"Halo? Siapa ini?" jawab Meeta dengan sedikit ketus. Kekesalannya pada Arham secara tidak sengaja mempengaruhi nada bicaranya. "Aku Ray. Maaf ya Meet, semalem aku pakai handphone kamu tanpa izin. Aku cuma mau nelpon keluarga kamu biar kamu nggak sendirian di klinik. Dan ... aku juga sengaja nyimpen nomor kamu. Biar aku bisa hubungi kamu dan tahu keadaan kamu. Maaf ya kalau lancang," jawab seseorang di seberang telepon. Seketika Meeta terkesiap saat mengetahui bahwa Ray yang meneleponnya. Lirikan mata ia jatuhnya pada Arham yang sudah duduk di ujung tempat tidur dengan wajah pasrah. Tapi, Meeta tetap melanjutkan obrolannya dengan Ray. "Oh ... kamu, Ray. Iya, nggak apa-apa. Justru aku yang harus berterima kasih ke kamu. Kalau bukan karena bantuan kamu, pasti aku udah jadi mayat dari semal

