Warung Mie Ayam

1115 Kata
"Pokoknya kamu makan yang banyak ya, Meet. Kayaknya kamu agak kurusan, deh. Kamu tuh mikirin apa?" tanya Arham. Meeta tengah asyik menikmati semangkuk mie ayam dengan begitu lahap. Bibirnya belepotan tak karuan karena saking bersemangat. Meeta bahkan tak sempat menoleh ke arah Arham sedetik pun. "Kayaknya gara-gara aku stres mikirin omelan Mama deh, Mas. Bisa-bisanya aku disangka gila! Berat badanku sampai turun tiga bulan ini." "Tiga kilo lho, Mas!!!" Meeta menekankan. Tangannya tetap sibuk menyuapkan gulungan mie yang ia ambil menggunakan sumpit hitam khas warung mie ayam. "Makannya pelan-pelan, sayang. Nggak usah buru-buru," ucap Arham lagi. Tapi, Meeta tetap tidak mengindahkannya dan sibuk menikmati mie ayam favoritnya. Setelah kedua sejoli itu berjalan kaki sejauh dua kilometer, mereka menemukan sebuah warung tenda yang menjual mie ayam dan bakso dengan ciri khas nama-nama menu yang dituliskan pada tendanya. Terpampang besar agar keberadaannya mudah ditemukan orang. Kedua bola mata Meeta berbinar seketika setelah dirinya menangkap penjual makanan yang ia inginkan sejak pagi. "Sssttt ... Diem dulu, Mas. Lagi enak-enaknya, nih. Kamu lanjutin aja makanmu. Aku lagi fokus sama mie ayamku. Sumpah! Enak banget, Mas. Beruntung banget kita nemu warung mie ayam yang buka jam segini," kata Meeta dengan mulut penuh. Arham menanggapi, "Aku kan cuma menghirup aromanya aja. Nggak butuh waktu yang lama. Kalau kamu masih laper, makan mie ayamku, nih." "Nggak mau. Biasanya, kalau udah kamu hirup, rasanya jadi beda. Aku nggak suka," jawab Meeta. Kini, Meeta dan Arham duduk berhadapan di dalam warung tenda yang kondisinya sedikit ramai. Meeta memesan dua porsi mie ayam komplit dan diletakkan di hadapan Meeta dan Arham. Situasi itu membuat Meeta semakin dicap gila oleh orang-orang asing yang tengah makan siang di tempat yang sama. "Mama ... Kakak itu ngomong sama siapa? Kok dia makan sendiri tapi pesennya dua mangkuk?" tanya seorang anak kecil perempuan yang datang bersama ibunya ke warung mie ayam. Ibunya pun hanya memberikan kode agar anaknya tidak berbicara terlalu keras, "Ssttt ... Jangan keras-keras. Udah, kamu habisin baksonya dulu. Jangan ganggu kakak itu." Ada tujuh orang yang kini tengah mengisi warung kecil itu. Enam pembeli dan satu orang abang-abang penjual yang sedang asyik mendengar lagu dangdut yang ia putar dari telepon genggamnya. Sejak awal kedatangan Meeta dan Arham di warung, tindakan Meeta sudah membuat orang-orang yang ada di sana kebingungan. Di mana pun dan kapan pun Meeta dan Arham hendak makan, tentu saja porsi yang dipesan berjumlah lebih dari satu. Bisa dua. Bisa tiga. Bisa empat. Tak hanya itu, sepanjang dia melahap mie ayam, perempuan itu selalu mengobrol dengan arwah Arham yang tidak bisa dilihat siapa pun. "Mas, menurutmu, aku harus resign dari pekerjaanku, nggak? Masa semenjak bosku diganti, regulasi kantor jadi makin ketat. Waktu istirahat karyawan dipotong setengah jam. Keterlaluan nggak sih, Mas?" omel Meeta dengan kunyahan yang belum tuntas di mulutnya. "Bosmu emang ngeselin banget, sih. Aku juga ada di sana waktu upacara pergantian bos. Tapi, gajimu di sana kan lumayan banyak. Kamu nggak sayang sama gajimu?" tanya Arham sambil menopang dagu. "Emm ... Sayang juga, sih," jawab Meeta singkat. Arham menggeleng melihat tingkah Meeta yang lucu. Perempuan itu benar-benar menggemaskan. Hobi mengomel habis-habisan dan berkeluh kesah dengan ekspresi yang mengundang tawa. Semua ujaran kekesalan Meeta seolah-olah diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam. "Pak ... Mie ayam bakso satu, ya? Dimakan di sini. Sawinya yang banyak, ayamnya tambahin dikit, kuahnya yang banyak, sama baksonya yang kecil-kecil aja," ucap seseorang yang baru tiba di warung. Calon pembeli rewel