bc

Prahara Cinta Nayra

book_age16+
6.0K
IKUTI
42.7K
BACA
love-triangle
possessive
fated
second chance
CEO
boss
single mother
sweet
office/work place
first love
like
intro-logo
Uraian

Menjalani pernikahan akibat perjodohan orang tua merupakan hal yang tidak pernah ada dalam bayangan hidup Nayra selama ini. Apalagi setelah Nayra mendapati Devan suaminya tengah berada dalam satu rbajang dengan mantan kekasihnya. Perpisahan menjadi jalan terakhir bagi Nayra. Siapa sangka setelah perpisahan dengan Devan, Nayra bertemu kembali dengan cinta pertama dan pacar pertamanya, Dean William.

Dari sinilah cerita hidup Nayra berubah setelah perpisahan pernikahan pertama dengan Devan. Akankah Nayra dan Dean bahagia?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kebodohan Devan
Nayra terkejut mendapati suaminya tengah tidur bersama Alena mantan kekasihnya di ranjang apartemen suaminya. Nayra pergi ke apartemen suaminya setelah mendapat pesan di ponsel dari nomor yang tidak dikenal kalau suaminya sedang berada di apartemen dengan seorang wanita. Nayra menahan air mata yang hendak lolos ke pipinya dengan menengadahkan wajah. Tanpa sengaja Nayra menyenggol gelas yang ada di meja depan sofa di dalam kamar suaminya. Prang.. Devan suami Nayra membuka mata terkejut mendengar suara gelas jatuh. Devan sontak bangun dan terkejut mendapati dirinya yang setengah telanjang berada satu ranjang dengan Alena mantan pacarnya. Keterkejutan Devan bertambah saat melihat Nayra berada di kamar apartemennya melihat Devan satu ranjang dengan mantan pacarnya. “Nay." Devan berdiri mengambil kaos lalu mengejar Nayra yang sudah turun ke lobby “Argghhh!“ Devan emosi saat menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka Nayra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan perasaan kecewa meninggalkan apartemen Devan. Air mata menetes dengan lancang membasahi pipi Nayra. Pernikahan mereka terjadi akibat perjodohan orang tua mereka. Namun Nayra sangat menghargai pernikahan yang suci dan terikat janji suci dengan Tuhan. Malam ini Nayra memutuskan tidak pulang ke rumah Devan dan rumah orang tuanya. Nayra memilih untuk pergi ke rumah sahabatnya. “Kamu kenapa Nay?“ tanya Nara sahabat Nayra sejak kecil “Nay.. Cerita sama aku kamu kenapa?“ sambung Nara karena tidak mendapat jawaban dari Nayra yang datang ke rumah dengan kondisi berantakan Nayra memeluk Nara dengan erat disertai isak tangis yang masih terdengar. “Nay.. Cerita sama aku kamu kenapa dan ada apa?“ tanya Nara “Gue boleh tinggal disini beberapa hari ya Na. Jangan kasih tahu orang tua gue dan Devan." Nayra mengurai pelukannya dan menatap Nara “Iya. Lo boleh tinggal disini semau lo. Tapi lo ada apa?“ tanya Nara khawatir melihat kondisi Nayra “De Devan Na. Gue lihat Devan tidur bareng sama mantan pacarnya di apartemen,“ jawab Nayra dengan suara parau “b******k. Devan tega selingkuhin dan nyakitin lo. Gue akan kasih pelajaran ke Devan,“ tukas Nara “Jangan Na,“ pinta Nayra “Kenapa Nay?