Ada yang Bisa Melihat Aku?

1673 Kata
Arham merasa dirinya harus bertindak. Entah dia arwah atau manusia, hati nuraninya tetap bekerja sesuai harkat dan martabat seorang makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Saat di depan matanya hampir terjadi sebuah pembunuhan terencana, Arham segera memutar otak untuk mencegah tragedi itu. "Aku harus cegah ini!" tukas Arham. Setelah menoleh kesana-kemari, mata Arham menemukan sebuah sudut di mana lokasi itu dipenuhi oleh orang-orang yang tengah mengantre di depan sebuah toko roti. Melihat kerumunan itu, sebuah ide pun tiba-tiba muncul di benak Arham. "Tunggu bentar ya, Fey!" ucap Arham sembari melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Secepat kilat, Arham meninggalkan Fey yang tengah cemas memeriksa jam tangannya berkali-kali. Mengamati menit demi menit yang berlalu dengan begitu cepat. Sepertinya, Fey tengah menunggu kehadiran Olive dan Sindy yang sengaja memintanya datang ke taman. Tap Tap Tap Arham berlari secepatnya. Menembus seluruh orang-orang yang tidak sengaja ia tabrak. Dia pun tidak kesulitan menyeberangi jalan raya karena mustahil untuk dihantam kendaraan. Tujuannya saat ini hanyalah mendekati antrean toko roti yang begitu panjang. Setelah sekitar tiga menit Arham berlari, kedua kakinya terhenti di depan sebuah toko roti yang baru buka. Toko roti yang menjadi tujuannya. Di jendela toko itu, tertuliskan 'Grand Opening' dengan diskon lima puluh persen untuk pembelian hari ini. "Pantes aja ramai," celetuk Arham. Arham mulai berdiri di depan pintu toko. Menghadap seluruh antrean yang panjangnya bermeter-meter. Dengan berdiri di atas sebuah pot bunga besar, Arham menjalankan aksinya. Melakukan ide yang sedari tadi bersarang dalam otaknya. "Permisi! Saya butuh bantuan! Siapa pun yang bisa melihat keberadaan saya, tolong datang kemari. Saya butuh bantuan!" teriak Arham sekencang-kencangnya. Sayangnya, tidak ada respon dari seluruh pengunjung toko. Semuanya diam. Mereka tidak bisa melihat sosok Arham yang panik di depan pintu. "Saya butuh bantuan! Tolong siapa pun yang bisa melihat atau mendengar saya. Saya benar-benar butuh bantuan!" teriak Arham lagi. Kepanikan Arham mulai menjadi-jadi. Di antara puluhan pengunjung toko, tidak ada satu orang pun yang bisa melihat Arham. Tidak ada manusia indigo di antara pengunjung toko roti. Hal itu membuat Arham semakin cemas sekaligus geram. Tiba-tiba, di tengah kecemasan Arham, sesosok laki-laki muda dengan jas almamater sebuah universitas berjalan mendekat ke arah pot bunga di mana Arham berdiri. Dengan sebuah rokok tersemat di jemarinya, laki-laki itu berjalan perlahan di depan tubuh Arham. Kehadiran itu membuat Arham menjatuhkan harapan berlebih pada sosok ini. "Mas, terima kasih sudah kemari. Anda bisa lihat saya, 'kan? Tolong bantu saya menolong gadis yang ada di sana," pinta Arham lantang dengan satu jari menunjuk ke arah taman. Tapi, kenyataan tak sesuai dengan ekspektasi Arham. Laki-laki mahasiswa itu sama sekali tidak menoleh atau menanggapi ucapan Arham. "Bro, pot bunga yang kaya gini kan yang dimaksud sama Pak Rahmat?" tanya mahasiswa itu kepada seseorang yang ada di antrean depan. Kepada seorang temannya yang mengenakan jaket hitam tebal. Arham tertegun. Harapannya pada sosok itu seketika pupus. Ternyata, mahasiswa itu tidak menghampiri Arham, melainkan menghampiri sebuah pot yang Arham injak. "Iya! Bener! Nanti setelah beli roti, kita sekalian tanya sama penjualnya. Boleh apa nggak kita bawa pot itu. Kalau sampai kita nggak dapet pot kayak gitu, bisa-bisa mata kuliah seni kriya kita dapet nilai E. Parah!" jawab si mahasiswa berjaket hitam. Mata Arham seketika mengamati pot bunga yang ia injak sedari tadi. Sebuah pot dari tanah liat yang sudah dicat menjadi warna putih polos. "Si4lan! Aku salah sangka!" ucap Arham geram. Karena kesal sekaligus bingung, Arham merasa bahwa upayanya sia-sia. Dia hanya membuang-buang waktu di depan toko roti. Maka dari itu, Arham memutuskan untuk segera meninggalkan toko roti dan mencari kerumunan lain. Setiap detiknya, Arham mencemaskan Fey yang entah sekarang sudah bertemu dengan dua pembunuhnya atau belum. Bayangan-bayangan buruk melintas di pikiran Arham meski dirinya tidak mengenal Fey, Sindy, maupun Olive. Tap Tap Tap "Si4lan! Nggak ada kerumunan lagi. Aku harus cari di mana?! Duh, masih ada waktu nggak, ya?!" kata Arham. Terpaksa Arham harus mencoba berlari memasuki lorong-lorong dan gang-gang kecil untuk menemukan seseorang yang sadar akan keberadaannya. Karena masih jam kerja, Arham cukup kesulitan mencari keramaian. Tentu saja semua orang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hingga akhirnya, Arham memutuskan untuk berlari menyusuri gang sempit yang akan mengarahkan Arham ke sebuah sekolah menengah swasta. "Kalau udah begini, mau nggak mau aku harus masuk ke sekolah. Siapa tahu ada murid atau guru yang bisa lihat aku. Syukur-syukur kalau dia mau bantu aku," ucap Arham sambil menghentakkan kakinya cepat di atas jalanan yang kering dan keras. Tap Tap Tap Ketika Arham baru beberapa meter berlari di dalam gang sempit, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Arham. "Kamu cari apa?" tanya sebuah suara berat dan serak. Sebuah suara laki-laki dewasa yang terdengar seram dan menakutkan. Langkah Arham terhenti. Kepalanya menoleh ke arah belakang tubuhnya. Di mana sumber suara itu berasal. "Kenapa kamu buru-buru?" tanya suara itu lagi. Saat Arham memeriksa belakang tubuhnya, ia mendapati sosok pria tua yang tengah terduduk di tepi gang dengan sebuah gelas plastik transparan di tangan kanannya. Di dalam gelas itu, terdapat beberapa uang koin dan selembar uang kertas. Wajahnya dipenuhi jambang dan jenggot. Topi lebar pun menutupi kepalanya dan rambutnya yang sudah hampir menyentuh bahu. Tubuh pria tua itu begitu kotor dan penuh noda. Pakaiannya pun compang-camping dengan warna yang sudah mulai menghitam. Kulit pria itu pun gelap. Kakinya kurus tanpa alas kaki. "Apa bapak pengemis itu bisa lihat aku?" batin Arham. Arham langsung berbalik arah dan mendekati laki-laki tua yang tengah duduk bersandar pada dinding gang. Tanpa basa-basi lagi, Arham segera menyampaikan maksudnya. "Bapak bisa lihat saya? Bapak bisa dengar suara saya? Pak, saya butuh bantuan bapak. Tolong peringatkan gadis yang ada di tengah taman untuk segera pergi dari tempat itu! Dua temannya mau membunuh dia, Pak! Kita harus cepat bantu dia!" papar Arham menggebu-gebu. Pria tua itu menatap wajah Arham dengan lembut. Tatapan matanya nanar. Tetapi, dia paham jelas atas apa yang Arham katakan. "Sebelum terlambat, Pak. Saya benar-benar butuh bantuan bapak," sambung Arham. Dengan perlahan, pria tua itu menyentuh bahu Arham sembari berucap, "Bawa saya ke sana. Saya bisa bantu kamu, Nak." Bagai menemukan secercah harapan yang semula meredup, perasaan Arham mendadak merasa menang. Meski dirinya hanyalah arwah tanpa raga, Arham sangat lega karena dirinya masih berguna untuk orang lain. Meski melalui tangan orang lain. Dengan bersusah payah, Arham menuntun pria tua itu bangkit dari posisinya. Langkah kaki si bapak pengemis terseok-seok. Sepertinya, salah satu kakinya mengalami gangguan untuk berjalan secara normal. "Ayo, Pak," kata Arham lagi. Mereka berdua berjalan berbalik arah keluar dari gang sempit. Dengan hati-hati, Arham berjalan beriringan dengan orang yang baru saja ia temukan. Orang yang sudah pasti bisa membantunya. Puluhan langkah pun mereka ambil. Dengan satu tangan Arham yang merengkuh bahu si pria tua, akhirnya sampailah mereka di tepi jalan raya. Mereka berdua keluar dari gang sempit yang sedikit gelap karena kurangnya paparan cahaya matahari. "Kesana, Pak," ucap Arham sambil mengarahkan jalan mana yang harus mereka ambil. Saat Arham sudah berada di luar gang, dirinya baru menyadari sesuatu. Arham baru menyadari bahwa suasana jalan raya menjadi tiga kali lebih ramai dari biasanya. Banyak orang berlarian ke sebuah titik yang sama. Bahkan, jalanan di depan mata Arham seketika macem total karena mobil polisi seketika berhamburan di area ini. Terdengar bunyi sirine yang memekakkan telinga berbunyi tanpa jeda. Suaranya kian nyaring karena sirine mobil polisi dan mobil ambulance berbunyi bersamaan. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba seramai ini? Apa ada kecelakaan?" ucap Arham bingung. Beberapa pengendara motor sengaja turun dari motornya dan duduk di tepi trotoar guna menunggu lalu lintas lancar kembali. Dari segelintir obrolan yang dilontarkan para pengendara motor, Arham akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa sih, Bu? Kok bisa sampai macet begini?! Duh, mana saya mau jemput anak di sekolah. Di deket sini ada jalan pintas nggak, sih?" omel seorang wanita dewasa. Peluhnya menetes karena suasana yang sangat panas. "Sabar, Bu. Gang di deket sini rata-rata nggak bisa dilewati motor. Kalau ibu mau, jalan kaki saja," sahut seorang bapak-bapak berbadan gempal. "Lagian ngaco banget, sih! Jam segini kok ya ada-ada aja masalahnya. Bikin susah orang satu kota!" omel si ibu lagi. Tiba-tiba seorang nenek yang menggendong seorang bayi menyahuti, "Bener, Bu! Saya juga kesel. Cucu saya jadi kepanasan. Emangnya ada masalah apa sih anak-anak SMA itu? Kenapa sampai bunuh temannya?" "Nggak tahu. Belum ada klarifikasi. Yang saya dengar dari pedagang ketoprak tadi, ada siswi yang dibunuh sama temennya. Katanya sih diracuni. Pakai kedok mau ngasih kejutan ulang tahun. Saya bener-bener nggak habis pikir ada siswi yang punya pikiran kriminal begitu," jawab si ibu. Saat itu juga, Arham terpaku bagai patung manekin. Dirinya tak sanggup menggerakkan tubuhnya. Mendengar apa yang dipaparkan oleh para pengendara motor, Arham yakin seratus persen bahwa peristiwa pembunuhan yang dimaksud adalah kejadian antara Fey, Sindy, dan Olive. Tiga siswi yang ada di taman. "Kejadiannya di mana sih, Bu? Di tengah jalan?" tanya si nenek lagi. "Di taman," jawab si ibu singkat. Kini, tidak terbantahkan lagi. Kekhawatiran Arham benar terjadi sebelum dia dan si pengemis sampai di lokasi kejadian. "Aku ... terlambat?" ucap Arham lirih. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Dilepaskannya rengkuhan tangannya pada bapak pengemis. Hati Arham hancur seketika mengingat dirinya gagal menolong Fey. "Kalau aku masih hidup ... pasti aku bisa mencegah pembunuhan ini," sambung Arham. Deru sirine mobil terus nyaring berbunyi. Suaranya semakin terabaikan oleh Arham yang fokus pada kekecewaannya. Dia kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa akan dirinya yang sudah mati. Kecewa karena dia begitu terlambat memberikan bantuan. Melihat Arham yang sedih, bapak pengemis menepuk punggung Arham beberapa kali. Dengan tangannya yang sudah berkeriput, beliau berusaha menyalurkan ketenangan agar Arham tidak larut dalam kesedihan. "Semua bukan salah kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu, orang baik," ucap si bapak pengemis lembut. Arham menolehkan wajah lemasnya kepada sosok yang sedari tadi berdiri di sampingnya. "Tapi ... semuanya karena saya, Pak. Kalau saya masih hidup, pasti saya bisa menolong siswi itu," jawab Arham. Bapak pengemis mengulurkan senyuman teduh. Lagi-lagi, sang bapak berkata dengan begitu bijak, "Semua yang terjadi bukan karena salah kamu atau salah siapa pun. Semuanya sudah kehendak Tuhan. Arwahmu yang berkeliaran, itu juga kehendak Tuhan. Saya bisa melihat kamu, juga kehendak Tuhan. Tragedi pembunuhan itu, kehendak Tuhan pula. Semuanya sudah berada pada garis yang diatur oleh Yang Maha Kuasa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN