Sosok Apa?

2040 Kata
Happy Reading . . . *** "Lembur, Jo?" Tanya Kelly yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Jam memang sudah menujukkan pukul tujuh tiga puluh malam, namun komputer yang Jojo pakai dan masih banyaknya kertas dokumen yang berserakan di meja kerja wanita itu, menandakan dengan Jojo yang memang berniat untuk lembur. "Pengen-nya sih pulang. Tapi nanti gue diomelin Bu Verren, laporan belom kelar." "Emangnya deadline?" "Lu kayak nggak tahu aja, bos gue 'kan luar biasa. Pengennya tahu-tahu udah selesai aja laporan, nggak peduli baru dikasih tadi sore juga. Taunya yang penting beres cepet." "Lanjut di rumah 'kan bisa." "Gue lagi selek sama nyokap. Jadi enakkan lembur di kantor." "Sendirian nggak apa-apa? Lu tinggal sendirian loh, Jo." "Iya, nggak apa-apa." "Ya udah, kalo gitu gue pulang duluan ya. Cowok gue udah nunggu di bawah soalnya." "Bahagianya punya pacar. Terus setiap pulang kantor pake selalu dijemput, lagi. Romantis banget cowok lu deh." "Makanya cari, biar bisa double date sama gue." "Iya. Nanti kalo Tuhan udah ngasih. Gue 'sih terserah pemberian dari yang atas aja." "Yang atas? Plafon?" "Lampu, Kell." Balas Jojo yang membuat temannya itu langsung tertawa. "Ya udah, gue duluan ya. Dadah, Jojo." "Dah... besok-besok beliin gue sarapan lagi ya, Kell." "Ogah! Bangkrut gue, emangnya lu anak gue!" "Kelly, kejam!" Menghilangnya Kelly dari pandangan Jojo, membuat Jojo langsung berfokus kembali kepada pekerjaannya. Setelah memasang earphone yang sudah wanita itu putar dengan lagu-lagu kesukaannya pada masing-masing telinga, Jojo pun semakin berfokus dan tenggelam dalam pekerjaannya. Sebisa mungkin ia ingin menyelesaikan sisa pekerjaannya, agar keesokan hari yang kebetulan hari weekend ingin Jojo gunakan untuk berhibernasi di dalam kamar, dan lebih tepat lagi di atas ranjang miliknya. Hingga tidak terasa waktu sudah berlalu dan kini waktu juga menunjukkan pukul sembilan tiga puluh. Tepat disaat pekerjaannya yang sudah selesai dan gedung kantor yang sebentar lagi juga akan ditutup, Jojo pun mematikan komputernya sambil merapikan dokumen-dokumen yang masih berantakan di atas mejanya. Namun, tidak lama kemudian ponselnya pun berdering dan nama kontak sang ibu pun tertera di layarnya. Dengan cepat Jojo mengambil ponsel dari atas meja dan mengangkat panggilan tersebut, sebelum Marina memarahinya karena sang ibu yang tidak suka jika saat ditelepon namun dirinya lama menjawab. "Iya, Bu." "Lu ngelayap dimana?" "Ngelayap? Orang Jojo masih di kantor." "Nggak tau waktu lu?" "Iya, Ibu. Ini Jojo juga mau pulang. Lagi beres-beres, terus mau pesen ojek. Tapi Ibu udah keburu telepon duluan." "Nggak usah pesen ojek, gua udah di depan lobby." "Ibu ngapain pake jemput 'sih?" "Lu tuh ya..." Telinga Jojo memang sedang mendengar ocehan Marina yang lagi-lagi menasihati anak satu-satunya itu. Tetapi matanya tidak, kini pandangan Jojo justru tertuju kepada pintu pantry yang kurang lebih berjarak dua meter di depannya, yang kini sedang terbuka perlahan dengan sendirinya. Jantung wanita itu pun langsung berdegup dengan kencang, dan semakin berdegup disaat samar-samar ia melihat sosok yang sedang memperhatikan dirinya. Tidak ingin mengetahui lebih banyak lagi, Jojo pun sudah tidak ingin melihat sosok berwujud seseorang itu lebih jelas lagi. Karena kini ia sudah mematikan sambungan telepon Marina, dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas dengan cepat. Tidak peduli akan yang terjadi selanjutnya, Jojo pun langsung berlari sekencang mungkin keluar dari kantornya. Bahkan ia pun sampai lupa untuk absen pulang, karena rasa takut yang dirasakannya tersebut sudah begitu menyerang wanita itu. Sekencang mungkin Jojo berlari menuju lift yang akan mengantarnya menuju lobby. Setelah menekan tombol lift dengan berkali-kali, pintu lift pun baru terbuka dan secepat mungkin Jojo melesat masuk, tidak lupa juga dengan menekan tombol lantai lobby yang membuat pintu lift tertutup. Sambil mendudukkan diri di lantai lift yang dinaikinya, Jojo pun mengatur nafas yang begitu terengah sambil mengusap wajah yang sedikit berkeringat dengan kasar. Kedua kakinya terasa sangat lemas dan gemetar disaat yang bersamaan, sehingga wanita itu tidak bisa berdiri dengan kedua kakinya lagi. Sambil menenangkan detak jantungnya yang masih juga berdetak dengan sangat cepat, Jojo pun berusaha melupakan sesuatu yang ia lihat tadi. Walaupun sosok yang sedang memperhatikannya tadi sama sekali tidak terlihat menyeramkan dan bahkan sosok tersebut berbentuk nyata layaknya manusia pada umumnya, Jojo tetap tidak ingin mengingat-ingat sosok pria yang tidak nyata, namun sangat Jojo bisa lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri. Setelah lift yang membawa wanita itu sudah sampai di lobby, Jojo segera bergegas keluar setelah pintunya terbuka. Secepat mungkin ia melangkah dan mencari keberadaan mobil sang ibu yang berada di luar sana. Mobil berjenis SUV bewarna abu-abu yang sudah sangat dihafalnya itu sudah terparkir tidak jauh dari pelataran lobby gedung kantor wanita itu. "Lu 'tuh ya, kalo sekali aja nggak bikin orangtua lu ini kesel, kayaknya hidup lu kurang asik." Cerca Marina setelah mendapati keberadaan sang anak yang sudah duduk di sampingnya. "Jangan ngomel-ngomel dulu kenapa sih, Bu?" Protes Jojo sambil menutup pintu mobil, lalu memakai sabuk pengaman. "Gimana gua nggak ngomel? Mana ada anak durhaka kayak lu yang langsung matiin telepon dari orangtuanya sendiri, padahal lagi dinasehatin?" Balas Marina sambil menjalankan mobil. "Kebiasaan Ibu 'tuh bukan nasehatin anaknya sendiri, tapi lebih ke ngomel sama caci maki." "Jawab terus lu ya!" "Ibu nggak tahu 'sih? Tadi 'tuh kondisinya lagi nggak memungkinkan banget buat dengerin omelan Ibu." "Lu udah nggak mau denger omelan gua lagi?" "Jojo diliatin makhluk halus, Ibu! Jojo takut tau nggak?" "Diliatin doang takut? Liatin balik, sekalian ajak kenala juga! Kali aja lu jodohnya sama yang begituan." "Nggak tau ahh! Sebel sama Ibu! Kalo anaknya lagi takut sama panik nggak pernah ditenangin," protes Jojo dengan sangat kesal karena sikap sang Ibu yang tidak pernah mengerti. "Heh! Asal lu tau? Gue nggak bakalan bela-belain jemput lu, mikirin lu yang sampe jam segini belom sampe di rumah, nggak pake ngabarin gue segala lagi, kalo gue nggak sayang sama lu. Coba gue nggak saya sama lu, udah gue jual lu dari dulu." "Tuh 'kan! Ibu selalu pengen jual Jojo. Emangnya Jojo dikira apaan mau dijual-jual?" Balas Jojo yang marah. "Gue bercanda. Gitu aja baper." "Bercandaan Ibu nggak tahu waktu." "Iya, iya. Kasihan anak gue, takut ya abis diliatin orang jelek?" Ucap Marina yang kini menarik bahu sang anak satu tangan yang tidak memegang kendali mobil, lalu disandarkan pada bahunya. "Lagian lu kenapa, 'sih? Dari kemaren kayaknya digangguin terus sama yang begituan. Kemaren katanya shower kamar mandi lu nyala sendiri, terus sekarang diliatin sama yang nggak keliatan di kantor lu. Heran gua. Bukannya ditaksir sama cowok, tapi lu lebih ditaksir sama yang nggak kasar mata." "Ibu aja heran, apalagi Jojo. Takut tau dari kemarin Jojo digangguin mulu. Perasaan Jojo orangnya nggak suka SKSD deh." "Apaan tuh SKSD? Gua baru denger." "Ibu kudet ihh... kurang update. Itu 'kan bahasa lama. SKSD itu artinya sok kenal sok dekat. Jojo 'kan nggak suka kayak gitu orangnya, tapi digangguin terus yang nggak kasat mata." "Yaudah, nggak usah dipikirin. Ntar juga ilang sendiri itu setan. Kita ke Kebon Sirih aja, mau nggak?" "Mau! Jojo kangen nasi goreng," balas Jojo yang langsung bersemangat. "Giliran makanan aja lu, nomer satu." "Iya dong!" *** Deringan ponsel terus saja berbunyi sehingga membangunkan sang pemilik mulai terganggu akan tidurnya yang sudah diusik. Setelah meraba-raba dan mendapatkan ponsel yang selalu ia taruh di atas meja tepat di samping ranjangnya, dengan sangat malas dan juga menahan rasa kantuk Jojo pun mengangkat panggilan tersebut. "Hallo..." sapa Jojo dengan suara malas. "Gue yakin pasti lo belom bangun?" "Udah tau pake nanya." "Yaudah cepet bangun, terus siap-siap. Temenin gue kondangan, yuk." Ajak Kelly di ujung sana. "Kebiasaan deh. Kalo ada apa-apa sukanya mendadak." "Kondangan di Grand Melia, Jo. Kali ini gue jamin selain lu kenyang, nanti lu pulang kondangan juga langsung dapet pacar." "Ajakan lu langsung buat gue jadi males dengernya." "Baper deh. Ayolah, temenin. Cowok gue jadi panitia di sana karena itu kondangan temennya dan temen gue juga. Jadi gue disuruh dateng sendirian. Masa lo tega biarin gue sendirian? Nanti kalo ada yang godain gue gimana?" "Males ahh! Nanti pasti ujung-ujungnya gue ditinggal sama disuruh pulang sendirian. Emangnya gue apaan?" "Nggak, nggak ada acara-acara kayak gitu. Gue janji dan sumpah nggak bakal ninggalin lo sendirian. Gue jemput lo ya? Nanti gue anterin pulang juga." "Jam berapa?" "Masih nanti sore sih." "Untung nanti sore. Kalo nggak, lu 'tuh udah ganggu masa hibernasi gue tau?" "Jadi lo mau ya?" "Iya." "Asik! Sayang Jojo deh kalo kayak gini." "Yaudah, gua mau tidur lagi." "Iya, sana tidur lagi. Yang nyenyak ya beruang kutub." Setelah mematikan sambungan telepon, Jojo pun menaruh ponsel dengan asal dan hendak melanjutkan kembali tidurnya. Namun, rasanya tidak sah jika pagi-pagi sang ibu tidak mengganggu dirinya. Karena disaat baru saja Jojo menutup mata, suara teriakan nyaring Marina yang sedang memanggil anak satu-satunya itu langsung membuat Jojo membuka mata kembali. Suara yang berasal dari lantai bawah itu tentu membuat Jojo merasa begitu kesal dibuatnya. Dengan menggeram kesal, Jojo pun menyingkap selimut yang membungkus tubuh dalam tidurnya itu, lalu ia beranjak dari atas ranjang dan melangkah keluar dari kamar dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Belum sampai di lantai bawah, telinga Jojo sudah menangkap suara teriakan Marina yang lagi-lagi menyapa indra pendengarannya. "Iya, Ibu. Astaga! Pagi-pagi gini kayaknya seneng banget bikin anaknya naik darah," protes Jojo sambil melangkah menuju dapur saat mendengar suara sang ibu yang berasal dari sana. "Pagi pala lu gede! Udah jam sepuluh gini, anakku tercinta." "Jojo 'kan mau hibe... ehh... ada tante Rita." Ucap Jojo yang tiba-tiba saja terpotong setelah melihat kehadiran salah satu sahabat Marina yang sedang duduk di kursi meja makan. "Apa kabar tante Rita? Maaf ya, Jojo masih pake piyama sama bau iler gini." Sambung Jojo sambil menyalami dan mencium punggung tangan sahabat sang ibu itu. "Kabar tante baik. Nggak apa-apa masih pake piyama, yang penting cantiknya tetep nggak ilang kok." Balas tante Rita dengan senyuman lembut. "Tante bisa aja. Jojo 'kan jadi malu." "Iyalah cakep, turunan siapa dulu?" Timpal Marina yang sedang memasak di depan kompor. "Idihh! Giliran anaknya dipuji aja, baru bangga sama ikut-ikutan." "Sirik aja lu!" "Tuh... tante Rita bisa liat sendiri 'kan? Ibu Jojo 'tuh kejam," adu-nya sambil mendudukkan diri di samping tante Rita. "Kira-kira bisa nggak ya dituker sama tante Rita. Jojo jadi anaknya tante aja deh kalo gitu." "Tante juga mau punya anak kayak Jojo. Udah cantik, nurut sama orangtua, sopan, terus pekerja keras lagi. Jadi menantunya tante aja ya?" "Menantu tante? Buat anak tante yang mana?" "Anak tante, si Ardy. Emangnya yang mana lagi? Anak tante 'kan cuma satu." "Ardy bukannya udah nikah ya tante?" Tanya Jojo dengan sangat bingung. "Nggak apa-apa. Tante nggak suka sama menantu tante, abisnya pemalas sih jadi orang." "Astaga tante! Nggak boleh gitu," peringat Jojo yang sangat terkejut. "Lu yang bener aja dong, Ta. Masa mau jadiin anak gue pelakor?" Sambung Marina yang ikut berbicara. "Nggak apa-apa. Walaupun nggak baik, dosa, dilarang, buat yang satu ini gue rela nanggung semuanya." "Jojo nggak mau ah kalo kayak gitu." "Mau aja ya, Jo? Tante pengen... banget punya mantu kayak Jojo." "Jangan! Gue nggak mau anak gue diserang sama menantu lu gara-gara lakinya direbut," ucap Marina sambil menghampiri meja makan lalu menaruh makanan yang baru saja selesai dimasak. "Bener tuh!" Timpal Jojo sambil mengambil lalu menikmati sepotong tempe goreng yang baru saja matang di hadapannya. "Kenapa nggak dari dulu aja ya Mar, kita jodohin anak kita?" "Anak gue tuh sama kayak anak lu yang susah buat dijodohin. Tapi anak lu lebih mending karena sadar jadi lebih milih cari jodoh sendiri dari pada dicariin. Lahh... anak gue, baru aja diajak ketemuan sama cowok yang mau gue jodohin, susahnya setengah mati. Alasannya ada aja." "Sekarang udah jaman ya ngomongin orang di depannya langsung?" Tanya Jojo yang menyindir. "Biar lu sadar sekalian!" Balas Marina kesal. "Jadi mau ya Jo, jadi menantunya tante?" Tanya tante Rita yang masih juga belum menyerah. "Udah, yuk Ta. Kita berangkat sekarang," balas Marina yang memilih untuk mengajak sahabatnya itu pergi. "Ibu mau kemana?" Tanya Jojo. "Arisan. Lu jaga rumah ya, mbok Min lagi pulang ke rumahnya sampai besok." "Ihh... Jojo diajak Kelly ke kondangan nanti sore." "Jangan bawa mobil lu ya, nyetir lu belom lancar." Peringat Marina. "Orang Jojo mau dijemput sama Kelly." "Yaudah bawa kunci nanti. Sama jangan ke clubing, gue seret pulang lu kalo sampe ketawan ke sana." "Berarti kalo nggak ketawan boleh dong ya?" "Langsung gua usir lu dari rumah ini," balas Marina yang langsung pergi dan disusul dengan tante Rita yang sejak tadi hanya bisa tertawa-tawa kecil mendengar pembicaraan antara ibu dan anak yang bisa membuat kepala menggeleng-nggeleng keheranan. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN