"Kayaknya ada yang nggak beres antara Mirna sama bosnya, Meet. Mukanya Mirna sampe pucet begitu," tukas Arham.
Meeta kembali meneliti gerak-gerik dua orang yang ada di hadapannya. Sesekali, Meeta menatap ke arah biji mata Mirna. Tapi, Mirna selalu menghindari tatapan Meeta.
"Mumpung cafenya lagi sepi, tangan kamu ke sini, dong," ucap Pak Hartono sembari menyentuh tangan Mirna yang terletak di atas meja. Tangan Mirna begitu lemas saat jemari besar dan gemuk Pak Hartono membelai dan menggenggam jemari lentik itu.
Perlahan, Pak Hartono mengangkat tangan kanan Mirna dan membawanya turun dari atas meja. Pak Hartono mengarahkan tangan Mirna ke satu titik di mana Mirna sangat jijik saat merasakan tangannya diletakkan di atas pangkuan Pak Hartono. Dibelainya tangan Mirna beberapa kali. Sedangkan tangan sebelah Pak Hartono, merangkul pundak Mirna tanpa izin atau aba-aba.
Pak Hartono menggenggam jemari Mirna dengan begitu erat. Pak Hartono pun mencuri kesempatan untuk mencium punggung tangan Mirna beberapa kali. Dengan senyuman-senyuman nakal yang membuat Mirna serasa ingin muntah.
Mata Meeta terbelalak kaget saat melihat apa yang dilakukan Pak Hartono kepada Mirna. Di hadapan orang pun, laki-laki tua bangka itu dengan begitu percaya dirinya memperlakukan Mirna lebih dari sekadar bawahan. Pak Hartono seperti tidak menganggap keberadaan Meeta. Gelagat lelaki itu bagai anak muda kasmaran yang belum bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bagai anak muda yang tidak tahu malu dan tidak tahu tempat.
"Ini udah nggak beres, Meet! Rasanya aku harus hajar laki-laki itu! Di depan kamu aja, tua bangka itu berani begitu. Gimana kalau lagi nggak ada siapa-siapa! Nanti Mirna bakal jadi apa!" bentak Arham hingga beranjak dari tempat duduknya.
Wajah Meeta pun seketika berubah drastis. Alis matanya turun tajam menandakan bahwa dia tidak terima dengan perlakuan buruk yang dilakukan Pak Hartono pada saudarinya. Jemari Meeta meremas erat. Seperti ingin meninju wajah genit pria di hadapannya. Niat untuk memprotes dan memukul Pak Hartono sudah bulat di dalam hati Meeta. Dan saat dirinya hendak bangkit dari tempat duduknya untuk melampiaskan kemarahannya, Meeta bertatap mata dengan Mirna sekejap. Kali ini, Mirna tidak menghindari tatapan Meeta. Melainkan memberikan kode kepada Meeta.
"No," kata Mirna tanpa suara. Dahinya mengerut dan tatapan matanya nanar. Kepalanya menggeleng sedikit. Dia berusaha mengingatkan Meeta untuk tidak mengambil tindakan apa pun dan kembali duduk tenang di kursinya.
Meeta menangkap sinyal itu. Entah apa alasannya, Meeta paham bahwa Mirna tidak ingin membuat suasana semakin rumit. Tapi, gejolak amarah di hati Meeta sangat sulit dikendalikan. Untuk meredamnya, Meeta membutuhkan sedikit waktu.
"Besok makan siang bareng, yuk. Di rumah saya. Mumpung istri saya besok ada arisan di luar kota. Anak saya juga ada kegiatan di sekolah sampai sore," bisik Pak Hartono, namun masih tetap terdengar oleh Meeta dan Arham.
Rasa-rasanya, Meeta harus menggebrak meja kuat-kuat dan mengusir Pak Hartono dengan keji. Sayangnya, kali ini Meeta harus memikirkan keadaan Mirna. Jika Meeta memberontak, dia khawatir Mirna akan kena imbasnya. Arham pun berjalan mendekati istrinya untuk sedikit memberikan penghiburan.
"Kamu mau, 'kan? Kok diem aja? Kalau kamu nggak mau, nanti kamu sendiri lho yang rugi," tukas Pak Hartono lagi.
Mirna langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali. Meski wajahnya tegang, dia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui permintaan bos besarnya.
"Emm ... M-Meet, k-kamu katanya mau balik k-ke kantor duluan? K-katanya, kamu mau meriksa laporan kerjamu? I-iya, 'kan? Udah waktunya, loh," ucap Mirna tiba-tiba. Mirna mencoba memecah suasana meski ucapannya gagap karena ketakutan. Nada bicaranya pelan namun memaksa Meeta untuk segera keluar dari cafe.
"Eh? Laporan? Laporan apa?" tanya Meeta singkat. Dahinya mengerut mengamati Mirna yang terus-terusan memberikan kode. Kali ini, dilihatnya bola mata Mirna menatap pintu keluar berkali-kali. Seakan-akan meminta Meeta untuk segera pergi dan meninggalkan Mirna berdua bersama Pak Hartono.
"Ohh ... laporan. Iya, iya. Aku ada laporan mendadak. Hehehe. Bener. Makasih udah nginget aku, Mir," jawab Meeta. Ucapannya begitu canggung.
Mendengar percakapan aneh antara dua saudari kembar itu, Arham pun bingung hingga mengusap wajahnya berkali-kali. Dia pun tidak memiliki jalan keluar karena belum mengetahui hubungan Mirna dan Pak Hartono secara keseluruhan.
"Wahh ... sayang banget. Padahal kita lagi asyik-asyiknya. Kalau gitu, sampai jumpa lagi ya, Meeta," ucap Pak Hartono ramah.
Ucapan itu membuat Meeta segera beranjak dari kursinya. Melemparkan senyuman kecut pada Mirna yang masih berada dalam rangkulan tangan Pak Hartono.
"Oh, iya! Setiap akhir pekan, saya selalu mengadakan private party di ruangan pribadi saya. Di kantor asuransi. Minggu ini kamu ikut, ya? Mau, 'kan? Mirna juga ikut terus, lho. Acaranya di mulai jam sepuluh malam. Nanti kita semua bisa bersenang-senang di sana," sambung Pak Hartono dengan sebuah ajakan khusus.
Kekesalan Arham yang sedikit mereda seketika bangkit kembali, "Bisa-bisanya dia ngajak orang yang baru beberapa menit dia kenal ke private party! Apa dia nggak tahu malu!" omel Arham.
Tapi, tanpa celotehan Arham pun, Meeta sudah pasti menolak ajakan itu. Di samping karena adanya Arham, Meeta sama sekali tidak pernah tertarik dengan acara-acara malam. Apa lagi acara yang hanya menuntut kesenangan tanpa ada esensinya.
"Maaf, Pak. Bukannya saya nggak menghargai ajakan bapak. Tapi, saya nggak suka pesta. Apa lagi private party yang cuma dihadiri oleh orang-orang khusus. Saya nggak akan cocok, Pak. Terima kasih sudah menawarkan. Saya mohon maaf karena terpaksa harus menolak ajakan bapak," jawab Meeta santun. Suaranya ia perlembut agar Pak Hartono tidak menyadari bagaimana perasaan Meeta saat ini terhadap dirinya.
Mulut Mirna menganga, seperti tidak percaya kalau Pak Hartono akan mengajak Meeta ke acara private party yang ia adakan.
"Pak, Meeta orangnya agak lemah. Dia gampang sakit. Apa lagi kalau dia sampai mencium bau alkohol. Bisa-bisa, dia pingsan di tempat, Pak," ucap Mirna beralibi.
Arham tersentak, "Alkohol?! Meet, aku nggak rela kalau kamu sampai datang ke acara itu!" sergah Arham.
"Benar kata Mirna, Pak. Tubuh saya nggak kuat kalau ikut acara-acara malam. Lagi pula, pekerjaan saya juga banyak. Saya nggak sempat kalau harus main-main," jawab Meeta lagi.
Terlihat jelas bahwa tanggapan Meeta yang tidak memuaskan sedikit membuat Pak Hartono malas. Raut wajahnya yang sok ramah dan lembut, seketika berubah menjadi kesal bagai anak kecil yang merajuk. Sesekali, pria tua itu berdecak kesal.
"Saudaramu sama sekali nggak asyik, Mir! Padahal cuma diajak pesta. Tapi, dia berani menolak saya. Sok jual mahal banget!" sindir Pak Hartono.
Meeta jelas tersinggung, "Hah?!"
"Saya paham tipe-tipe perempuan kayak kamu. Cantik, tapi kuno. Nggak tahu caranya bersenang-senang. Kenapa? Kamu udah punya suami? Sampai-sampai berlagak sombong begitu?!" balas Pak Hartono kesal.
Sindiran Pak Hartono lebih terdengar seperti hinaan bagi Meeta. Laki-laki asing itu sama sekali tidak berhak mengomentari keputusan dan kehidupan pribadi orang lain. Termasuk Meeta.
"Memang! Saya memang punya suami! Kenapa? Kalau saya kuno, memang apa hubungannya sama anda?!" jawab Meeta tajam.
Mirna menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Dia tidak menyangka kalau Meeta dan Pak Hartono akan beradu mulut. Melihat sifat dua orang itu tidak lembut, harus ada seseorang yang melerai perdebatan mereka.
"Meet, keluar! Jangan memperkeruh suasana!" perintah Mirna tegas.
Mulut Meeta mengatup, mengalihkan pandangannya pada Mirna yang baru saja menjatuhkan teguran.
"Aku? Aku memperkeruh suasana?! Yang bener aja!" jawab Meeta kesal.
Kepala Mirna tertunduk, tidak tahu harus mengucapkan apa. Sudah jelas bahwa Meeta merasa tersinggung.
"Ayo balik ke kantormu, Meet. Kamu harus ngasih waktu buat Mirna. Dia pasti nggak kalah kagetnya sama kamu. Pasti Mirna selama ini tertekan banget. Tapi, dia belum cerita ke siapa-siapa soal masalahnya. Termasuk kamu. Ayo, Meet! Berpikir jernih dulu! Jangan kalap! Tenang! Mirna pasti bakal buka mulut," ucap Arham menasehati.
Meeta menyadari bahwa ucapan Arham ada benarnya. Tindakan gegabah yang selalu ia lakukan, tidak selalu tepat untuk menyelesaikan masalah.
"Oke! Aku pergi!" ucap Meeta.
"Dan ini ... saya ganti uang anda untuk minuman yang saya pesan! Saya menolak traktirannya!" sambung Meeta sembari meletakkan selembar uang di hadapan Pak Hartono.