
"Bibi sudah banyak berjasa untukku, Bang. Apa salahnya membalas semua itu dengan memenuhi satu keinginannya."
"Meskipun harus mengorbankan perasaanmu, hatimu, masa depanmu?" Aisyah menganggukkan kepala, tanda iya.
Hatimu terbuat dari apa, Syah? Kenapa terlalu baik?
"Aku sudah memesankan makanan untukmu. Tunggulah! Nanti security di bawah yang akan mengantarkan ke sini. Aku ke kamar dulu." Malas mendebat lagi, aku memutuskan masuk kamar. Kutinggalkan begitu saja Aisyah di area ruang tamu.
Masuk kamar sudah tidak bisa lagi memejamkan mata. Rasa kantuk sudah hilang gara-gara istri baruku. Akhirnya aku memilih mandi. Baru saja keluar dari kamar mandi, suara ketukan pintu berbunyi kembali.
Apalagi Aisyah? Bisakah tidak mengganggu?
"Apa?" Pintu baru kubuka, Aisyah malah membalikkan badannya dengan cepat membelakangiku.
"Maaf, aku mencari sapu tapi tidak ketemu," ujarnya berucap tanpa menolehku. Apa ada yang salah denganku hingga ia tidak mau menatapku? Kupindai penampilan sendiri yang hanya menggunakan handuk di pinggang.
Oh, karena ini? Tiba-tiba aku punya ide jahil mengerjainya. Senyum seringai terbit di kedua sudut bibirku.
"Masuk!" titahku memintanya masuk ke dalam kamar.
"Masuk?" Ia bertanya gugup.
"Iya. Pilihkan baju untukku. Aku terbiasa disiapkan. Biasanya istri pertamaku begitu." Sengaja berbohong untuk memuluskan rencanaku. Bukankah ia bilang ingin jadi istri Solehah dan penurut sama suami? Nih, makan tuh solehah!
Aku masuk ke dalam kamar lebih dulu dan duduk di tepi tempat tidur menunggunya masuk mendekat.
Kulihat Aisyah mulai masuk dan menghampiri.
"Itu! Lemarinya di sana. Carikan baju santai untukku." Arah tangan menunjuk ke walking closet yang berada di ujung sisi kamar.
"Di sana?" Ia menunjuk ke tempat yang kuarahkan. Kuanggukkan kepala membenarkan.
Meskipun apartemen ini jarang kutempati, tapi lemari pakaiannya tetap terisi penuh oleh pakaianku agar tidak kerepotan lagi mencari pakaian seandainya menginap di sini. Seperti yang terjadi saat ini.
Aisyah berjalan pelan menuju tempat yang kutunjuk. Lalu ia membuka pintu salah satu lemari besar yang berdiri di hadapannya.
Kuperhatikan dia terlihat mengedarkan pandangan ke dalam lemari tersebut seperti sedang mengamati dengan seksama.
"Kalau menurutmu di sana tidak ada baju yang kuminta, coba beralih ke lemari lain." Terlalu lama melihatnya berdiri dan belum memilihkan apapun, membuatku mengarahkannya lagi ke lemari lainnya, karena sebenarnya aku tahu lemari barusan isinya baju formal.
Aisyah menutup lemari tersebut dan beralih ke lemari sebelahnya. Kepalanya tampak bergerak ke kanan dan ke kiri mengamati pakaianku yang berada di dalamnya.
"Yang ini?" tanyanya telah berhasil mengambil satu stel pakaian terdiri dari baju dan celana.
Kuamati pakaian yang ia pilihkan. Tidak buruk. Pilihannya Lumayan. Baju dan celana pendek yang dipilihkannya, pas untuk dikenakan malam ini.
Aku mengangguk tanda setuju dengan pilihannya. Mengulur satu tangan meminta pakaian tersebut. Aisyah mendekat dan memberikannya.
"Mau kemana?" tanyaku saat melihat Aisyah ingin keluar dari kamar ini.
"Abang mau berpakaian, jadi aku keluar–"
"Tidak perlu. Di sini saja. Tunggu aku berpakaian." Mendengar ucapanku, Aisyah hanya diam meski dengan ekspresi kaget. Ia segera memalingkan badannya lagi dari hadapanku. Mungkin tidak ingin melihatku berpakaian.
Ckckck! Istriku ini polos sekali. Bukankah kami suami-istri. Lagi pula, semua gadis diluaran sana menginginkan hal ini, dan dia melewatkan kesempatan yang ada.
***
"Ini kompornya. Memang tampilannya seperti ini," jelasku pada Aisyah. Aku menunjukkan kompor gas induksi yang tampilannya berbeda dari kompor gas biasa karena tertanam langsung di meja dapurnya. Kuajarkan juga cara menghidupkannya dan bagaimana cara memasak di sana.
Tampak sekali ekspresi kekaguman terpancar dari wajahnya saat aku menunjukkan cara menghidupkan kompor gas tersebut. Sebelum ke area dapur, aku sudah memberitahukan dimana letak sapu dan peralatan kebersihan lainnya. Tempat gudang dan semua area yang ada di dalam apartemen ini. Akhirnya kami room tour apartemen mewahku ini. Kupikir ini memang harus dilakukan karena bagaimanapun juga Aisyah akan tinggal di sini sampai batas yang tidak ditentukan. Entah seperti apa pernikahan kami. Aku pun tidak tahu akankah bertahan lama, atau hanya jadi kenangan saja.
***
Aku memperhatikan Aisyah dalam diam saat ia telaten menyiapkan makan malam kami di meja makan. Makanan yang dipesan olehku akhirnya tiba juga. Baru kusadari ternyata aku pun merasakan lapar juga.
"Silakan Bang, dimakan. Apa ada yang kurang?" Setelah selesai menata makanan di piring, Aisyah bertanya.
"Sudah cukup." Aku mencoba bersikap datar di depannya. Jujur, melihat situasi ini membuatku seperti merindukan makan berdua bersama Casandra. Sudah lama kami tidak makan dalam satu meja, dan dilayaninya langsung olehnya. Dia sangat sibuk semenjak karirnya menanjak tinggi, hingga urusan makanku saja tidak pernah disiapkannya lagi.
"Bang, Abang Ryan." Suara lembut Aisyah membuyarkan bayanganku bersama Casandra.
"Ya?"
"Abang kenapa melamun? Dari tadi hanya memainkan sendok saja." Ternyata Aisyah memperhatikanku.
"Berhentilah memanggilku Abang. Terdengar aneh di kupingku." Kualihkan pertanyaannya ke pembahasan lain.
"Aku harus panggil Abang apa?"
Sejenak berpikir. Panggilan apa yang pantas untukku? Mas, Pak? Ah tidak terlalu tua. Sayang, Beib, honey? Tidak! Tidak! Kami menikah terpaksa, panggilan itu tidak cocok untuk kami. Kakak? Tapi aku bukan kakaknya. Kalau panggilan Abang, aku sama sekali tidak sreg.
"Terserah kamu lah! Suka-suka semaumu. Atur aja." Saking mumetnya memikirkan hal tak guna ini, yang ada aku jadi pasrah dipanggil apapun olehnya.
Kami makan dalam diam. Namun sesekali ekor mataku mengarah ke arahnya. Mengamati diam-diam bagaimana caranya makan.
Dia makan pelan sekali. Bahkan nasi dalam kotak makannya dibagi dua. Begitupun dengan lauk di dalamnya. Melihat hal tersebut membangkitkan rasa penasaranku.
"Kenapa makannya sedikit, kamu tidak suka dengan makanan yang sudah kupesan?"
Aisyah menggeleng. "Suka Bang. Enak."
"Kalau enak kenapa dibagi dua?"
Aisyah memperhatikan makanan di piringnya.
"Ini terlalu banyak untuk Aisyah, Bang. Takut nggak habis, sayang mubazir. Makanya Aisyah pisah dulu biar tidak jadi bekas saya, Bang."
Aku manggut-manggut tanda mengerti.
"Apa Abang mau tambah? Ini." Mulutku refleks terbuka lebar mendengar tawaran darinya. Tersadar lantas sontak menggelengkan kepala.
"Porsinya tidak terlalu banyak. Harusnya kamu bisa menghabiskannya. Siang tadi pun kulihat porsi makanmu sedikit. Kamu bukan artis yang setiap hari harus mengontrol pola makanmu. Jangan jaim di depanku. Aku lebih suka cewek apa adanya. Tidak perlu tebar pesona dan bersikap elegan karena aku tidak akan tertarik. Kamu bukan levelku."
Aisyah menatapku nanar. Lalu menyuap makanan dengan lebih cepat. Gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan tak menatapku lagi setelahnya, hanya fokus ke bawah, ke atas piringnya.
Ingin menegur tapi ada perasaan tidak enak. Tiba-tiba ponselku berdering.
Ibu? Panggilan video call lagi.
"Iya Bu, ada apa?" Akhirnya kuterima panggilan video darinya.
"Kamu lagi apa? Bukan di kamar? Mana Aisyah?" Baru ditanya, malah dicerca balik.
Ponsel kamera depan kuarahkan pada wanita yang berhenti memainkan sendok dan garpu di atas piring.
"Eh, mantu ibu lagi makan ya? Syukurlah diperhatikan Ryan, awas saja kalau ditelantarkan, nggak Ibu anggap anak lagi." Mataku melotot seketika.
Lah, tega amat.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Aisyah dengan senyum merekah. Wajah sendunya sudah berubah seketika. Harus kuakui, dia cukup manis saat tersenyum.
Kubiarkan mereka bicara berdua. Aku fokus menghabiskan sisa makananku yang tinggal setengah.
"Aisyah, besok Ibu main ke sana ya sekalian nginap." Mendengar ucapannya, makanan yang barusan masuk ke dalam mulut, terhambur keluar saking terkejutnya.
"Apa Bu?" Ponsel kurebut cepat dari tangan Aisyah. Namun sayang, sambungan video call sudah dimatikan Ibu.
"Aish! Sial."