yang membuat abang penjual terpaksa mengeluarkan pena dan sobekan kertas untuk menulis detail permintaan sang pembeli. Sesosok laki-laki setengah bule dengan pakaian formal dan tas ransel hitam kulit yang tergantung di punggungnya memasuki tenda dengan setengah menunduk. Kedatangannya menarik perhatian seluruh pembeli yang masih sibuk menikmati pesanannya. Karena penampilan dan paras pria yang super tampan itu, secara tidak langsung membuat orang-orang mendaratkan pandangan mereka meski sekejap. "Meeta? Kamu di sini juga?" sapa laki-laki itu setelah melihat Meeta duduk seorang diri di salah satu bangku. Meeta sontak menolehkan kepalanya ke sumber suara yang menyebut namanya dengan suara yang tidak asing. "Ray? Kamu di sini juga?" tanya Meeta saat matanya sudah menangkap sosok tersebut. Laki-laki bernama Ray itu mengangguk dengan wajah cerah. Tanpa meminta izin, Ray melepaskan tas punggungnya dan duduk tepat di samping Meeta. Bangku panjang yang bisa memuat lima hingga enam orang itu tentu dapat menerima kehadiran Ray tanpa masalah. Wajah Arham seketika ditekuk saat laki-laki yang lebih tampan dari dirinya duduk di samping istrinya dan berlagak sok akrab. Matanya memicing tajam dengan jemari yang sudah tergenggam. Sreeet! Ray menarik mangkuk mie ayam milik Arham dan memindahkannya tepat di hadapan Meeta. "Kamu harus makan yang banyak. Kayaknya kurang deh kalau kamu cuma pesen dua mangkuk. Aku beliin lagi, ya?" tawar Ray. Perasaan Arham semakin kesal. Meskipun Ray tidak dapat melihat Arham, setidaknya laki-laki setengah bule itu tidak berusaha menganggu perempuan yang baru menikah bulan lalu. "Eh, nggak usah, Ray. Aku udah kenyang. Kamu pesen buat dirimu sendiri aja. Toh aku kesini bareng suamiku, kok. Jangan pikirin aku. Santai aja," tolak Meeta. Ray adalah mantan kekasih Meeta di masa lalu. Masa dimana mereka berdua masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Tahun lalu, Ray sempat ingin mendekati Meeta untuk yang kedua kalinya dan berharap dapat menjalin hubungan yang lebih serius dari sebelumnya. Sayangnya, saat itu Meeta sudah memiliki Arham sebagai kekasihnya. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya suami kamu, Meet. Aku tahu kamu masih terpukul sampai sekarang. Pasti berat harus kehilangan orang yang penting. It's ok. Kamu pasti bisa lalui semuanya," kata Ray dengan penuh perhatian. Meeta mengangguk dan menjawab ucapan Ray, "Makasih Ray. Tapi, aku nggak perlu berduka karena suamiku nggak kemana-mana. Dia masih ada di sini, kok. So, aku baik-baik aja. Oke?" Mendengar jawaban Meeta, Ray justu semakin iba dan prihatin dengan Meeta. Dipikirnya, Meeta hanya membual dan berdelusi tentang suaminya yang sudah meninggal. Air muka Ray berubah seketika menjadi sendu dan sedih. Di sela percakapan mereka, Ray tiba-tiba mencuri kesempatan dalam kesempitan. Laki-laki itu menangkupkan jemarinya di atas jemari Meeta yang terletak di atas meja. "Kamu yang sabar, ya. Masih ada aku. Kamu pasti perlahan bisa lupain mantan suamimu. Mungkin awalnya sulit. Tapi, kamu pasti bisa, Meet!" Ray memberi semangat. Tangannya kian erat menggenggam tangan Meeta. Sontak Meeta menampik tangan Ray dengan cepat. Perempuan itu menolak mentah-mentah akan sentuhan yang diberikan mantan pacarnya yang kini bukan siapa-siapa. Tapi, Ray kembali menggapai tangan Meeta dan menggenggamnya lagi. "Sialan! Dia siapa, sih? Kenapa ngelunjak banget!" sergah Arham. Meeta masih diam dengan dahi mengerut. Memicingkan matanya untuk meneliti tingkah aneh Ray. "Kalau kamu butuh apa-apa, jangan ragu buat kabarin aku. Aku janji bakal cepet-cepet datang buat kamu. Apalagi, sekarang kamu masih terguncang dan depresi. Kamu butuh seseorang buat jaga kamu. So, call me anytime. Oke?" sambung Ray.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN