"Mirna kenapa, sih? Aku tahu dia bukan tipe orang yang gampang disentuh-sentuh begitu. Aku hafal banget sifat Mirna. Aku bahkan sampai kehabisan kata-kata waktu lihat responnya yang cuma diem dipegang-pegang sama si tua bangka itu!" cecar Meeta.
Meeta baru saja pulang dari kantornya. Seragam yang ia kenakan bahkan belum sempat ia lepaskan dari tubuhnya yang lelah dan berkeringat. Semenjak waktu istirahat, pikiran Meeta terjebak pada momen menjijikan yang terpampang nyata di depan dua bola matanya. Momen yang mengaitkan saudari kembarnya.
"Aku juga nggak habis pikir. Kayak bukan Mirna. Jangan-jangan ... Mirna diancam?!" tebak Arham.
Keduanya masih mengawang-awang kejadian aneh yang menggelayuti pikiran mereka. Mencari-cari alasan logis mengapa Mirna sampai lepas dari jati dirinya yang tegas dan berpendirian kuat. Sifat Mirna dan Meeta tidak jauh berbeda. Hanya saja, Meeta lebih terbuka dan uring-uringan dibandingkan Mirna yang menyimpan amarah dan dendam dalam diam. Intinya, keduanya memiliki temperamen yang cukup buruk. Hanya penyampaiannya yang berbeda. Dan dilihat dari aspek tersebut, tentu saja sangat aneh melihat sikap Mirna yang bagai kucing dengan pengikat leher besi.
Tok!
Tok!
Tok!
Di sela-sela percakapan Arham dan Meeta, suara lain mengisi jeda perbincangan. Suara yang muncul dari pintu rumah kontrakan yang jaraknya hanya tiga meter dari kursi ruang tamu yang sedang Meeta dan Arham duduki. Pintu rumah diketuk beberapa kali.
"Ada tamu, Meet," tegur Arham.
Tanpa menjawab, Meeta segera beranjak dan menghampiri tamu yang datang di waktu yang baru saja memasuki suasana malam. Keadaan sekitar belum terlalu sunyi karena jam belum menginjak pukul tujuh malam.
Kreeeet!
Saat daun pintu mulai terbuka perlahan, sosok yang berdiri di depan pintu rumah pun mulai nampak. Sosok bertubuh tinggi dengan setelan santai. Terlihat seperti hendak mengunjungi teman untuk keperluan yang tidak formal. Raut wajah Meeta seketika keheranan melihat sosok di depan pintu yang datang secara mengejutkan.
"Ray? Kok kamu bisa di sini?!" tanya Meeta bingung.
Arham yang mendengar nama Ray disebut, langsung menyusul Meeta menghampiri ambang pintu.
"Hehehe ... hai, Meet. Aku nggak ganggu, 'kan?" tanya Ray dengan ramah.
Kedua tangan Ray menggenggam masing-masing satu kantong plastik yang entah apa isinya. Kedua kantong itu berwarna hitam gelap hingga tidak dapat ditebak apa isinya. Tapi, Meeta sudah mencium aroma lezat menyeruak ke dalam hidungnya. Sebuah aroma makanan yang sudah pasti menggugah selera. Saat indera penciuman Meeta menangkap aroma itu, seketika ada sebuah parade yang berbunyi nyaring dari dalam perutnya. Sebuah kode yang menandakan bahwa Meeta begitu kelaparan.
Krucukkk!!
"Kamu laper? Wah, pas banget ini," ucap Ray dengan tawa kecil.
Meeta mencoba mengalihkan pembicaraan karena malu. Sebelah tangannya mencengkeram perutnya yang berbunyi nyaring, berharap gemuruh di dalam perutnya dapat tenang. Perut Meeta keroncongan karena belum makan setelah berjam-jam.
"Kamu ... kok bisa tahu rumahku? Seingatku, aku nggak pernah ngasih tahu alamatku ke kamu?!" tanya Meeta lagi. Nadanya ketus diwarnai dengan tanda tanya besar di dalam kepalanya.
Wajah Arham pun seketika masam pula. Melihat ada lelaki muda yang datang membawa makanan untuk Meeta adalah suatu pertanda yang buruk. Tidak mungkin Ray kemari untuk suatu hal yang mendesak. Pemuda bule itu jelas-jelas datang membawa makanan untuk Meeta.
"Aku boleh masuk dulu?" tanya Ray.
Meeta seketika tersadar dari keheranannya. Dia sampai lupa untuk mempersilakan Ray masuk dan duduk di ruang tamu.
"Ehh? I-iyaa, iyaa. Silakan masuk," ucap Meeta.
Suasana yang terjadi sulit untuk Meeta baca. Seingatnya, dia baru bertemu Ray satu kali setelah perpisahan panjang. Mustahil jika Ray datang kemari untuk suatu tujuan darurat. Mereka pun belum banyak mengobrol.
Ray langsung masuk dan mendudukkan dirinya pada sofa ruang tamu yang minimalis. Dua kantung plastik yang semula ada di genggamannya, diletakkan di meja ruang tamu. Meeta pun menyusul untuk duduk pula di kursi lainnya. Meski dirinya masih bingung, Meeta berusaha menjamu seorang tamu dengan baik.
"K-kamu ... ngapain kesini?" tanya Meeta setelah dirinya duduk di hadapan Ray. Sedangkan Arham berdiri di belakang kursi Meeta.
Ray tersenyum ramah, "Mau main. Nih, sama bawain kamu makanan. Kamu pasti belum makan, 'kan? Tuh ... kamu aja masih pakai seragam kerja. Aku yakin kamu nggak bakal sempet masak kalau udah jam segini."
Meeta melongo mendengar celotehan Ray yang aneh namun benar. Bahkan Meeta sudah berniat akan keluar untuk membeli makanan di pinggir jalan.
"Sorry, tapi aku nggak butuh perhatian kamu. Lagi pula, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu tahu dari mana alamat rumahku?!" tanya Meeta lagi.
Meeta mengamati laki-laki tampan di hadapannya. Dengan kulit Ray yang sudah putih, pantulan cahaya lampu ruangan seakan-akan membuat kulit Ray terlihat semakin bersinar. Apa lagi dengan kaus dan celana Ray yang berwarna biru dongker gelap, membuat kulit putihnya seolah-olah terlihat puluhan kali lebih mencolok.
"Hehehe ... aku ngikutin kamu. Inget waktu kita ketemu di warung mie ayam, 'kan? Aku sengaja nggak jadi makan dan ngikutin kamu sampai rumah. Kalau aku minta alamatmu secara langsung, aku yakin kamu nggak akan mau ngasih. Jadi, ya aku buntutin aja," jawab Ray dengan begitu santai.
Mendengar jawaban Ray, Meeta mendengus kesal, "Kamu tahu nggak sih kalau yang kamu lakuin itu kurang ajar?! Kamu diam-diam ngikutin orang dan dateng tanpa diundang. Kamu nggak punya sopan santun?!"
Mata Ray membelalak. Dia tidak menyangka bahwa Meeta akan mengomelinya lagi. Ray benar-benar dibuat bingung dengan temperamen Meeta yang tidak terkendali dan mudah meledak.
"Denger ya, Meet. Aku memang salah karena datang tanpa izin. Tapi, aku ke sini karena aku khawatir sama kondisimu. Aku tahu kamu sibuk kerja dan nggak sempat masak di rumah. Aku juga tahu kalau kamu kesepian. Apa salahnya kalau aku bawain kamu makanan? Aku cuma berniat mau nolong kamu! Kenapa sih kamu ketus banget sama aku? Emangnya aja sejahat apa?!" omel Ray panjang lebar.
Sejak bertemu lagi dengan Meeta, Ray memang tidak pernah diperlakukan baik oleh Meeta. Hal itu mengganjal perasaan Ray hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi Meeta untuk sekadar berbuat baik.
"Aku cuma mau perhatiin kamu. Kondisimu lagi sulit, Meet. Kamu lagi terpuruk dan butuh dukungan dari banyak orang. Apa salahnya kalau aku mau jadi salah satunya? Apa salahnya?!" lanjut Ray.
Wajah Meeta tertunduk. Ray memang hanya bersikap baik. Tapi, Meeta terlalu menafsirkan niat baik itu dalam arti yang negatif. Semuanya semata-mata untuk menjaga perasaan Arham.
"Makasih, Ray. Makasih udah berniat bantu aku. Tapi, aku berusaha buat menyembuhkan diriku sendiri tanpa bantuan orang lain. Kamu nggak perlu nglakuin apa-apa. Aku bisa sendiri," jawab Meeta.
Arham pun masih bungkam karena tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Walau pun saat ini rasa cemburu tengah menggeluti perasaannya, dia tidak bisa memungkiri bahwa Ray memang berniat baik membantu Meeta. Dibandingkan dengan Arham, saat ini memang Ray yang bisa diandalkan untuk membantu Meeta dalam segala hal nyata.
Beberapa kali Meeta menoleh ke arah Arham untuk memberikan kode. Meeta berharap Arham akan memberikan saran untuk bagaimana seharusnya Meeta bertindak.
"Jangan mikirin aku. Kalau menurutmu dia berniat baik, sikapi aja sesuai dengan kata hatimu," ucap Arham datar, berusaha memberikan kelonggaran pada Meeta.
Meeta kembali menoleh ke arah Ray, "Tapi ... kamu nggak ada niat apa-apa, 'kan? Cuma berniat baik aja, 'kan? Kalau kamu sampai macem-macem, aku bisa hajar kamu sampai pingsan," ancam Meeta.
Ray justru terkekeh geli mendengar jawaban Meeta, "Tenang. Aku ke sini cuma mau berbagi makanan aja, kok. Kebetulan outlet martabakku baru buka hari ini. Jadi, aku bawain martabak telur sama kue bandung buat kamu. Gratis! Itung-itung aku berbagi ke orang lain sebagai tanda syukur atas bukanya outlet martabakku."
Lagi-lagi Meeta menoleh pada Arham yang ada di belakangnya. Meminta tanggapan Arham lagi.
"Nggak apa-apa, Meet," ucap Arham lembut.