"Nih," ucap Mirna. Satu tangannya mengulurkan sebuah kantong plastik kecil kepada Meeta.
Tidak biasanya Mirna mengajak Meeta bertemu saat istirahat jam kerja. Karena kebetulan jam istirahat kantor keduanya sama, Mirna mengambil kesempatan untuk mengajak Meeta bertemu di sebuah cafe pinggir jalan.
"Ini apa?" tanya Meeta heran.
Wajah Mirna ketus. Seperti tidak ada rasa senang saat dirinya sudah duduk berhadapan dengan Meeta. Entah karena sedang ada masalah atau hal lain, Mirna seharusnya bersikap baik kepada saudari kembarnya.
"Obat. Dari temenku. Dia psikiater di luar kota. Kemarin aku konsultasiin kondisi kamu dan dia ngirim obat-obatan ini," jawab Mirna tanpa senyuman atau keramahan dalam wajahnya.
Meeta berdecak kesal. Mirna seolah-olah tutup telinga dan tutup mata atas pernyataan Meeta yang mengaku sehat secara mental. Selain rutin memaksa Meeta pergi ke psikiater secara langsung, ternyata Mirna diam-diam mengonsultasikannya.
"Udah gila ya, kamu? Kamu nggak denger aku ngomong apa waktu itu? Mentalku nggak bermasalah, Mir!!!" sergah Meeta kesal.
Mirna mengangkat dan menyeruput kopi hitam pesanannya sembari mendengarkan omelan Meeta yang monoton. Alibi dan pembelaan yang terus-terusan diutarakan Meeta sudah membuat Mirna bosan.
"Susah ya ngomong sama kamu! Disuruh periksa sendiri, nggak mau. Sekarang, aku anterin obatnya langsung, tetep nggak mau. Kapan sih kamu tuh nggak keras kepala?! Aku begini karena aku peduli sama kamu. Kamu itu saudari kembarku. Aku bukan mau maksa atau nyelakain kamu, Meet! Aku mau nolong kamu!" omel Mirna.
Kepala Meeta menggeleng sekali. Kedua tangannya dilipat ke depan sambil menatap tajam wanita berpakaian formal dan rapi di hadapannya.
"Kamu nggak perlu nolong orang yang nggak butuh pertolongan!" jawab Meeta singkat.
Mirna tak kalah kesalnya. Tapi, ditahannya habis-habisan. Menghela napas berkali-kali untuk mendapatkan kesabarannya saat menghadapi sifat Meeta yang bebal.
Ting!
Di tengah obrolan dua saudari itu, tiba-tiba sebuah lonceng di atas pintu cafe berdenting sekali. Menandakan ada seorang tamu yang masuk ke dalam cafe. Meeta tidak dapat melihat siapa tamu yang baru saja masuk karena posisi duduknya yang membelakangi pintu. Tapi, berbeda dengan Mirna. Dia begitu jelas melihat sosok yang baru saja masuk. Dan saat kedua mata Mirna menangkap sosok itu, kedua bola matanya membelalak besar karena saking terkejut dan ngeri.
"Mir? Kamu kenapa kaget begitu? Kamu lihat apa?" tanya Meeta saat melihat reaksi Mirna berubah dalam hitungan detik.
Mirna tidak menjawab sama sekali. Matanya masih menatap ke sosok yang baru saja memasuki cafe. Wajah Mirna menjadi patung seketika. Tidak bergerak sedikit pun.
"Mir?" panggil Meeta lagi. Tapi, tetap tidak mendapat jawaban apa pun.
Tiba-tiba sebuah langkah kaki terdengar berjalan mendekati meja Meeta dan Mirna. Sebuah suara hentakan sepatu pantofel atau lainnya. Semakin lama, semakin terdengar jelas suaranya.
"Halo, Mirna cantik. Kok kamu ada di sini?" sapa seorang pria tua dengan setelan formal berbalut jas serba hitam. Penampilannya bak bos besar atau semacam CEO suatu perusahaan. Tubuhnya gemuk besar dengan rambut yang sudah memutih sebagian. Di beberapa titik, bagian kepalanya sudah mengalami kebotakan karena faktor usia. Dari penampilannya, pria tua itu mungkin seusia mendiang ayah Meeta dan Mirna.
"Kamu lagi istirahat makan siang di sini, ya?" sambung pria itu. Suaranya berat. Wajahnya pun tersenyum nakal saat menatap Mirna yang sedang duduk diam tak berkutik. Dengan gelagat anehnya, laki-laki itu berdiri tegak di samping Mirna.
