"Meeta! Warung nasi padangnya tutup. Jadinya Mama beli gado-gado. Kamu suka gado-gado, 'kan?" tanya Bu Endang sambil merapikan sandalnya di depan pintu. Meeta segera mengusap wajahnya dan melepaskan genggaman tangannya pada Arham. Dia ingin bersikap senormal mungkin agar ibunya tidak lagi mengomel panjang lebar tentang kesehatan mentalnya. Arham pun tidak keberatan dengan sikap Meeta. "Oh ... iya, Ma. Nggak apa-apa, kok," jawab Meeta singkat. Bu Endang langsung menghampiri Meeta dan duduk di tempat semula. Jemarinya dengan telaten menyiapkan gado-gado porsi jumbo yang sebelumnya berada di dalam kantong plastik hitam. Dikeluarkannya satu bungkus besar gado-gado dan diletakkan di atas piring yang disediakan oleh klinik. "Meet, nanti kamu pulang ke rumah Mama dulu, ya. Dari pada kamu ngga

