Jemari Arham menekan-nekan beberapa titik di pundak Meeta yang tegang. Dirasakannya otot-otot Meeta yang mengencang yang membuat tubuh wanita manis itu kaku seperti manekin di toko pakaian. Akhir-akhir ini, Meeta memang sering naik darah karena harus menanggapi orang-orang menyebalkan yang selalu menyinggung kejiwaannya. Terlebih Mirna dan Bu Endang (Mamanya). Mereka berdua adalah orang paling ikut campur dalam hal ini. Kehadiran Mirna yang cukup rutin ke kontrakan Meeta dirasa sudah teramat mengganggu. Ditambah lagi, Bu Endang selalu menelepon dan memaksa Meeta untuk tinggal kembali bersama dirinya. Dengan dalih ingin menjaga Meeta.
"Mas, aku baik-baik aja. Nggak usah mijitin aku terus. Kamu duduk aja di sampingku. Aku nggak capek, kok," ucap Meeta sembari menolehkan kepalanya pada suaminya yang berdiri di belakang tubuh Meeta dengan pijitan-pijitan lembut di pundak hingga punggung Meeta.
"Coba deh kamu lihat ke cermin. Muka kamu jadi kusam. Kantung mata kamu juga mulai kelihatan. Kamu itu nggak fit, Meet. Bisa-bisanya kamu bilang kalau dirimu nggak apa-apa. Jelas-jelas kamu lagi down begini," jawab Arham sambil meneruskan pijitannya.
Wajah Meeta begitu lesu dan lemah merasakan kehidupannya yang mendadak menjadi rumit sejak beberapa hari ke belakang. Semangat hidupnya bagai naik turun. Yang Meeta inginkan hanyalah kehidupan tenang antara dirinya dan Arham di rumah kontrakan kecil. Meski kini tempat tinggal mereka jauh lebih kecil dibandingkan rumah orang tua Meeta, setidaknya tempat minimalis itu bisa menjauhkan Meeta dari pertanyaan dan gunjingan keluarga besar tentang kesehatan mental Meeta.
"Aku tahu kalau omongan orang-orang selalu kamu masukin ke dalam hati. Ucapan pedas itu berujung sakit hati. Kalau kamu nggak bisa menggunakan kedua tanganmu buat membungkam mulut semua orang, gunakan kedua tanganmu buat menutup telingamu sendiri," sambung Arham.
Meeta mengangguk sekali. Meski masih sulit melupakan cacian dan olokan orang lain, Meeta meyakinkan diri bahwa dia harus lebih bersikap cuek mulai saat ini.
Tok
Tok
Tok
Di tengah obrolan Meeta dan Arham, tiba-tiba pintu rumah kontrakan diketuk beberapa kali dari luar. Ketukan itu sontak membuat Meeta berdiri dari posisi duduknya dan meninggalkan Arham seorang diri.
"Mbak! Mbak Meeta!" pekik seseorang dari luar.
Meeta menoleh ke arah wajah Arham. Keduanya saling pandang sebagai isyarat bahwa dirinya dan Arham sama-sama mengenal suara itu.
"Suara Bu Nani. Yang punya rumah kontrakan," celetuk Arham.
Meeta cepat-cepat meninggalkan ruang keluarga dan berlari menuju pintu. Entah alasan apa yang membuat Bu Nani datang ke rumah malam-malam begini. Jam dimana seharusnya orang-orang tengah beristirahat setelah beraktifitas seharian.
Krieeeet ...
"Bu Nani? Ada apa, Bu?" tanya Meeta saat melihat sosok Bu Nani berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Peluhnya menetes dari beberapa sisi wajahnya. Di sisi kanannya, berdiri putra bungsunya yang masih berusia enam tahun.
Bu Nani tinggal di sebuah rumah yang dibangun di belakang kontrakan yang Meeta dan Arham tempati. Ada sebuah bangunan tingkat dua yang ditinggali oleh Bu Nani sekeluarga. Bu Nani, Pak Haryadi (suami Bu Nani), dan dua anak Bu Nani.
"Mbak ... saya mau titip Rendi sebentar. Tiba-tiba si bapak asmanya kambuh. Saya sama si sulung mau nganter bapak ke klinik sebentar. Kebetulan Mbak Meeta kan tinggal sendirian. Saya minta tolong jagain Rendi sebentar ya, Mbak," ucap Bu Nani menghiba. Suaranya gemetaran dan tergesa-gesa.
Rendi yang berdiri diam tak berkutik hanya menatap polos sosok Meeta yang berdiri di hadapannya.
"Saya mohon, Mbak. Saya takut bapak kenapa-kenapa. Nanti kalau bapak sudah ditangani, saya jemput Rendi kemari. Tolong ya, Mbak," pinta Bu Nani lagi. Kelopak matanya mulai berlinang air bening karena kekhawatirannya yang sudah berada di puncak kepala.