"Sebentar ya, Mir. Saya pesan makanan dulu. Nanti saya balik lagi ke sini. Nemenin kamu sama temen kamu," lanjut pria itu sambil melangkah menuju tempat pemesanan.
Ketika langkah kaki pria itu menjauh dari meja, Meeta mulai mengungkapkan rasa penasarannya kepada Mirna.
"Mir, itu siapa? Kamu kenal? Kok gelagatnya aneh gitu?" tanya Meeta curiga. Matanya menyorot bagai meminta penjelasan dari Mirna.
Terlihat butiran-butiran keringat Mirna mulai muncul membasahi dahinya. Tubuhnya pun sedikit gemetaran dengan gerak-gerik ketakutan. Mirna seperti melihat hantu di siang bolong.
"B-bosku! Dia bosku di kantor asuransi! Meet, kamu harus cepet-cepet pergi dari sini! Kamu harus balik ke kantormu!" paksa Mira gelagapan. Matanya sesekali menoleh ke pria tua tadi.
"Nggak! Aku nggak bakal pergi sebelum jam istirahatku habis. Kalau kamu nggak suka, kamu yang pergi. Lagian, aku penasaran banget sama tua bangka yang barusan nyapa kamu," jawab Meeta.
Nyatanya, jawaban Meeta bukanlah ucapan yang Mirna harapkan. Tapi, Mirna tidak sanggup memarahi Meeta saat ini. Mirna menyentuh kepalanya, memikirkan bagaimana cara mengusir Meeta secara halus.
"Please! Kamu harus pergi sekarang," pinta Mirna lagi.
Tapi, Meeta tetap menolak permintaan itu. Kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Meet, kalau kamu lihat sesuatu yang aneh antara aku sama dia, tolong jangan kaget. Tolong bersikap biasa aja. Dan satu lagi ... jangan lapor apa-apa ke Mama," lanjut Mirna dengan gugup. Wajahnya panik sejadinya. Membuat Meeta semakin sulit membaca keadaan. Tapi, Meeta yakin bahwa ada yang tidak beres.
Meeta melirikkan mata ke arah Arham yang duduk di meja seberang. Seolah-olah memberikan kode dan bertanya tentang masalah apa yang terjadi pada Mirna. Tapi, Arham hanya menggelengkan kepalanya pula. Tanda dia sama tak pahamnya dengan Meeta.
"Kok kamu cuma pesen kopi aja, sih? Kamu nggak mau makan?" tanya pria itu lagi. Rupa-rupanya, sosok itu sudah kembali ke meja Meeta dan menduduki kursi kosong di samping Mirna.
Mirna hanya mengangguk dan mengulurkan senyuman terpaksa pada laki-laki tua di sampingnya.
"Eh? Kamu temannya Mirna, ya? Salam kenal. Saya Pak Hartono. Bosnya Mirna di kantor," sapa laki-laki itu saat bertemu mata dengan Meeta yang duduk di seberang meja.
Pak Hartono mengulurkan tangan guna mengawali perjabatan tangan dengan Meeta. Karena Meeta pun tak ingin terlihat lancang, mau tak mau Meeta menerima sapaan itu dengan sopan.
"Saya Meeta. Saudarinya Mirna. Salam kenal kembali, Pak Hartono," jawab Meeta santun.
Pak Hartono kembali fokus pada Mirna. Matanya menatap dengan satu tangan yang mulai merangkul pundak Mirna.
"Kopi pesanan kamu sama Meeta udah saya bayar sekalian. Kalau kamu mau pesen yang lain, pesen aja. Saya bayarin juga," ucap Pak Hartono sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Mirna.
Meeta sedikit tersentak. Tapi, ditahannya agar tidak menimbulkan masalah. Meeta heran melihat Mirna diam tak berkutik saat Pak Hartono merangkul bahkan mendekatkan wajahnya ke wajah Mirna. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.
"I-iya ... t-terima kasih, Pak," jawab Mirna gugup.
Pak Hartono mengernyitkan dahinya dan menyanggah ucapan Mirna, "Saya kan udah bilang, panggil saya 'Mas' atau 'Om' biar lebih akrab. Kok lagi-lagi kamu panggil saya 'Pak', sih?!"
"Iya ... maaf, Pak. Eh ... om. Maksud saya om. Maaf, om," jawab Mirna lagi. Kegugupannya semakin nampak jelas.
Meeta memperhatikan gerak-gerik keduanya. Kedekatan Mirna dan Pak Hartono terlihat lebih dari sekadar bos dan bawahannya.
"Apa Mirna beneran pacaran sama si tua bangka ini?" ucap Meeta dalam hati.