“ sambung Nara dengan mengernyitkan dahinya “Kalau lo kasih pelajaran ke Devan yang ada Devan akan curiga kalau gue ada di sini. Please.. Jangan kasih tahu siapa pun gue di sini. Gue tahu pernikahan ini karena perjodohan. Tapi gue nggak nyangka Devan akan mengingkari pernikahan dengan cara seperti ini. Kalau emang dia nggak nerima dijodohin kenapa dia nggak nolak perjodohan ini dari awal Na,“ terang Nayra “Gue ngerti perasaan lo Nay. Gue nggak akan bilang siapa-siapa lo ada di sini. Lo tenangin diri dulu disini,“ ujar Nara “Makasih Na selalu ngertiin gue. Maaf gue selalu repotin lo. Minta tolong katakan ke Atthala jangan kasih tahu siapa pun gue di sini,“ balas Nayra “Iya Nay. Lo istirahat dulu Nay. Gue buatin teh anget dulu Nay,“ imbuh Nara mengusap lengan Nayra “Makasih Na." Nayra beranjak menuju kamar Nayra jika Nayra menginap di rumah Nara. Nara menuju dapur membuat teh hangat untuk Nayra Setelah sampai di rumah Devan langsung menuju kamar mencari Nayra namun Nayra tidak ada di kamar. Devan mencari ke semua sudut rumah namun Nayra juga tidak ada. “Bi,“ Devan memanggil Bi Ina “Ya tuan. Ada yang bisa bibi bantu tuan?“ ucap bi Inah “Nayra sudah pulang belum bi?“ tanya Devan “Nyonya belum pulang tuan,“ jawab bu Ina “Bibi yakin?“ sambung Devan “Iya tuan. Mobil nyonya juga tidak ada tuan,“ balas Bi Ina Astaga.. Devan sampai lupa untuk melihat mobil Nayra didepan ada atau tidak karena panik dan buru-buru ingin menjelaskan semua ke Nayra. Devan mengusap wajah dengan kasar. “Nayra pergi kemana bi?“ tanya Devan “Maaf tuan bibi nggak tahu nyonya pergi kemana karena nyonya tidak bilang mau kemana," jawab bi Ina “Arghhh,“ teriak Devan merasa frustasi “Maaf tuan.. Mungkin nyonya ke rumah besar atau rumah orang tuanya,“ balas bi Ina “Nggak mungkin Nayra pergi ke rumah mama dan ibu. Nayra nggak akan menambah pikiran mama dan ibu,“ batin Devan Devan meninggalkan rumah untuk mencari Nayra karena Devan tidak mau kesalahpahaman ini sampai terdengar ke orang tuanya dan orang tua Nayra “Nay.. Lo nggak kerja?“ Nara heran melihat Nayra masih menggunakan piyama saat makan “Gue ijin beberapa hari Na. Gue yakin Devan nyari gue di kantor. Gue udah ijin sama Pak Raka. Jangan bilang gue di sini Na,“ balas Nayra “Iya Nay. Moga masalah lo cepat selesai ya. Jadi lo nggak lama bolos kerja,“ lanjut Nara “Iya Na. Makasih sarapannya Na. Maaf gue nggak bantuin masak tadi,“ tambah Nayra “Selow Nay," ujar Nara Suara mobil terdengar dari luar menghentikan percakapan dua sahabat yang tengah sarapan. “Itu pasti Atthala Na. Gue ke kamar dulu ya," ucap Nayra “Ngapain ke kamar Nay. Atthala pasti tahu lo disini. Mobil lo kan di depan. Atthala nggak akan bilang lo disini sama Devan,“ balas Nara “Pagi sayang,“ sapa Atthala ke Nara kekasihnya, Atthala terkejut melihat Nayra ada di rumah Nara “Nay.. Kenapa kamu di sini? Devan mana Nay?" tanya Atthala Nara langsung mengajak Atthala berangkat kerja sebelum rentetan pertanyaan diajukan lagi ke Nayra. “Ntar aku jelasin dijalan,“ tukas Nara saat berjalan ke mobil bersama Atthala Setelah kepergian Nara dan Atthala, Nayra langsung memasukan mobil ke garasi rumah Nara lalu Nayra kembali masuk rumah membereskan bekas makan mereka. “Kenapa Nay di rumah Na?“ tanya Atthala saat mereka sudah ada di mobil melaju ke kantor Nara "Jangan kasih tahu Devan dan orang tua mereka kalau Nayra ada di rumah aku,“ jawab Nara “Kenapa Na? Kenapa mereka nggak boleh tahu Nayra ada di rumah?“ tanya Atthala penasaran Nara menceritakan semua yang dialami Nayra akibat perbuatan menjijikan Devan yang Nayra lihat secara langsung di apartemen. “b******k. Aku pikir dia udah berubah dan benar-benar ninggalin wanita ular itu. Aku pikir Devan nggak akan menyakiti Nayra lagi. Ternyata pikiran aku salah. Sekali b******n tetap b******n. Tenang aja Na. Aku nggak akan kasih tahu siapa pun kalau Nayra ada di rumah,“ ucap Atthala emosi “Makasih sayang. Tolong jangan emosi atau kasih pelajaran sama Devan,“ pinta Nara “Kenapa Na?