Meeta mulai merasa terhuyung-huyung dan sulit bangkit dari posisinya. Kesadarannya seperti naik turun, bagai terombang-ambing hingga tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Di tengah suasana tegang yang terjadi, tiba-tiba Meeta merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang dari belakang. Tangan orang itu langsung merengkuh Meeta dengan erat. Perlahan, Meeta berusaha menolehkan kepalanya untuk menatap siapa sosok yang datang menyentuhnya, ada sedikit harapan bahwa Arhamlah yang datang untuk menemui Meeta. "Meet! Kamu nggak apa-apa? Meet!" pekik suara itu. Kedua mata Meeta seperti mengantuk berat. Rasanya, dia ingin segera tertidur dalam rengkuhan tangan itu. Kepalanya sudah terasa semakin pening berat dan tubuhnya lemas dari ujung kepala hingga ujung kaki. Energinya serasa hilang lenyap saa

