Tragedi Tiga Gadis

1485 Kata
"Kamu yakin nggak mau protes ke bos kamu? Rasa-rasanya, kamu kayak kerja di dalam penjara. Ya emang lebih tenang, sih. Kamu juga dapet satu set komputer yang lebih bagus dari pada pegawai lainnya. Tapi, sepi banget di sini," tanya Arham. Melihat jemari Meeta yang tengah sibuk menekan tuts keyboardnya, membuat Arham tidak berani banyak bertanya. Arham takut membuyarkan konsentrasi Meeta yang sedang berada di puncak-puncaknya. Nyatanya, kondisi ruangan baru ini memang sunyi senyap. Ruangan yang dahulunya adalah tempat untuk penyimpanan berkas. Ruangan ini pun agak kedap suara. Sehingga, suara dari luar pun tak sepenuhnya dapat masuk ke dalam ruangan. Arham merasa sangat kesepian. Dia bingung hendak melakukan apa dan bersama siapa. Akhir-akhir ini, Meeta memang agak sibuk setelah melakukan penelitian di beberapa desa terpencil. Banyak data yang harus ia olah. "Bentar ya, Mas. Kita ngobrolnya nanti dulu. Aku harus ngerekap hasil pengujian air dari laboratorium pusat. Harus selesai sebelum jam istirahat," jawab Meeta tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Arham mondar-mandir sambil sesekali mencari celah untuk bisa mengobrol dengan Meeta. Tapi, sulit! Meeta sedang tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi. "Apa aku keluar aja, ya? Jalan-jalan sebentar," batin Arham. Setelah menimbang-nimbang keputusannya, akhirnya Arham memutuskan untuk pergi dari ruangan itu untuk beberapa saat. Hanya beberapa menit guna melepas rasa jenuh. Toh keadaan kantor sedang kondusif. Meeta sedang dalam kondisi aman dan tidak dalam gangguan Selena dan dua pengganggu lainnya. Tanpa sepengetahuan Meeta, Arham diam-diam pergi dari ruangan kecil itu. Menembus dinding ruangan dengan sangat mudah. Arham melangkahkan kaki keluar dari gedung kantor dengan santai. Menoleh kesana-kemari memperhatikan aktifitas pegawai dan pengunjung dengan keperluan yang berbeda-beda. "Mbak, vaksinasi meningitis untuk ibadah umrah masih tersedia?" tanya seorang pengunjung kepada Karina, seorang resepsionis yang bertugas di dekat pintu masuk. "Masih, Bu. Tolong daftarkan diri secara online dahulu ya," jawab Karina dengan begitu santun. Arham melewat aktifitas semua orang dengan takjub. Ternyata, selama ini istrinya bekerja di tempat yang tidak sembarangan. Tempat ini begitu elite dan luar biasa. Karena Meeta adalah sosok yang berprestasi, tidak heran jika Meeta bisa bekerja di tempat hebat seperti ini. Kaki Arham terus melangkah keluar gedung kantor. Tanpa tujuan dan tanpa arah. Yang ia tahu, ia hanya terus mengikuti jalan yang terpampang di depan matanya. Menyusuri jalanan trotoar paving yang di tepinya terdapat pot-pot dengan tanaman bonsai yang indah. "Aku harus kemana, ya? Kalau beli makan, nggak mungkin banget," celetuk Arham. Telapak kaki Arham yang tidak pernah memakai alas, dipadu dengan pakaian santai yang dikenakan Arham saat dirinya meninggal, membawa laki-laki itu ke sebuah tamat yang jaraknya hanya lima ratus meter dari kantor Meeta. Cukup mudah untuk segera kembali dan menemani Meeta saat rasa jenuhnya sudah berkurang. Setelah melalui perjalanan singkat .... Arham memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang kosong. Bangku yang dibangun di tepian taman dan dekat dengan jalan raya. Di bagian tengah taman, berdiri seorang gadis muda yang terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Seragam