“ tanya Atthala “Nayra yang minta ke aku Tha. Kalau kita kasih pelajaran ke Devan ntar yang ada Devan curiga sama kita. Pura-pura aja kita nggak tahu masalah mereka,“ jawab Nara “Iya sayang,“ tambah Atthala “Aku masuk dulu ya Tha,“ Nara keluar dari mobil Atthala saat mereka sudah sampai didepan kantor Nayra “Iya sayang. Semangat kerjanya ya,” lanjut Atthala “Ok!“ Nara berjalan masuk ke kantor Tak lama kemudian Atthala melajukan mobil meninggalkan kantor tempat kerja Nara menuju perusahaan Devan. “Lo kenapa wajah kusut banget gitu. Mata bengkak kaya orang kurang tidur,“ tanya Atthala setelah masuk ke ruang Devan tanpa ketuk pintu terlebih dulu seperti biasa “Bisa ketuk pintu dulu nggak kalau masuk?“ ucap Devan balik “Sejak kapan ada aturan kalau gue masuk ruangan lo harus ketuk pintu dulu. Kalau ada aturan gitu gue resign,“ balas Atthala “k*****t lo!“ Devan melempar pulpen yang ada di meja ke arah Atthala namun Atthala dengan sigap menangkapnya “Lo kenapa kusut gini? Udah punya istri juga kaya nggak punya istri kusut gitu,“ sambung Atthala “Nay semalam nggak pulang,“ balas Devan “Serius?“ ujar Atthala “Iya Tha. Nay semalam nggak pulang,“ imbuh Devan “Kenapa? Lo nyakitin Nay lagi?“ tanya Atthala “Iya. Gue nyakitin Nay lagi. Lebih parah dari sebelumnya. Nay lihat gue tidur sama Alena di apartemen,” balas Devan "Parah lo. Ternyata lo lebih b******k dari yang gue pikir. Kenapa lo selalu nyakitin Nay? Apa karena pernikahan lo dijodohin sama orang tua lo? Makanya lo tega nyakitin bahkan khianatin Nay? Lo mikir Van. Lo udah GD udah tua. Pilihan orang tua lo pasti yang terbaik buat lo. Orang tua lo pasti ada alasan kenapa mereka nggak restuin lo sama Alena. Lo b**o jadi orang. Buang permata demi sebuah kerikil,“ jawab Atthala emosi menghadapi Devan yang tidak bisa berpikir jernih “Gue nggak ngerti Tha. Gue emang nggak pernah terima pernikahan ini. Gue juga nggak ngerti kenapa gue selalu nyakitin Nay," tukas Devan “Lo itu sebenarnya ngerti. Tapi lo nggak mau ngikutin hati nurani lo. Lo selalu terhasut sama omongan Alena. Lo b**o. Lo cowo nggak seharusnya lo tidak gampang terhasut sama cewe," hardik Atthala “Pusing gue dengerin ocehan lo,“ omel Devan “Lo emang selalu kaya gini kalau dikasih tahu. Bikin gue malas sama lo. Pantas om dan tante sampe emosi sama lo. Sekarang lo pikir baik-baik omongan gue tadi. Jangan sampai lo nyesel kehilangan Nay,“ seru Atthala meninggalkan ruang Devan dengan emosi “Kenapa Atthala nyalahin gue. Iya. Gue emang salah. Gue salah udah sakitin hati Nay. Tapi ngapain juga gue peduli sama Nay. Gue nggak ada perasaan apa-apa sama Nay," gumam Devan “Arghhh." Devan melempar semua benda yang ada di meja kerjanya “Gue harus cari Nay sebelum papa mama tahu semua masalah ini." Devan mengambil kunci mobil dan gawai di laci meja kerja lalu keluar meninggalkan ruangan menuju parkir mobil di basement Nayra menuju ke dapur selesai sholat untuk masak menu makan siang. Bayangan Devan sedang tidur dengan Alena kembali terlintas dipikiran Nayra. Rasa sakit seketika hadir di relung hati Nayra saat mengingat semua peristiwa semalam. Nayra menyandarkan tubuh di tepi kitchen set sembari mengatur nafas. Nayra mengambil gelas lalu mengisi dengan air putih lantas meneguk hingga tandas. Ditatapnya cincin pernikahan yang melingkar indah di jari manisnya. Cincin pernikahan itu hanya sebagai simbolis atas pernikahan di atas kertas mereka yang sudah berjalan tiga bulan dan Devan sama sekali tak pernah menyentuh Nayra. Jangankan menyentuh peduli sama Nayra sama sekali tidak pernah. Nayra Nara dan Atthala berkumpul di ruang tengah rumah Nara setelah makan malam bersama. “Lo gimana ke depannya Nay?“ tanya Atthala “Gue belum tahu Tha. Mungkin gue minta pisah dari suami gue,“ jawab Devan “Cerai maksud lo Nay?“ tanya Nara terkejut mendengar ucapan Nayra “Iya Na. Tapi gue nggak tega nyakitin hati orang tua. Gue mau cari solusi terbaik Na. Jujur.. Gue capai Na. Gue juga nggak mau pernikahan ini. Tapi gue lebih menghargai perasaan ayah dan ibu,“ balas Nayra sedikit terisak mengungkapkan isi hatinya Empat hari Nayra belum pulang ke rumah Devan. Devan merasakan ada yang hilang dalam hidup sejak Nayra pergi dari rumah dan menghilang dari hidup Devan. Rumah yang biasa ramai dengan celoteh riang Nayra walaupun sama sekali tidak pernah Devan mempedulikan setiap tingkah laku Nayra namun harus diakui Devan kehadiran Nayra memberikan warna baru di hidup Devan. Semua sangat terasa di hati Devan. Apalagi saat orang tuanya menanyakan kabar Nayra dan mengundang Nayra ke rumah. Disisi lain Nayra sudah masuk kerja lagi. Nayra menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Nayra tiga hari kemarin. “Nay.. Sudah sehat?“ Pak Raka menghampiri kubikel Nayra “Alhamdulillah.. Sudah pak. Pak Raka sehat? Ada yang bisa saya bantu pak?“ balas Nayra “Alhamdulillah.. Sehat Nay. Bisa ikut meeting jam 1 Nay?“ tambah “Saya pak?“ tanya Nayra “Iya Nay,“ jawab Pak Raka “Bisa pak. Apa materi yang harus saya siapkan pak?“ sambung Nayra “Materi meeting sudah saya kirim ke email kamu Nay. Kamu periksa dan pelajari Nay,“ ucap Pak Raka “Baik pak,“ balas Nayra Pak Raka meninggalkan kubikel Nayra menuju ruangannya. Nayra membuka email membaca dan mempelajari bahan meeting siang nanti Nayra dan Pak Raka berada di ruang meeting bersama dengan kepala devisi yang lain. Mereka tengah menunggu Direktur Utama perusahaan dan pimpinan perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Beberapa saat Pak Dika direktur utama perusahaan memasuki ruang meeting dengan Devan yang akan menjalani kerjasama dengan perusahaan tempat Nayra bekerja. Nayra masih asyik dengan laporan yang ada di atas meja sehingga tidak menyadari kehadiran Devan yang sudah duduk manis di sebelah Pak Dika yang langsung berhadapan Nayra. “Assalamu’alaikum.. Selamat pagi rekan-rekan yang saya hormati. Hari ini perusahaan kita akan melakukan kerjasama dengan perusahaan Hardian Grup dimana telah hadir ditengah kita pemilik Hardian Grup Pak Devan Hardian. Silahkan Pak Devan memperkenalkan diri,“ ucap Dika Nayra tanpa sengaja menyenggol gelas yang ada di sampingnya hingga jatuh saat mendengar nama Devan Hardian yang tak lain suaminya. Nayra membulatkan mata saat netra mereka saling bersiborok. “Ma maaf.. Saya tidak sengaja. Sa saya akan membersihkan pecahan gelasnya." Nayra memundurkan kursi hendak membersihkan pecahan gelas namun dihentikan oleh Pak Dika “Tidak usah. Kamu tetap di tempat. Biar nanti dibersihkan OB," balas Pak Dika “Maaf pak saya tidak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf Pak,“ ucap Nayra menundukan kepala meminta maaf ke Pak Dika dan peserta meeting “Sudah Pak Dika tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja meetingnya.