Pillow Talk

1232 Kata
"Kamu dari mana sih, Mas?! Aku nyariin kamu dari tadi! Kamu tahu nggak sih sepanik apa aku tadi! Aku takut kamu hilang! Aku takut kamu nggak bakal balik lagi! Kenapa kamu nggak bilang dulu sih kalau mau keluar!" marah Meeta. Kekesalannya mudah terpicu karena tubuhnya sedang lelah. Waktu sudah hampir menunjukkan jam pulang kantor. Beberapa menit sebelum Meeta meninggalkan ruangannya, Arham tiba-tiba muncul dengan wajah lemas dan sedih. "Jawab dong, Mas! Kamu sengaja mau ngerjain aku? Jangan keterlaluan dong, Mas! Selama jam istirahat, pikiranku jadi kemana-mana! Aku bahkan nggak bisa makan siang karena terganggu pikiran-pikiran buruk!" lanjut Meeta. Arham masih terdiam dengan kepala menunduk. Melihat ke arah kaki Meeta yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan berkacak pinggang. Arham bahkan belum sempat melihat wajah Meeta yang marah karena dirinya pergi tanpa izin. "Kalau kamu bosen nemenin aku, harusnya kamu ngomong dong, Mas. Bukan malah ngilang tiba-tiba begitu!!" omel Meeta lagi. Sesekali Meeta berdecak kesal melihat perilaku suaminya. "Mas! Jawab dooo ...," ucap Meeta berputus. Saat Meeta hendak melanjutkan omelannya, Arham seketika mendekati tubuh istrinya dan memeluknya dengan begitu erat. Arham melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Meeta. Merengkuh erat dan membenamkan kepalanya di pundak Meeta. Saat aroma tubuh Meeta mulai tercium, air mata Arham tidak bisa tertahankan. Tangisannya pecah dengan begitu memilukan. Arham menangis tersedu dalam pelukan istrinya. Sedangkan Meeta masih terkejut dengan respon Arham yang berlebihan. Seperti ada sesuatu yang membuat Arham begitu tersakiti. "Mas ... maafin aku. Aku nggak bermaksud buat marah-marah ke kamu. Aku nggak tahu kalau kamu bakal jadi sedih begini. Aku minta maaf ya, Mas," ucap Meeta melembut. Dirinya merasa bersalah karena merasa terlalu keras pada Arham walau biasanya Arham tidak pernah menangis jika diprotes. Pegawai kantor berangsur-angsur mulai berkurang karena sudah waktunya jam pulang. Sedangkan Meeta masih memasang badan untuk Arham menuntaskan tangisannya yang menyayat hati. Meeta sangat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Diusapnya rambut dan punggung Arham dengan penuh perhatian. Meeta pun membalas pelukan Arham dengan erat dan penuh kasih guna menenangkan laki-laki berhati lembut itu. *** "Ohh ... jadi gitu," ucap Meeta. Arham menceritakan semua yang ia alami saat meninggalkan Meeta di kantor. Saat di mana Arham bertemu Fey, Sindy, dan Olive di taman. Dengan begitu detail, Arham menjelaskan bagaimana dia bisa merasa sehancur itu. "Aku merasa nggak berguna, Meet. Bukan cuma buat Fey, tapi juga buat kamu. Buat semua orang. Kamu nggak tahu rasanya di saat kamu berniat menyelamatkan orang lain, tapi kekurangan kita justru menghalangi niat itu. Kenapa bukan orang lain aja lihat perbuatan Sindy dan Olive? Kenapa harus aku? Kenapa harus orang yang jelas-jelas nggak bisa bantu Fey?!" kata Arham geram. Arham mulai kesal dengan nasib dan keadaan yang menimpa dirinya. Kalau memang dia sudah mati, kenapa tidak sekalian saja mati dan menghilang dari muka bumi. Kenapa arwahnya harus terjebak dengan alasan yang tidak pasti? Keadaan itu mulai membuat Arham sedikit murka dengan tali nasib. "Jangan nyalahin diri kamu sendiri, Mas. Mungkin sudah kehendak Tuhan kalau Fey memang harus meninggal dengan cara yang tragis," jawab Meeta menenangkan. Salah satu tangannya mengusap punggung Arham. "Ucapanmu sama persis kayak ucapan bapak pengemis yang aku temui. Dia juga bilang gitu," jawab Arham. Senyuman Meeta tersungging. Disandarkan kepalanya di pundak Arham yang duduk di sampingnya. Dengan selimut yang menutupi kedua kaki mereka, Meeta dan Arham menikmati obrolan sebelum tidur. Meski obrolan yang mereka lakukan mengandung topik yang berat. "Berarti, emang bener begitu, Mas. Kalau dalam kasus kriminal, dua saksi mata cukup kuat buat menyatakan siapa pelakunya. Sama kayak ucapanku dan ucapan bapak pengemis. Dua ucapan yang sama, menandakan kalau ucapan kami benar. Semuanya terjadi memang karena sudah menjadi nasib Fey. Jadi, berhenti nyalahin dirimu sendiri," papar Meeta jelas. Pikiran Arham mulai terbuka kembali. Yang diucapkan Meeta memang ada benarnya. Ada atau tidaknya Arham di taman, pembunuhan Fey tetap akan terjadi. Arham menolehkan wajahnya ke sosok yang kepalanya jatuh di atas pundaknya. Diusapnya rambut lembut Meeta beberapa kali dengan sebelah tangan. Sekejap kemudian, Arham mencoba mengangkat wajah Meeta. Menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Meeta yang halus dan sedikit berisi. Arham mengarahkan wajah Meeta menghadap wajahnya sendiri. Membuat keduanya bertatapan dalam. Meeta pun hanya terdiam mengikuti apa yang Arham lakukan. Dua sejoli itu saling beradu pandang selama beberapa detik sebelum Arham akhirnya menjatuhkan bibirnya di atas bibir Meeta yang masih dibalut lip-gloss beraroma ceri. Kedua bibir itu berpagutan membentuk ritme tertentu. Arham memimpin permainan yang ia mulai. Tangannya mencengkeram belakang kepala Meeta dan mengatur pergerakan istrinya. Meeta pun tidak menolak sama sekali. Dirinya menikmati apa yang suaminya lakukan pada dirinya karena hal itu merupakan salah satu kewajibannya kepada Arham. "Makasih banyak. Kamu bener-bener perempuan terbaik buat aku," bisik Arham di sela-sela permainannya. Meeta tidak menjawab sepatah kata pun. Dia masih dalam ritme permainan cinta yang Arham kendalikan. Dia hanya melingkarkan kedua tangannya ke tubuh kekar Arham hingga jemari Meeta saling bertemu lagi di belakang tubuh Arham. Tentu saja Arham tidak menghentikan aksinya. Merasa Meeta pun mulai menikmati serangan bertubi-tubi di bibir dan wajahnya, sifat nakal Arham mulai timbul. Tangannya mulai menyentuh d**a dan mencengkeram benda itu dengan erat. Sesekali, diremasnya dua bongkah bukit indah itu dengan penuh perasaan. Gerakan bibir keduanya tidak terputus. Sedangkan Arham terus menjelajahi tubuh Meeta di berbagai titik. Menyentuh dan menyesap bagian-bagian rawan sedang pakaian Meeta satu persatu dilucuti. Seperti biasa, aksi keduanya semakin ganas dengan serangan-serangan cinta di atas tempat tidur mereka. Saat itu pula, Meeta semakin larut bagai terbang di atas awan. Tubuhnya serasa melayang-layang dalam buaian Arham. Kedua matanya sudah terpejam. Hanya kulit tubuhnya yang menikmati dan merasakan sentuhan dari bibir dan tangan Arham. Hingga akhirnya, Meeta merasakan ada sesuatu yang mulai menyentuh area vitalnya. Sesuatu yang akan mendorongnya berkali-kali saat ada sesuatu yang menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Matanya tetap tepejam. Hanya suara desahan saja yang ia dengar dari mulut suaminya. Begitu pun dengan Meeta. Mulutnya mulai mengeluarkan sepatah dua patah kata dengan begitu spontan. Des*han dan erangan ringan tanpa sadar Meeta ucapkan beberapa kali. Meeta merasa semakin melayang dengan mata tertutup. Hanya ada kegelapan dan ketenangan. Semakin lama, semuanya terasa semakin samar. Namun masih terasa kenikmatannya. Detik demi detik berlalu. Meeta semakin jatuh dalam kegelapan yang menguasai pikirannya. Kesadarannya semakin tidak jelas. Hingga pada suatu titik, Meeta merasa harus segera membuka matanya. Dia merasa sudah terlalu lama memejamkan mata. Dia ingin melihat sosok Arham yang sedari tadi memainkan tubuhnya. Setidaknya, Meeta ingin melabuhkan sorot mata pada suaminya di tengah-tengah permainan. Meeta pun membuka matanya perlahan dengan posisi tubuh yang tidak berubah. Kelopak matanya mulai terangkat. Berusaha memfokuskan mata agar tidak buram saat baru saja terbuka. Tapi, lagi-lagi Meeta mendapati hal aneh yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Hal yang sampai sekarang masih belum sepenuhnya ia pahami. "Loh? Udah pagi?" celetuk Meeta ringan. Kedua kelopak mata Meeta terbuka sedikit. Matanya masih menyipit untuk menyesuaikan dengan suasana kamarnya yang terang benderang. Samar-samar, terlihat sosok Arham yang terbaring di sampingnya sedang menatapnya dengan seulas senyum manis. "Tadi itu ... cuma mimpi?" batin Meeta. Meeta membalas tatapan hangat suaminya. Dia kembali memutar ulang apa yang ia rasakan sebelum ia terbangun di pagi hari. Setiap rasa nikmat yang ia rasakan, masih terasa nyata bagi Meeta. "Bukan mimpi, Meet. Aku udah pernah kasih tahu cara kerjanya, kan?" ucap Arham tiba-tiba. Melihat wajah Meeta yang kebingungan, Arham merasa tahu apa isi kepala Meeta. Wanita menggemaskan itu pasti sedang bertanya-tanya tentang kegiatan cinta mereka tadi malam. Apakah sebuah mimpi, atau sebuah kenyataan. "Ah, kamu tahu aja apa yang aku pikirin," jawab Meeta. Arham kembali tersenyum lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN