Baru saja usai memberi nafkah batin kepada Citra, Zayn harus bangun untuk menyelesaikan pekerjaannya. Semenjak menjabat sebagai direktur, dia lebih sibuk dan banyak waktu tidur yang terpangkas begitu saja. Sementara itu, Citra membalikkan posisi tidur, tangannya meraba-raba kasur kosong di sampingnya, lekas ia membuka mata. Jarang sekali ditinggal sendiri saat tidur membuat tidur Citra tak nyenyak. Dia pun menyingkirkan selimut, memakai baju kembali kemudian pergi membuatkan teh untuk suaminya. Ia tahu, Zayn pergi karena untuk bekerja. "Sayang, aku buatkan teh untukmu." Citra datang menghampiri Zayn. "Kenapa bangun?" tanya Zayn mencubit cangkir lalu menyeruput teh buatan istrinya. Manisnya pas sesuai dengan takaran yang ia ajarakan dulu. "Nggak bisa tidur, nggak ada kamu," celoteh Cit

