Perkelahian Pagi Hari

1117 Kata
"Sembarangan! Kalau bukan karena bos baru kita yang galaknya setengah mati, aku juga nggak bakal mau dipindah ke ruangan terpisah!" bentak Meeta tak kalah kesalnya. Kedua bola matanya bulat melotot ke arah Selena. Membalas tatapan tak mengenakkan yang dilemparkan Selena terlebih dahulu. Tak disangka, tatapan Meeta membuat Selena tersinggung dan kesal. Dug! "Jangan ngelihatin aku kayak gitu, dong! Biasa aja!" omel Selena setelah memberikan satu tendangan di lutut kanan Meeta. Hal itu sontak membuat Meeta merintih kesakitan sampai mengusap lututnya beberapa kali. Suasana menjadi semakin tidak terkendali. Temperamen Meeta yang buruk terpancing di suasana pagi yang seharusnya cerah dan hangat. Melihat bagaimana Selena memperlakukannya, Meeta tidak sanggup lagi menahan diri. "Perempuan jalang!!! Kurang aja! Pagi-pagi udah ngajak ribut! Dasar perempuan nggak punya otak! Perempuan binatang! Sinting!" pekik Meeta saking kesalnya. Tangan kanannya menimpuk tubuh Selena dengan tas jinjing yang ia bawa. Berkali-kali dipukulkannya hingga Selena kewalahan menangkis pukulan Meeta yang bertubi-tubi. Arham dan Pak Salim kaget melihat respon dua wanita yang saling melayangkan serangan-serangan. Selena pun terus berusaha menendang dan menjambak rambut panjang Meeta karena Meeta tidak berhenti memukulkan tas padanya. "Mbak! Mbak! Udah! Jangan bertengkar! Nggak enak dilihat sama pegawai lain. Nanti kalian bisa kena teguran dari atasan. Tolong hentikan, Mbak!" tukas Pak Salim lantang. Terpaksa Pak Salim harus melerai kedua wanita itu. Menyusup di antara dua tubuh yang saling memukul dan menjambak. Pekikan-pekikan bising pun turut mewarnai perkelahian mereka. "Meeta, udah! Stop! Mundur!" bentak Arham. Dirinya berusaha menyentuh tubuh Meeta dan menjauhkannya dari Selena. Tapi, tidak semudah itu. Aksi peleraian itu memakan waktu lebih dari sepuluh menit. Setelah bersusah payah, akhirnya Pak Salim dapat memisahkan dua tubuh yang saling serang. Selena dan Meeta mau tak mau harus mundur dan menghentikan pertikaian demi menjaga harga diri dan martabat di depan orang lain. Melihat beberapa kendaraan tengah memasuki area parkiran, tentu permasalahan tersebut akan memancing perhatian lebih banyak orang. "Tuh, Mas! Lihat kelakuan mantan sahabatku! Sekarang udah macam binatang liar. Kalau bukan karena mantan sahabatku, udah aku koyak-koyak mukanya yang penuh dempul itu!" omel Meeta sembari menoleh kepada Arham yang berdiri di belakangnya. Napas Meeta terengah-engah. Seperti usai lari marathon di siang bolong. Amarahnya sudah seperti granat yang meledak dalam batinnya. "Hahahaha! Nah, lihat tuh! Kayak gitu tuh kelakuan Meeta setiap hari, Pak. Ngomong sama angin. Selalu manggil mas, mas, dan mas terus. Padahal nggak ada siapa-siapa. Bapak nggak ngeri deket-deket sama Meeta terus?" oceh Selena kepada Pak Salim. Wajah Selena menampilkan sebuah hinaan dan ekspresi penolakan begitu melihat Meeta mengobrol bersama Arham. Jemarinya turut sibuk menyisir rambut panjangnya yang sempat berantakan karena perkelahian konyolnya. "Udah, Mbak. Mendingan kalian berdua cepet-cepet masuk ke dalam kantor. Mumpung belum jam kerja. Kalau sampai ketahuan Pak Bos, bisa apes kita semua. Saya juga posisinya lagi jaga di sini. Saya bisa ikut kena. Udah, buruan masuk," tegur Pak Salim tegas. Di antara semua pekerja di kantor, hanya Pak Salim satu-satunya sosok bapak bagi beberapa pegawai muda. Salah satunya adalah Meeta. Bapak tua berusia enam puluh tahun itu selalu menjadi penengah dan penasehat paling handal yang bisa membuka pikiran Meeta. Meski lingkungan kerja Meeta terbilang cukup keras, sosok Pak Salim adalah salah satu orang yang membuat Meeta betah bekerja di kantor itu. "Hey, Sel. Ngapain di situ? Ayo, masuk," ajak seseorang kepada Selena. Panggilan itu sontak membuat mereka semua menoleh ke sumber suara. Ternyata, Maya. Gadis bertubuh tinggi dengan kulit cokelat eksotis. Di belakangnya, Roni pun turut berjalan mengikuti Maya. Mereka berdua tengah berjalan menuju pintu masuk kantor sembari melambaikan tangan. Selena pun segera meninggalkan Meeta dan bergabung dengan kedua sahabat satu komplotannya. Meeta masih terpaku di tempatnya. Mengamati tiga sampah yang sering menghina dan mengolok-olok dirinya. Dengan geram, Meeta terus memicingkan matanya sambil meneliti obrolan ketiga orang itu. "Ih, kamu kok mau sih ngobrol sama Meeta. Nggak takut ketularan halu?" tanya Maya setengah berbisik. Tapi, telinga Meeta masih cukup tajam untuk menangkap gunjingan itu. Roni tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Maya yang mengocok perut. Sesekali, Roni menjatuhkan lirikan tajam tanda tak suka ke arah Meeta. "Amit-amit. Aku nggak sudi ketularan sinting kayak dia," balas Selena tajam. "Halah! Biar sinting begitu, dia pernah berhasil macarin cowok inceranmu waktu SMA, loh! Siapa tuh namanya? Ray, 'kan? Kalah telak kamu, Sel. Cewek udik kayak dia aja berhasil dapetin bule tajir. Eh, kamunya malah terbuang kayak sampah masyarakat. Hahahahaha," goda Roni. Suara ketiga makhluk menyebalkan itu kian jauh. Berkat tepukan lembut yang diberikan Arham di punggung Meeta, wanita itu dapat mengontrol kembali emosinya. "Sudah, Mbak. Jangan dipikirin lagi. Tahu sendiri kan kalau mereka bertiga memang biangnya masalah. Pinter-pinter ngalah aja, Mbak. Dari pada makin pusing nanggepin orang kayak mereka," ucap Pak Salim menasehati. Meeta mengangguk. Ia menghela napas beberapa kali sebelum benar-benar meninggalkan pos satpam dan pergi menuju ruang kerjanya yang sudah mirip seperti ruang isolasi. Demi kenyamanan pekerja lain, Meeta terpaksa menyetujui untuk ditempatkan di satu ruangan kecil yang hanya berisi satu set komputer dan kursi. "Mungkin kamu jadi emosian karena belum sarapan. Udah ya udaaaah. Tenaaaaang," ucap Arham sambil merangkul pundak Meeta. Meeta menjawab, "Ih! Ya nggak gitu juga dong, Mas! Aku ini seratus persen waras! Emang apa salahnya kalau aku bisa lihat dan ngobrol sama kamu. Walau pun mereka nggak percaya, bukan berarti aku salah, 'kan? Bukan berarti mereka berhak ngecap aku sebagai perempuan dengan gangguan jiwa, 'kan?!" "Tapi, karena semua orang nggak bisa lihat aku, kamu harus sedikit mengalah. Demi nama baik kamu juga. Kamu nggak mau kan diperlakukan begini terus? Apalagi sama musuh bebuyutan kamu sejak SMA," sahut Arham. Pak Salim menyaksikan perilaku Meeta yang aneh. Tentu saja, di mata Pak Salim, Meeta lagi-lagi berbicara dengan kekosongan. Pikiran Meeta kembali menampilkan momen-momen di mana dirinya dan Selena masih dalam satu ikatan persahabatan yang manis. Persahatan yang berjalan cukup lama. Keduanya hampir tidak pernah bertengkar. Bahkan, Meeta dan Selena selalu saling mendukung satu sama lain. Sayangnya, persahabatan mereka harus pupus karena satu masalah yang umum terjadi. Meeta dan Selena menyukai orang yang sama. Laki-laki itu adalah Ray Solomon. Pria yang menemui Meeta kemarin. Layaknya persahabatan orang lain, satu konflik ini memanglah rawan terjadi dan selalu berujung perpecahan. Masalah semakin memanas saat dimana akhirnya Ray dan Meeta menjalin sebuah hubungan asmara. Setelah Ray dan Meeta bersama, barulah Selena mengaku bahwa dirinya mencintai Ray sejak lama. Kemarahan dan kekecewaan Selena membuat gadis cantik itu memilih untuk memutus tali persahabatannya dengan Meeta. Hingga saat ini. "Mbak Meeta? Kok malah diem aja? Jangan melamun, Mbak," tegur Pak Salim sambil menepuk bahu Meeta. Sontak Meeta mengerjapkan mata beberapa kali dan berusaha mendapatkan kesadarannya kembali. Tanpa ia sadari, ternyata Meeta cukup jauh dalam merenungkan masa lalunya bersama Selena. "Ehhh! Ya ampun. Saya malah jadi lupa diri. Ya sudah, Pak. Saya masuk ke kantor dulu, ya. Saya juga belum presensi. Takut nanti kena potong gaji kalau telat," pamit Meeta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN