“Apartemen ini hadiah ulang tahunku dari papa.” Citra membuka pintu masuk apartemen besar nan mewah. “Humaira tidak pernah tinggal di sini?” “Enggak. Kalau dulu kabur dari rumah, pasti tinggalnya di apartemen kawan, yang nggak bisa diketahui mereka lah. Tapi …” Citra menggantungkan ucapannya. Kedua matanya kembali basah saat melihat betapa jahatnya ia sebagai anak karena selalu membangkang. “Kalau Humaira nangis kita pindah dari sini.” Zayn mulai mengancam Citra. Tidak bermaksud untuk keras padanya, hanya saja Zayn ingin melihat Citra kembali tersenyum seperti dulu. Air mata itu semakin deras keluar namun langsung disambut dengan tawa dan pelukannya. “Jahat, aku nggak dibolehin nangis lagi,” celoteh Citra manja. “Saya tidak mau lihat kadar kecantikan istri saya ini menurun.” Zayn mula

