Lima belas menit telah berlalu. Tapi, Meeta belum juga selesai membereskan kantong sampahnya. Sedang Arham duduk menunggu Meeta dengan surat misterius di tangannya. "Kamu beneran nggak mau aku bantuin? Kamu belum sembuh total, Meet," tanya Arham. Dengan tanpa menatap Arham, tangan Meeta terus menggosok teras dengan sebuah kain bekas. Dia lapisi kantong sampah yang sobek hingga lima lapis jumlahnya, meyakinkan bahwa tidak akan lagi ada kebocoran di kantong tersebut. "Nggak, Mas. Aku perfeksionis banget kalau soal sampah. Bisa-bisa, tidurku nggak nyenyak kalau kamu yang beresin. Kamu tahu kan kalau aku nggak bakal meninggalkan setitik kotoran pun? Jadi, serahin aja semuanya sama aku!" jawab Meeta yakin. Meski sedikit tidak tega melihat Meeta sibuk malam-malam, Arham tak punya pilihan lai

