Suasana di kantor terasa tak beda dari biasanya. Cukup tenang dan kondusif. Beberapa suara pun terdengar dengan semestinya. Suara mesin fotokopi, suara langkah kaki rekan-rekan yang mondar-mandir mengurus berkas, ataupun suara diskusi dari beberapa orang yang tengah memutuskan sesuatu. Semuanya masih dalam kondisi yang baik. Begitu pun dengan Meeta. Terlebih karena ruangannya agak kedap suara, keberadaan yang paling tenang di dalam kantor mungkin saja adalah dirinya. Jemarinya tidak berhenti menekan tuts keyboard dengan mata tak berkedip ke layar monitornya. Karena kemarin dia cuti satu hari, pekerjaannya menjadi dua kali lipat lebih banyak. Arham pun sedang tidak ada di ruangan itu. Sepuluh menit yang lalu, laki-laki itu meminta izin untuk berjalan-jalan mengunjungi kantor pemasaran temp

