"Woah! Akhirnya aku bisa tidur di kasur kesayanganku lagi. Padahal aku cuma sehari dirawat di klinik. Tapi, rasanya kayak berhari-hari," ucap Meeta girang. Dengan hati gembira, dia rebahkan tubuhnya di atas springbed lembut di rumah kontrakan. Dengan kepala yang masih dibalut kapas dan perban, Meeta menatap langit-langit kamarnya dan mengawang kembali kejadian yang baru menimpanya. Rasa nyeri dan perih masih sangat terasa di dahinya. "Emang sekeras itu ya lemparan batunya?" celetuk Meeta pelan. Tiba-tiba, Arham datang dan ikut merebahkan dirinya di samping Meeta. Dengan kedua tubuh yang saling menempel satu sama lain, Arham ikut menatap ke langit-langit kamar dengan lampu neon putih yang cukup terang. Masih dengan isi kepala Meeta, dia sejenak teringat akan sesuatu yang belum ia dapatk

