Ucapan-ucapan lembut yang dikeluarkan Ray justru memberikan kesan berbeda di benak Meeta. Bukannya senang, justru Meeta kesal setengah mati dengan gelagat Ray yang seolah-olah seperti merayunya. Ditambah dengan ekspresi Arham yang susah payah menahan ledakan amarah, Meeta semakin tidak menerima kehadiran Ray.
"Apa-apaan, sih! Kamu budeg?! Bebal banget sih dikasih tahu! Kan aku udah bilang kalau aku nggak berduka. Apalagi sedih. Suamiku beneran masih ada!" bentak Meeta seketika sembari melepas sentuhan tangan Ray di punggung tangannya.
Telapak tangan Ray mulai mundur menjauh. Kembali ke tempat yang seharusnya. Bentakan Meeta yang lantang membuat Ray dan semua pengunjung warung mie ayam sontak menoleh ke wajah Meeta yang garang.
"Kok kamu jadi marah-marah? Aku salah apa?" tanya Ray.
Meeta menundukkan pandangannya. Dengan helaan napas yang tidak teratur, Meeta berusaha meredakan kekesalan yang sempat membuatnya meletus seperti bom atom.
"Tolong jangan ganggu aku! Kalau kamu memang iba sama aku, ya udah! Sebatas iba aja. Nggak perlu sok-sokan jadi malaikat pelindung! Aku nggak butuh! Dan satu lagi ... jangan sentuh-sentuh aku. Sembarangan banget sih jadi orang! Pegang sana, pegang sini," omel Meeta lagi. Matanya tajam membelalak ke arah Ray yang masih duduk terpaku di sampingnya.
Arham mengelus dadanya. Menghembuskan napas beberapa kali agar kekesalan atas tindakan Ray sedikit berkurang.
"Udah, Meet. Tahan emosimu. Malu dilihatin orang-orang. Kamu lanjutin aja makanmu. Habis itu kita pergi dari sini," tukas Arham menenangkan. Meski dirinya juga kesal, Arham sebisa mungkin mengontrol dirinya sendiri.
Ray masih tertegun mengamati sikap diam dan menyeramkan yang Meeta tampilkan. Dalam diam pun, paras Meeta sudah terlihat begitu suram. Apalagi saat lontaran kalimat pedas meluncur dari mulut mungilnya, serasa meruntuhkan mental orang yang dicacinya.
"Meet, kamu kenapa jadi temperamen banget, sih! Aku kan cuma berniat baik. Aku juga nggak kasar ke kamu. Kenapa kamu malah kebakaran jenggot gini!" balas Ray. Karena merasa dirinya diperlakukan tak enak, Ray pun turut membalas omelan Meeta.
"Halah! Berisik! Kamu kesini karena mau godain aku, kan! Kamu sengaja kesini karena ada aku, kan?! Mentang-mentang aku udah janda, gitu?" sahut Meeta lantang.
Ray semakin terkejut mendengar balasan Meeta. Bukannya bersikap ramah, ucapan Meeta justru semakin melantur dan kemana-mana.
"Apa-apaan, sih! Heh, janda galak! Aku kesini emang karena mau makan mie ayam. Kebetulan aja ada kamu di sini. Syukur-syukur aku bisa nemenin kamu makan, eh malah disemprot duluan. Apes banget, sumpah!" balas Ray.
Ray dan Meeta terus adu mulut seperti anak TK yang sedang bertengkar. Bukan pertama kalinya, hubungan mereka memang sudah seperti kucing dan tikus sejak masa sekolah. Mengetahui sifat Meeta yang keras dan hobi marah-marah, Ray justru akan membuat amarah Meeta semakin meluap. Hingga akhirnya, mereka berbaikan dengan sendirinya. Dan keadaan tersebut, nyatanya masih bertahan hingga saat ini.
"Meeta ... sayang ... udah dong marah-marahnya. Tuh, lihat. Kamu jadi pusat perhatian orang-orang. Pengunjung lain pasti terganggu karena kamu ngomel-ngomel dari tadi. Udah ya ... tenang. Minum dulu," ucap Arham. Jemarinya mengelus tangan Meeta beberapa kali.
Meeta terdiam mendengarkan suara Arham yang lembut. Dirinya berusaha menuruti nasehat yang diberikan oleh suaminya.
"Aku tahu kamu lagi tertekan karena masalah yang menimpa pernikahanmu. Sorry kalau aku udah bikin kamu marah-marah. Tapi, aku beneran nggak ada niat buruk ke kamu. Lagi pula, apa salahnya kalau aku pengen bantuin kamu? Kamu sekarang udah single. Kamu butuh orang yang jaga dan perhatian sama kamu. Ya, kan? Salahku apa?!" lanjut Ray.
Lagi-lagi Meeta memicingkan matanya tajam ke arah Ray sembari berucap, "Udah aku bilang, suamiku masih ada!! Dasar tuna rungu! b**o! Aku udah ngomong dari tadi! Kenapa kamu nggak paham-paham, sih!"
Jawaban Meeta bukanlah timbal balik seperti yang Ray harapkan. Kini, Ray pun kalah berucap lagi.
"Ya ... ya ... ya ... okey! Terserah apa kata kamu," jawab Ray singkat guna tak melanjutkan perdebatan.
Meeta terdiam beberapa saat.
"Meet, aku emang nggak suka laki-laki bule ini datang ke sini dan deketin kamu. Tapi, kamu juga nggak boleh terlalu kasar. Oke?" tegur Arham. Masih dengan belaian lembut di punggung tangan Meeta.
Tapi, Meeta tetap tak menjawab sepatah kata pun. Ketiganya hening beberapa saat dengan suasana canggung.
Dalam keheningan mereka, sang penjual mie ayam pun terpaksa memecah suasana diam saat hendak menyuguhkan bakso pesanan Ray yang sudah siap di dalam sebuah mangkuk ayam jago yang khas, "Silakan, Mas."
Ray mengulurkan senyuman ringan dengan sebuah anggukan kepada sang penjual.
"Aku udah nggak nafsu makan, Mas! Ayo pergi dari sini! Lama-lama aku muak lihat laki-laki nyebelin ini. Bikin suasana hatiku jadi makin nggak karuan!" lanjut Meeta.
Prak!!
Jemari Meeta meletakkan sumpitnya dengan kasar. Dirinya cepat-cepat beranjak dari tempat duduk dan merogoh saku celananya untuk mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribuan yang sudah tertekuk berantakan. Dengan begitu banyak sisa mie ayam yang tak dimakan, Meeta meninggalkan warung itu dengan rasa geram.
"Pak, ini uangnya. Kembaliannya ambil aja," ucap Meeta sebelum benar-benar pergi meninggalkan warung mie ayam. Tangannya mengulurkan selembar uang kepada penjual mie ayam yang tengah duduk santai di salah satu kursi pembeli yang kosong.
Arham pun turut beranjak dan mengikuti langkah Meeta yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Meet, jangan gitu, dong. Kok malah jadi aku yang salah. Gimana sih?" ucap Ray mengamati gerak-gerik Meeta.
"Diem! Jangan bikin aku makin kesel, ya!" balas Meeta kasar.
Dengan langkah tergesa, Meeta segera melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Arham yang kewalahan mengikutinya dari belakang.
"Aduh ... maafin istri saya ya, Mas," ucap Arham kepada Ray sembari setengah berlari mengejar Meeta. Meski Ray mustahil mendengar ucapan Arham, perkataan itu sontak keluar dari mulut arwah lelaki itu karena merasa bertanggung jawab atas perlakuan Meeta yang berlebihan.
Kepergian Meeta lagi-lagi membuat semua orang di warung mie ayam mendaratkan pandangan dan penasaran atas apa yang tengah terjadi.
"Mas ... perempuan yang tadi kenapa? Kok sikapnya kayak gitu? Emm ... apa dia punya penyakit kejiwaan?" tanya salah seorang pengunjung warung mie ayam kepada Ray yang mulai mengaduk mie dalam mangkuknya.
Hanya gelengan kepala yang diberikan Ray kepada sang penanya. Memberikan isyarat bahwa masalah itu adalah privasi yang tidak perlu Ray jelaskan kepada orang asing.
Ray tidak berniat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi kepada sembarang orang. Bagaimana pun, Ray masih ingin menjaga Meeta meski dengan cara yang lain. Meski melalui perdebatan dan adu mulut yang kasar, masih ada rasa kasihan dan iba yang menggeluti hati Ray. Keadaan Meeta saat ini, tetaplah menuai rasa prihatin dalam batin Ray.
Ray paham betul bagaimana sifat Meeta sejak bertahun-tahun yang lalu. Keduanya sudah saling kenal dalam kurun waktu yang lama. Bahkan, mereka berdua pernah terlibat dalam sebuah hubungan spesial yang terjalin selama dua tahun.
Sejauh ini, Ray memanglah sosok yang sangat mengenal Meeta. Lebih dari Arham mengenal Meeta. Masa-masa suka dan duka sudah pernah Meeta dan Ray jalani bersama di masa lampau. Meski akhirnya, hubungan keduanya harus kandas karena Ray berselingkuh dengan seorang adik kelas.
Sejak hubungan Meeta dan Ray berakhir dan sejak masa kelulusan sekolah, Meeta dan Ray sudah tidak pernah saling bertemu. Di samping hubungan keduanya yang tak lagi hangat, Ray pun sempat menempuh pendidikan di salah satu universitas di Benua Australia. Hal itu menjadi pertanda lenyapnya hubungan Meeta dan Ray. Mereka menjalani hidup masing-masing dan Meeta pun mulai dipertemukan dengan sosok Arham yang akhirnya menikahi gadis berponi depan itu.
Sayangnya, tali nasib mulai mempermainkan jalan hidup Meeta lagi. Saat sosok Arham yang berkharisma dan sederhana meninggal dunia, sosok yang sempat menorehkan luka di hati Meeta kini kembali secara tidak sengaja.
Seorang laki-laki bernama Ray.
Ray Solomon.
Pria keturunan Eropa dengan rambut berwarna cokelat terang yang khas. Kulit putih kemerahan dan iris mata berwarna cokelat muda yang indah adalah salah satu yang selalu dikagumi oleh gadis-gadis muda saat memandang sosok Ray. Laki-laki itu benar-benar tampan dan menarik. Secara visual, Ray memanglah laki-laki yang nampak sempurna tanpa kekurangan.
Kesempurnaan itu, membuat sosok Arham mulai mengkhawatirkan kehadiran Ray dalam hidup Meeta.