Tanpa menunggu lama, Meeta langsung meraih tangan Rendi yang sedari tadi menggandeng tangan ibunya. Disentuhnya tangan Rendi dengan lembut guna memindahkan gandengan tangan mungil itu ke dalam tangan Meeta.
"Rendi ikut tante dulu, ya ... Biar ibu nemenin bapak ke dokter dulu. Oke?" ucap Meeta lembut guna mengambil hati Rendi.
Rendi memanglah anak yang terbilang penurut dan tidak pernah rewel. Anak sekecil itu, seperti sudah bisa memahami keadaan yang ada di sekitarnya. Di samping itu, Rendi adalah anak yang lebih banyak diam dan pasif. Saat anak-anak daerah sekitar bermain bersama, Rendi lebih senang mengamati dan duduk sendiri dibandingkan bergabung dalam permainan.
"Iya, tante," jawab Rendi singkat.
Rendi melangkah masuk ke dalam rumah Meeta. Berdiri tepat di samping Meeta dengan satu tangan yang masih dalam genggaman tangan Meeta.
"Terima kasih ya, Mbak ... Saya bener-bener minta maaf udah ngerepotin Mbak Meeta. Padahal ini udah hampir tengah malam. Sekali lagi saya minta maaf ya, Mbak," ucap Bu Nani lagi sebelum dirinya benar-benar meninggalkan rumah kontrakan Meeta.
Setelah memastikan Rendi aman bersama Meeta, Bu Nani segera berpamitan dan pergi menghampiri mobil yang mesinnya sedang dipanasi. Suara deru mobilnya terdengar begitu jelas karena situasi sekitar yang sudah sunyi senyap. Sementara itu, Meeta mengajak Rendi masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang semula digunakan Meeta untuk bersantai di ruang keluarga.
"Rendi, malam ini tidur di sini aja sekalian. Pulang besok pagi aja sebelum berangkat ke sekolah," ucap Meeta.
Arham yang sedari tadi duduk di ruang tengah, terperanjat saat melihat Meeta tiba-tiba menghampirinya bersama sosok kecil yang ia kenali. Meeta duduk tepat di samping Arham sedangkan Rendi sibuk menyentuh berbagai vas hias yang ada di meja ruang keluarga.
"Loh? Meet? Kok Rendi ada di sini? Orang tuanya kemana?" tanya Arham.
Mendengar pertanyaan Arham, Meeta cepat-cepat memberikan isyarat dengan menaruh satu jari telunjuknya di depan bibirnya. Meminta Arham untuk diam.
"Ssstt ... jangan ngajak aku ngobrol dulu, Mas. Nanti kalau Rendi lihat aku ngomong sendiri, dia bisa ketakutan. Kalau dia sampai rewel, bisa mampus aku. Emak bapaknya lagi pergi ke klinik," bisik Meeta.
Arham mencoba memahami situasi yang tengah terjadi. Matanya memicing tajam ke arah Rendi yang sibuk memainkan vas hias sambil tertawa kecil sesekali.
"Rendi? Kamu udah makan, Nak? Mau tante bikinin telur goreng?" tanya Meeta pada Rendi. Laki-laki kecil itu terlihat menggemaskan dengan tingkah lucunya.
Tapi, Rendi sama sekali tidak menjawab pertanyaan Meeta.
"Nak? Kamu udah ngantuk belum? Tidur sama tante, yuk? Tante tinggal sendirian, lho. Jadi, kasurnya luaaaass banget. Rendi bisa enak tidurnya," sambung Meeta.
Kali ini ucapan Meeta membuat Rendi terpanggil. Anak itu seketika menoleh ke arah Meeta dan berjalan mendekati tempat di mana Meeta duduk.
"Tante kan nggak sendirian. Nih, ada om di sini," jawab Rendi sambil menunjuk ke arah Arham yang duduk santai di samping Meeta.
Jawaban Rendi membuat Meeta terkejut. Kedua biji mata Meeta seketika membelalak melihat Rendi jelas menunjuk ke arah wajah Arham. Rendi pun dapat dengan jelas beradu pandang dengan Arham. Seolah-olah Arham adalah manusia yang dapat diajak berinteraksi seperti biasa.
"Hah? Rendi ... bisa lihat Arham?" celetuk Meeta.
Mulut Meeta melongo. Tatapan matanya beralih berkali-kali ke arah Rendi dan Arham secara bergantian. Memastikan bahwa keduanya memang benar-benar dapat saling berinteraksi.
"Ah, udah aku duga. Anak ini emang nggak beres dari tadi," ucap Arham.
Meeta semakin tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan putra bungsu Bu Nani. Rendi kembali membalikkan badannya dan fokus pada vas hias yang ia mainkan dari tadi. Sesekali terdengar lagi tawa kecil yang keluar dari mulut Rendi.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Meeta penasaran.