"Mas! Mas Arham! Kamu kemana, Mas?" teriak Meeta. Tanpa terasa, kakinya sudah menuntunnya keluar rumah dan berjalan menuju gang-gang sekitar untuk mencari keberadaan Arham. Barangkali, Arham memang sedang berjalan-jalan menikmati dinginnya angin malam. "Mas Arham!" pekik Meeta lagi. Langkah kakinya terdengar begitu jelas di atas sebuah jalanan semen yang kasar, membuat langkah Meeta terdengar berisik karena gesekan kakinya dengan batu-batu kerikil. Dengan kepanikan yang tak kunjung reda, Meeta terus berjalan menyusuri jalanan sekitar dengan seragam kerja yang masih belum ia ganti. Kepalanya terus menoleh kesana-kemari dengan harapan akan melihat Arham meski dari kejauhan. Meeta sampai lupa bahwa dia meninggalkan Rendi di rumah. Untung saja, ada Ray yang menjaga sekaligus menemani Rendi

