"Duh, Mbak ... maaf ya saya jadi ngerepotin. Rendi nggak nakal kan, Mbak?" tanya Bu Nani cemas.
Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Meski sang surya belum bangkit dari peraduannya, kokokkan suara ayam-ayam jantan di luar rumah sudah membuat bising suasana sekitar. Saat Meeta dengan sibuk menyapu lantai, Bu Nani kembali mengetuk pintu rumah kontrakan Meeta guna menjemput putra kecilnya yang masih tertidur lelap.
"Nggak kok, Bu. Tadi malam Rendi cuma main-main sebentar terus langsung tidur. Tuh, sekarang dia juga belum bangun. Saya bangunin dulu ya, Bu," ucap Meeta sembari menyandarkan sapu ijuk yang ia genggam di salah satu sisi dinding rumah.
Baru saja Meeta hendak membalikkan badan untuk menghampiri Rendi di kamar, bocah kecil itu ternyata sudah berjalan mendekati daun pintu. Menghampiri Meeta dan Bu Nani yang dua-duanya masih berdiri berhadapan di ambang pintu. Rendi berjalan sempoyongan dengan sebelah tangan yang sibuk mengucek mata kecilnya. Sesekali bocah itu menguap lebar dengan suara yang khas.
"Hoaaaahm."
Tap
Tap
Tap
"Loh ... Rendi udah bangun?" tanya Meeta.
"Iya, tante. Tadi dibangunin sama om. Katanya ada ibu di sini. Rendi disuruh keluar nemuin ibu," jawab Rendi dengan polosnya.
Bu Nani mengernyitkan dahi. Kedua matanya sesekali menatap Meeta dengan wajah kebingungan.
"Om? Om yang mana? Tante Meeta tinggal sendirian, lho," jawab Bu Nani.
Ekspresi Meeta pun menjadi tidak menentu. Diliriknya sosok Arham yang ternyata juga sudah berdiri tegak beberapa jengkal di belakang Rendi dengan wajah yang tak kalah bingungnya.
"Ah ... Paling Rendi cuma mimpi, Bu. Biasalah. Anak kecil kan kalau mimpi suka kebawa sampai bangun. Kebayang-bayang gitu. Siapa tahu dia mimpiin omnya. Iya, 'kan?" ucap Meeta mengalihkan.
Karena yang diucapkan Meeta berbilang masuk akal, Bu Nani pun tidak terlalu mengambil hati perkataan Rendi yang diucapkan dengan setengah mengantuk. Bu Nani yakin kalau Rendi hanya berbicara melantur karena kesadarannya belum penuh.
"Ya sudah, Mbak ... Pokoknya terima kasih banyak sudah bantu saya. Biaya sewa kontrakan bulan ini saya kasih gratis. Tenang aja. Sebagai balas budi saya ke Mbak Meeta," lanjut Bu Nani.
Meski sedikit merasa tidak enak, Meeta tentu saja girang dan senang dengan apa yang dikatakan Bu Nani. Kapan lagi dia mendapatkan diskon yang tidak datang setiap hari.
"Waduh ... saya jadi nggak enak. Hehehehe. Pokoknya, yang penting Bu Nani fokus ke kesehatan bapak aja. Untuk yang lainnya, bisa dipikirin nanti. Bapak baik-baik aja kan, Bu?" tanya Meeta sembari menampilkan gigi-gigi putihnya.
Bu Nani menanggapi, "Syukurlah bapak baik-baik aja. Sudah ditangani dokter di klinik. Kemungkinan bisa pulang dua sampai tiga hari ke depan. Nanti setelah Rendi berangkat sekolah, saya ke klinik lagi buat jaga si bapak. Kebetulan kakaknya Rendi hari ini ada jadwal kuliah. Jadi saya harus jaga bapak dari pagi."
Meeta mengangguk paham. Dirinya ikut lega mendengar kabar yang dibawa Bu Nani. Setidaknya, permasalahan keluarga Bu Nani tidak menjadi berlarut-larut.
Setelah dirasa semuanya beres, Bu Nani pun berpamitan dan meninggalkan rumah kontrakan Meeta. Karena Bu Nani perlu memasak dan menyiapkan keperluan sekolah Rendi, Bu Nani harus bergegas dan mengurus semuanya sebelum kesiangan. Sedangkan Meeta harus segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Menyambut pekerjaan yang ia pikul sejak lulus dari kuliahnya. Dengan sigap dan cekatan, Meeta segera mengurus dirinya sendiri.
***
"Kenapa kamu nggak pakai motorku aja? Kan sekarang motorku nganggur. Dari pada kamu berangkat kerja jalan kaki terus. Nggak capek?" tanya Arham. Laki-laki itu berjalan santai beriringan dengan Meeta menuju Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Kantor yang menjadi tempat dimana Meeta bekerja sejak sebelum menikah.
"Ih! Kamu lupa, Mas? Aku kan trauma naik motor. Gara-gara aku pernah kecelakaan waktu SMA. Padahal aku cuma lecet-lecet doang. Tapi traumanya sampai sekarang. Aku jadi ngeri kalau bayangin naik motor di jalan raya yang rame bangeeeet. Banyak truk-truk besar bawa muatan. Haduh. Nggak sanggup aku, Mas," papar Meeta.
Arham menyahut, "Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, dong!"
Meeta menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Tanda menolak permintaan Arham.
