Seiring berjalannya waktu, Citra sudah terbiasa tidak mendengar suara papanya lagi yang selalu menelepon, video call bahkan hanya sebuah voice note untuk mengingatkan agar Citra selalu menuruti setiap perintah suaminya. Ia mulai membuka hati menerima semua takdir yang sudah ditetapkan sang Maha Kuasa kepadanya. Ia mulai menyadari hukum alam setiap yang hidup wajib mati. Namun berita miring di luar sana masih terus bergulir. Setiap Citra melintasi warga kampung, gelarnya sebagai wanita malam sudah mendarah daging di bibir mereka. Banyak hujatan keluar dari mulut mereka sampai membuat hatinya remuk. “Jangan didengarkan ucapan mereka! Anggap saja mereka tidak paham.” Ucapan Zayn itulah yang membuat Citra sabar dan terus berusaha untuk sabar. Entah sampai kapan ia bisa sanggup menahan semua