sekolah yang ia kenakan, menandakan bahwa gadis itu membolos dan nekat pergi ke taman dengan alasan yang tidak diketahui Arham. "Ngapain dia berdiri di tengah taman? Kurang kerjaan banget. Ini kan masih jam sembilan pagi. Harusnya dia ada di sekolah, bukan di sini," celetuk Arham terus mengamati si gadis. Setelah dirasa suasana taman tak kalah sepinya, Arham mulai jenuh kembali. Pilihan Arham untuk mampir ke taman adalah suatu keputusan yang salah. Tidak ada lagi orang-orang yang datang atau sekadar melintas. Tidak ada satu hal pun yang menarik. "Ah, kalau kayak gini, mending aku pergi aja. Nggak guna banget duduk sendirian di sini. Mending nonton orang karaoke atau nonton orang main di timezone," omel Arham. Arham memutuskan untuk meninggalkan lokasi itu. Dirinya bangkit dari kursi taman yang ia duduki sedari tadi. Tapi, saat Arham hendak melangkahkan kaki meninggalkan lokasi, sesuatu menghentikan pergerakan Arham. Suatu perbincangan dua gadis muda yang membuat Arham mustahil untuk tidak ikut campur. Suara itu datang dari belakang tubuh Arham. Di belakang kursi yang Arham duduki. Dengan cepat, Arham segera menoleh ke bagian belakang tubuhnya. "Ini bener segini bubuknya? Nggak kebanyakan? Kamu yakin kan, Sin?" tanya seorang gadis berkaca mata. Ada dua gadis dengan seragam sekolah yang serupa dengan seragam gadis di tengah taman. Seragam dan logo sekolah mereka sama persis. Bisa diperkirakan bahwa mereka semua bersekolah di tempat yang sama. Si gadis berkaca mata, memiliki sebuah tanda nama bertuliskan Olive Kusuma. Sedangkan teman satunya, bernama Sindy. Dua gadis muda itu tengah sibuk menghias sebuah kue cantik dengan hiasan bertuliskan 'Happy Birthday' di tengahnya. Dengan berjongkok, mereka bersembunyi di balik bangku taman dengan begitu hati-hati. "Mereka mau ngapain, sih? Kenapa pakai bawa kue ulang tahun?" ucap Arham bingung. Sembari membuang waktu, Arham memutuskan untuk menyimak perbincangan dua gadis remaja itu. Dengan kondisi Arham yang tidak terlihat, menguping dari depan wajah mereka pun tidak akan ketahuan. "Apa nggak kebanyakan, Sin? Ya memang sih bentuknya kayak gula putih. Fey juga nggak bakal curiga. Tapi kan ... ini bahaya," ucap gadis bernama Olive. Wajahnya cemas tak menentu. Ada rasa takut saat jemari Olive menaburkan sebuah serbuk putih di atas kue ulang tahun mini dengan sebuah sendok plastik. "Halah! Peduli amat! Ini kan emang tujuan kita. Kalau cuma dikit, mana mungkin bereaksi?! Udah, kamu ikutin perintahku aja," sergah gadis bernama Sindy, gadis dengan rambut panjang diikat dua kanan dan kiri. Dahi Arham mengernyit. Mendengar potongan percakapan dua gadis itu, ada hal tidak beres yang Arham tangkap. Gadis bernama Olive dan Sindy ini tengah menyusun suatu rencana yang tidak biasa. Rencana yang mengarah pada kejahatan. "Ini serbuk apa sih, Sin? Kenapa kamu nyuruh aku pakai sarung tangan karet? Kamu juga nyuruh aku hati-hati dan pakai sendok. Apa ini serbuk mematikan?" tanya Olive dengan terus menaburkan serbuk putih itu hingga menutupi seluruh permukaan atas kue. Olive pun tidak sepenuhnya paham karena dirinya hanya mengikuti apa yang Sindy perintahkan. Sindy terkekeh sekejap. Dia tak menyangka bahwa Olive akan sepolos itu. Menjadi sahabat Sindy selama lebih dari sepuluh tahun, ternyata belum bisa membuat Olive paham tentang bagaimana perangai Sindy. "Kamu beneran nggak