"Dari tadi ada sosok perempuan kecil yang nemenin Rendi. Mereka ketawa-ketiwi bareng, bercanda bareng. Udah aku duga! Anak ini bisa lihat makhluk yang ada di duniaku yang sekarang. Rendi ini ... indihom," jawab Arham.
Meeta mengerutkan dahinya, "Hah? Maksudnya?"
Arham terkekeh geli melihat ekspresi polos Meeta yang terlihat seperti anak kecil.
"Indigo, Meet. Lemot banget sih istriku ini. Hahahaha," tawa Arham renyah. Wajahnya sumringah meskipun pucat putih tidak bernyawa.
Meeta dan Arham kembali mengamati tingkah Rendi yang asyik sendiri. Lebih tepatnya, asyik bersama sosok yang tidak bisa Meeta lihat. Sosok yang disebutkan oleh Arham.
Rendi berjalan masuk ke dalam kamar Meeta dan Arham. Bocah itu seolah-olah dituntun oleh teman gaibnya untuk bermain di dalam kamar dan meneliti sesuatu yang baru selain vas hias.
"Kita ikutin Rendi ke kamar aja yuk, Mas. Buat ngawasin dia. Nanti sekalian aku ajak dia tidur kalau dia udah capek mondar-mandir. Udah jam segini pula. Mana besok aku berangkat kerja," celetuk Meeta.
Arham merangkul pundak Meeta dengan penuh kasih sayang. Menuntun istri kesayangan berjalan menuju kamar mereka yang berukuran lima kali lima meter. Kamar yang cukup luas untuk Meeta tiduri. Meski arwah Arham tidak tidur, laki-laki itu tetap merebahkan diri di samping Meeta sepanjang malam. Meneliti wajah manis Meeta yang beribu kali lebih cantik saat tidur lelap.
Bruk!
Meeta menjatuhkan dirinya ke springbed lembut berseprai putih bersih. Arham pun turut duduk di samping Meeta sambil sama-sama mengawasi gerak-gerik Rendi yang sedang tertawa riang di depan cermin meja rias milik Meeta.
"Mas ... sini, deh. Aku mau tanya," pinta Meeta. Meminta Arham untuk merebahkan diri di samping Meeta hingga wajah keduanya saling berdekatan. Arham pun menuruti apa yang Meeta pinta tanpa ragu.
"Ada apa sayangkuuuu?" tanya Arham.
Meeta membuka percakapannya dengan berbisik, "Mas ... si Rendi beneran temenan sama makhluk gaib? Dia bisa lihat hantu?"
"Iya. Padahal, terakhir aku lihat Rendi di luar rumah, dia masih sendirian. Tapi, hari ini dia kesini sama teman gaibnya. Anak perempuan seumuran Rendi. Pakaiannya koyak di beberapa sisi. Ada noda darah juga di tengah bajunya. Aku nggak tahu sih siapa hantu perempuan ini. Yang aku tahu, anak ini nggak berniat mencelakai Rendi. Dia cuma mau temenan aja sama Rendi. Makanya aku nggak khawatir," papar Arham dengan jelas. Matanya sesekali melirik ke arah Rendi yang sibuk bersama teman gaibnya.
Mendengar penjelasan Arham, rasa penasaran Meeta menjadi semakin besar. Rasanya, Meeta ingin sekali menyaksikan apa yang bisa Arham dan Rendi lihat. Meeta bukanlah perempuan penakut yang akan berteriak histeris saat menonton film horor. Justru dia sangat tertarik dan tertantang dengan hal-hal yang berbau mistis. Tapi, Meeta tidak memiliki kemampuan untuk melihat dunia gaib.
"Selama sosok itu nggak berbahaya buat Rendi, kayaknya keluarga Bu Nani nggak perlu melakukan pengusiran hantu, deh," jawab Meeta.
"Nggak perlu. Gadis kecil itu posisinya sama kayak aku. Cuma nemenin manusia di dunia tanpa mengganggu. Biasanya, karena ada sesuatu yang belum tuntas di dunia. Makanya arwah kita terjebak di dunia manusia tanpa kejelasan," jawab Arham lagi.