"Lagi pula, motor kamu kan masih di rumah Mama kamu, Mas. Aku males banget harus mindahin kendaraan itu ke kontrakan kita. Toh jarak kontrakan sama kantorku cuma satu setengah kilometer. Deket, Mas. Sekalian olah raga. Kita juga bisa ngobrol sepanjang perjalanan. Romantis banget kaaaan?" balas Meeta dengan gelagat menggemaskan.
Arham tersipu malu. Semenjak keluar dari pintu rumah kontrakan, Arham belum melepaskan gandengan tangannya pada Meeta. Digenggamnya jemari istrinya yang pagi ini berdandan cantik dengan setelan seragam kerjanya yang berwarna biru laut.
"Meeta cantik banget pakai warna biru."
Begitulah yang terbesit di dalam pikiran Arham.
Meeta selalu berangkat lebih awal hanya untuk bisa berjalan kaki dengan santai bersama Arham. Hal sederhana seperti itu pun sudah membuat keduanya bahagia tak terkira. Sampai-sampai, mereka tidak menyadari bahwa langkah kaki mereka sudah memasuki gerbang besar kantor yang dijaga oleh seorang satpam yang sudah Meeta kenal sejak lama.
"Mbak Meetaaaa. Kebiasaan, deh. Jam segini udah dateng. Ini belum ada jam setengah tujuh lho, Mbak," ucap Pak Salim, satpam yang tengah bertugas.
Meeta menyunggingkan senyuman manis kepada Pak Salim sembari mengucapkan sapaan tanda beramah tamah.
"Iya, Pak. Mumpung udaranya masih seger," jawab Meeta.
Saat Meeta dan Pak Salim tengah asyik bertegur sapa, tiba-tiba terdengar suara sepatu dengan high-heels yang suaranya nyaring saat menghentak tanah. Suaranya berirama. Hanya dengan suara sepatunya saja, Meeta dan Pak Salim sudah tahu siapa sosok yang tengah menghampiri mereka dari arah tempat parkir kendaraan.
"Wah! Kamu udah dateng? Cepet amat. Nggak mendongeng sama roh halus dulu?" sindir Selena, salah satu rekan kerja Meeta yang terkenal bermulut pedas.
Gadis super glamor dan cantik bak dewi bernama Selena memanglah bintang kejora yang menjadi pusat perhatian di kantor. Tidak ada satu pun pegawai kantor yang tidak mengenal Selena, gadis yang bekerja satu bagian dengan Meeta di divisi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL). Selain rekan, Selena lebih menganggap Meeta sebagai rival dan lawan yang menyebalkan. Ditambah dengan isu kondisi kejiwaan Meeta yang tidak beres, membuat Selena sering mengolok-olok Meeta baik dalam pekerjaan maupun dalam urusan pribadi.
"Meet, nggak usah dengerin mak lampir ini. Buruan masuk ke ruanganmu! Kamu tahu sendiri kan kelakuan dia kayak gimana. Untung Maya sama Roni belum dateng. Tiga sekawan biang masalah yang harusnya ditumpas habis!" celoteh Arham geram. Matanya memicing kesal ke arah wajah Selena yang sudah dipenuhi make up bergaya Korea. Sayangnya, Selena tidak bisa melihat bagaimana sosok Arham begitu membencinya.
Meeta masih terdiam. Beradu pandang dengan Selena yang melipat kedua tangannya di depan. Rambut Selena yang panjang bergelombang menari-nari tersapu angin pagi. Membuat pesonanya semakin terlihat. Tapi, di mata Meeta dan Arham, Selena tidak lebih dari seonggok sampah yang memuakkan.
"Pak Salim! Kenapa sih hobi banget ngobrol sama orang nggak waras kayak gini? Di dalam kantor pun, perempuan ini dikasih ruangan khusus karena banyak pegawai yang takut sama dia. Mereka semua ngeri lihat Meeta suka ngobrol sendiri. Aneh banget nggak, sih!" omel Selena dengan nada bicara lantang.
"Sel, apa-apaan sih, kamu!" bentak Meeta menyanggah.
Pagi hari yang seharusnya membawa semangat baru, harus berubah menjadi situasi yang menyebalkan setengah mati. Membuat hati Meeta serasa ingin meledak.
"Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan, 'kan?! Kamu sengaja pakai kondisi mentalmu biar bisa dipindahin ke ruangan yang bagus, kan! Kamu merasa jadi bos?! Kamu bangga punya ruangan pribadi?! Licik ya kamu, Meet!!! Dasar nggak tahu diri! Harusnya Pak Bos pecat kamu setelah tahu kalau kejiwaanmu terganggu!" bentak Selena semakin menjadi-jadi.
Mendengar ucapan Selena, Meeta pun turut naik pitam. Jika bukan karena kepanikan rekan-rekan satu ruangannya, Meeta tidak akan pernah menerima untuk dipindahkan di ruangan khusus yang hanya diisi oleh Meeta saja. Meski ruangannya berbilang bagus dan nyaman, Meeta sebenarnya tidak menginginkan regulasi itu. Berinteraksi dengan teman kerja akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan menghabiskan waktu seorang diri di ruangan khusus. Hanya Arham yang bisa Meeta ajak bicara. Dan lagi-lagi, dia dianggap semakin sinting oleh pegawai lainnya.