"Kamu kenal sama Dimas? Kenal di mana? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku?!" tukas Arham serius. Surat yang Meeta pandangi perlahan dia letakkan di atas meja kembali. Kini, dia teringat jika nama yang tertulis pada surat itu pernah berkaitan dengan hidup Meeta di masa lalu. "Jawab dong, Meet! Kamu kenal sama Dimas?! Sejak kapan kamu berhubungan sama Dimas?!" bentak Arham geram. Meeta tersentak melihat reaksi Arham yang di luar perkiraan. Entah kenapa laki-laki itu menjadi emosional begitu dirinya membahas tentang sosok bernama Dimas. "Ngomong, Meet!!! Jangan diem aja!!" bentak Arham lagi. Sikap Arham terlihat semakin tidak terkendali. Dibanding sedih, Meeta justru menjadi ikut kesal dan marah melihat bagaimana Arham memaksanya untuk berbicara. Bebarengan dengan tubuh Meeta yang