Ucapan Arham kali ini membuat Meeta sedikit tersentak. Setelah sekitar satu bulan dirinya tinggal dan menjalani kehidupan bersama arwah Arham, Meeta baru menyadari bahwa selama ini dirinya belum mengetahui apa alasan Arham masih terjebak di dunia manusia.
"Jadi ... selama ini ada alasan penting yang belum kita ketahui, Mas. Alasan kenapa kamu masih ada di sini. Bukan di tempat yang seharusnya," ucap Meeta lirih. Wajahnya sayu. Di dalam hatinya, ada segaris kesedihan yang tiba-tiba muncul tanpa permisi. Meeta cemas jika Arham akan menghilang secara tiba-tiba saat alasan kematiannya sudah mereka ketahui.
"Mungkin. Kita nggak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, Meet. Cuma Tuhan yang tahu alasannya. Dan gadis kecil yang nemenin Rendi pun, kita nggak tahu apa alasan dia masih terjebak. Kalaupun ada alasan kenapa aku tinggal di sini, aku nggak mau cari alasannya. Aku mau tetep di sini. Aku mau nemenin kamu sampai akhir!" tukas Arham tegas. Memberikan kekuatan yang besar kepada Meeta.
Kekhawatiran sedikit singgah di hati Meeta. Tapi, ucapan Arham dapat sedikit melegakannya. Selama semuanya masih baik-baik saja, sepertinya tidak ada alasan untuk mencari tahu tentang hal yang menahan Arham di dunia manusia. Biar Tuhan yang mengatur semuanya. Meeta dan Arham hanya cukup menjalani kebersamaan selagi bisa.
"Iya, Mas. Aku juga masih belum siap kehilangan kamu. Aku mau kita sama-sama terus. Sampai aku tua. Sampai aku bisa nyusul kamu di duniamu," jawab Meeta lembut.
Arham seketika mengubah posisi tidurnya. Laki-laki bertubuh tegap berotot itu tengkurap di samping Meeta dengan tangan menyangga tubuhnya. Salah satu tangannya, membelai rambut dan wajah Meeta yang cerah di bawah sinar lampu kamar yang putih terang. Diusapnya jengkal demi jengkal wajah Meeta dengan penuh perasaan.
"Kita ganti topik aja. Aku nggak mau kamu sedih mikirin hal-hal yang nggak seharusnya kita tangani," ucap Arham. Jemarinya tidak berhenti membelai wajah Meeta dengan lembut.
Sorot mata Arham tajam menatap mata Meeta dalam-dalam. Ditelitinya bola mata Meeta untuk mengetahui perasaan apa yang sedang istrinya rasakan. Semakin diperhatikan, rasa cinta Arham seolah semakin meledak-ledak. Melihat wajah polos tanpa make up yang tengah menatap balik padanya, membuat Arham semakin jatuh cinta pada kekasih sejatinya. Tanpa Arham sadari, wajahnya mulai mendekat ke arah wajah Meeta dengan perlahan. Dirinya hendak menempelkan bibir manisnya pada bibir ranum Meeta yang halus berwarna merah muda.
Detik demi detik berlalu, jarak antara wajah Meeta dan Arham hanya tinggal beberapa milimeter saja. Hingga akhirnya, saat kedua bibir itu hendak bersentuhan satu sama lain, Meeta tersadar dan menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arham. Meeta menghentikan gerak wajah Arham yang semakin mendekat.
"Mas! Jangan. Ada Rendi. Bahaya kalau dia lihat kita melakukan adegan dewasa. Mending kapan-kapan aja kalau Rendi udah pulang. Oke?" bisik Meeta menggemaskan. Jemarinya mengelus wajah Arham dengan lembut.
Sontak wajah Arham yang semula beringas, berubah menjadi kusut ditekuk karena kecewa. Tapi, dia segera sadar pula bahwa hari ini bukanlah hari yang tepat untuk b******a dengan istrinya.
"Hehehehe ... sabar ya, Mas," ucap Meeta.
"Ih! Ngeselin banget. Kenapa sih kamu mau-mau aja dititipin anak kecil macam dia. Kan dia jadi gangguin kita. Mana dia bisa lihat aku pula," omel Arham lirih.
Meeta terkekeh beberapa saat.
"Ngomong-ngomong, kita belum pernah berhubungan suami istri lagi setelah malam pertama. Kamu nggak pengen, Mas? Eh ... tapi, bisa nggak, sih? Dengan keadaanmu yang sekarang?" tanya Meeta.
Seketika Arham memicingkan matanya ke arah Meeta sembari menjawab, "Udah pernah, tauk! Kamu aja yang lupa!"
Tapi, Meeta merasa tidak pernah melakukan hal tersebut bersama suaminya. Yang dia ingat, Arham hanya memberikan ciuman dan pelukan saja dalam kesehariannya.
"Kapan? Kok aku nggak inget?" tanya Meeta.
"Satu minggu yang lalu. Waktu kamu lagi libur kerja. Sssttt ... waktu itu kita ngelakuinnya di sofa ruang keluarga. Masa kamu lupa?!" omel Arham.
Meeta berusaha mengingat-ingat momen itu. Hari di mana dirinya bangun di pagi hari dan menemukan tubuhnya berada di sofa ruang keluarga dengan piyama tidur. Saat dia membuka matanya, Arham pun sudah duduk di sampingnya dengan wajah berseri-seri.
"Oohhh. Tapi, waktu itu aku memang mimpi nakal sih, Mas. Mimpi yang nggak senonoh gituuu. Semua itu cuma mimpi kan? Apa beneran?" tanya Meeta kebingungan.
Senyuman Arham timbul. Dengan lembut, laki-laki menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku cuma bisa melakukan itu dalam mimpimu, Meet. Awalnya kita memang memulai semuanya dari atas sofa. Tapi, kamu pasti bakal langsung ngantuk dan nggak sadarkan diri. Karena aku cuma bisa memenuhi itu semua dari dalam mimpi. Cuma sebatas mimpi. Nggak lebih. Dan aku baru tahu minggu lalu. Waktu di mana kita berhubungan di sofa ruang keluarga. Kamu paham maksudku, kan?" papar Arham.
Meeta menyimak ucapan Arham dengan seserius mungkin. Dia ingin mengetahui semua yang terjadi antara Arham dan dirinya pasca kematian Arham. Mau tidak mau, Meeta memang harus menyadari bahwa banyak hal yang berbeda saat ini. Arham yang sekarang, bukanlah Arham yang dahulu. Bukan Arham dengan kulit hangat yang selalu meneleponnya sehari sepuluh kali.
Untuk apa?
Arham sudah ada di sisi Meeta sepanjang waktu. Tidak perlu menelepon atau berkirim pesan.
"Aku paham, Mas. Nggak apa-apa, kok. Aku paham. Aku ngerti," jawab Meeta penuh perhatian. Suara lembutnya membuat Arham lega. Arham sempat takut Meeta akan kecewa dengan ketidakmampuannya.
Tanpa mereka sadari, obrolan panjang itu membuat keduanya lupa untuk memeriksa aktifitas Rendi. Suara tawa bocah itu hilang dan tidak terdengar lagi. Meeta dan Arham cepat-cepat menoleh ke arah meja rias untuk memeriksa keberadaan Rendi.
Beruntungnya, Meeta dan Arham menemukan bocah laki-laki itu tengah tertidur lelap di bagian pojok springbed dengan wajah yang lucu. Entah sejak kapan anak itu naik ke tempat tidur dan terlelap dengan posisi tengkurap. Sepertinya, Meeta dan Arham terlalu sibuk hingga tidak menyadari gerak-gerik Rendi.
"Aku benerin posisi Rendi dulu, Mas. Takut dia jatuh kalau tidur di pinggiran kasur," ucap Meeta sembari beranjak dari posisi berbaringnya.
Waktu memang sudah sangat larut. Jam pun sudah menunjukkan lewat dari tengah malam. Waktu di mana Arham dan Meeta harus menghentikan percakapan dan membiarkan Meeta beristirahat bersama Rendi untuk menyambut hari esok.
"Kamu tidur sekalian aja, ya. Besok aku bangunin," ucap Arham.