tahu, Liv? Ini racun tikus! Hahahaha," tawa Sindy dengan lantang. Gadis itu terbahak hingga memegangi perutnya. Detik itu pula, Arham semakin tersentak. Perasaannya yang tidak enak, menjadi semakin tidak enak. Ternyata, firasat buruk Arham benar-benar terjadi. "Racun tikus di atas kue? Buat apa lagi kalau bukan buat meracuni orang?!" batin Arham. Arham semakin geram. Rasa marahnya timbul hingga membuat ekspresi Arham berubah drastis. Ada marah, cemas, takut, dan panik yang berputar-putar di dalam kepalanya. "Kebetulan hari ini ulang tahun Fey. Dan akhirnya, kita bisa ngasih kue terindah sekaligus kue paling berkesan seumur hidupnya. Kue yang bikin dia tidur selamanya! Hahahaha! Rasain!" tawa Sindy. Suaranya seperti seorang penyihir yang tengah mengincar mangsanya. Sama persis! "Sin, kamu yakin? Udah dipikirin lagi? Aku takut ... aku bener-bener takut," ucap Olive gugup. Sindy mengguncang bahu Olive beberapa kali. Dia tidak ingin rekan jahatnya akan berubah pikiran karena rasa takut yang berlebihan. "Nggak ada waktu buat takut, Liv! Selama ini, Fey udah jadi perempuan simpanan ayahku! Aku harus bunuh dia biar hubungan dia sama ayahku hancur! Kamu harus dukung aku! Kalau Fey nggak mati, aku bakal bunuh diri! Selama ini dia nggak tahu kalau aku udah mergokin dia sama ayahku. Sekarang, saatnya balas dendam!" tukas Sindy tegas. Matanya sudah dipenuhi dengan kebencian yang membabi buta. Membuatnya tidak memiliki akal sehat. "Tapi, Fey kan teman satu geng kita juga. Selama ini kita bertiga akrab. Tolong jangan bunuh dia, Sin. Masih ada cara buat misahin Fey sama ayah kamu," sahut Olive. Namun, Sindy tetap gelap mata. Dia sama sekali tidak akan berbelas kasih kepada sosok yang sudah menghancurkan rumah tangga orang tuanya. Jika bukan karena Fey, ayah dan ibu Sindy pasti tidak akan bertengkar hebat yang berujung perpisahan. Di sisi lain, mulut Arham tengah menganga lebar setelah mendengar obrolan dua gadis itu lebih lanjut. Obrolan yang awalnya Arham sangka adalah sebuah percakapan biasa tentang kejutan ulang tahun, ternyata tak sepenuhnya benar. Sindy dan Olive hendak membunuh seseorang dengan sebuah sampul 'kejutan ulang tahun'. "Ya Tuhan!!! Mereka mau bunuh orang! Siapa orang yang mau mereka bunuh? Siapa Fey?!" ucap Arham cemas. Sontak tatapan Arham mengarah pada seorang gadis di tengah taman. Gadis yang masih berdiri di sekeliling air mancur kecil sembari menunggu seseorang. Tanpa ragu lagi, Arham nekat berlari sekencang mungkin menghampiri sosok di tengah taman guna memastikan sesuatu. Sosok yang jaraknya sekitar lima puluh meter di depan matanya. Dengan tenaga penuh, Arham mengerahkan kekuatannya untuk segera menggapai gadis itu. Dia ingin menuntaskan rasa penasarannya. Tap Tap Tap "Aku harus cepet!" batin Arham. Hanya dalam beberapa menit saja, Arham sudah dekat dengan sosok hendak yang ia gapai. Arham langsung mendekati tubuh gadis itu dan menatap wajah serta perawakannya dari dekat. "Perasaanku nggak enak banget," celetuk Arham. Perlahan, Arham berjalan dan berdiri tepat di depan tubuh gadis itu. Menatap gadis cantik dengan rambut lurus sebahu. Di atas saku bajunya, tertempel sebuah tanda nama yang dijahit. Sebuah nama yang sedari tadi membuat Arham khawatir. 'Fey Valensia' "Jadi ... dua perempuan tadi mau membunuh orang ini?" ucap Arham dengan mata terbelalak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN