Hening. Tanpa dikomando mereka yang berada di ruangan serempak diam seolah menunggu jawabku. Aku menatap ke sisi Aisyah mengharapkan responnya atas pertanyaan tersebut. Dia hanya tersenyum tipis seraya mengusap punggung tanganku yang masih menggenggam erat tangan satunya. "Biarlah itu menjadi rahasia. Aku tidak mau membukanya di sini. Nanti di pengadilan saja semuanya terungkap karena tidak mungkin aku menceraikannya tanpa alasan yang jelas." Kuambil keputusan ini karena kupikir tidak gentle kalau membuka semua aibnya di sini. "Maaf menyela sebentar, Yan." Ibu yang kuminta diam sebelum diminta bicara akhirnya membuka suara. Satu mic lainnya yang memang disediakan di atas meja sudah berada di tangannya. "Bu," tegurku menaikkan kedua alis isyarat bertanya. Ibu membalas dengan menggelen