“ Devan menengahi apa yang terjadi “Baik Pak. Kita lanjutkan meetingnya,“ titah Pak Dika Pak Raka melanjutkan meeting yang sempat tertunda akibat insiden Nayra tadi. Meeting berjalan dengan lancar dan kerjasama terjalin dengan lancar. Pak Dika meminta Nayra ke ruangannya. Tok Tok Tok “Masuk,“ titah Pak Dika Nayra memutar knop pintu saat mendengar perinta untuk masuk dari dalam. Nayra mengesah pelan saat melihat Devan duduk di sofa yang berada di ruangan Pak Dika. “Kamu kenapa Nay?“ tanya Pak Dika yang mendengar Nayra mengesah walau pelan “Ti tidak apa-apa Pak,“ jawab Nayra terbata-bata “Duduk Nay,“ titah Dika “Terima kasih pak.“ Nayra duduk di kursi depan meja kerja Pak Dika. Devan pura-pura bermain handphone sambil mengamati gerak gerik Nayra. “Saya dengar kamu kemarin sakit tidak masuk tiga hari Nay?“ tanya Dika “I iya pak. Maafkan saya pak,“ jawab Nayra “Sakit apa kamu Nay. Apa yang terjadi sama kamu belakangan ini Nay? Saya kenal kamu sudah lama sejak kamu pertama kerja disini. Kamu jarang sekali yang namanya ijin sakit Nay," tambah Dika “Maafkan saya jika sekarang saya sering ijin pak,“ ucap Nayra “Sakit apa kamu Nay?“ Akhirnya Devan bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya “Kalian saling kenal?“ tanya Pak Dika mengernyitkan dahi “Nayra istri aku Dika,“ balas Devan berdiri lalu berjalan ke samping Nayra “Pak --“ ucap Nayra namun terpotong oleh ucapan Pak Dika “Serius? Sejak kapan?“ tanya Dika “Emang kamu pernah lihat aku bohong?" ujar Devan “Nggak pernah Van. Tapi kapan kalian menikah?“ imbuh Dika “Tiga bulan yang lalu,“ jawab Devan “Maaf pak. Saya permisi jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi." Nayra bangkit dari duduknya hendak keluar namun Devan menahan lengan tangan hingga dengan terpaksa Nayra menghentikan langkah. “Aku mau bicara sama kamu,“ ucap Devan “Maaf saya masih jam kerja pak,“ balas Nayra “Saya pinjam Nayra, Dika.“ Devan menarik lengan Nayra pelan keluar dari ruangan Dika “Kita mau kemana pak?“ Nayra memecahkan keheningan setelah berada di mobil “Kita ke rumah mama. Mama nyariin kamu dari kemarin Nay,“ pinta Devan “Alibi bapak aja kan ini,“ seru Nayra “Nanti kamu tanya sendiri sama mama kalau udah sampai rumah. Aku bohong apa nggak nya akan ketahuan,“ lanjut Devan Nayra tidak menjawab ucapan Nayra dan lebih memilih menatap pemandangan di luar mobil dari kaca sebelah kiri. “Nay sayang.. Kamu kemana saja sudah satu minggu nggak ke rumah. Mama kangen sama kamu.” Ibu Tina mertua Nayra memeluk Nayra dengan sayang “Iya ma. Maafin Nayra akhir-akhir ini sibuk. Suami Nayra juga sibuk ma,“ balas Nayra “Iya sayang. Kamu udah makan siang belum sayang?“ sambung mama Tina Nayra menggelengkan kepala lalu mengulas senyum ke mama mertua yang sangat baik dan sayang pada Nayra. “Ayo.. Kita makan dulu." Mama Tina mengajak Nayra dan Devan menuju meja makan Suasana canggung menyelimuti meja makan. Nayra yang masih enggan bertemu dengan Devan dengan terpaksa duduk di sebelah Devan saat makan demi menghormati mama mertua. “Saya bisa ambil sendiri." Nayra menghentikan Devan yang tengah menyendok nasi ke piring Nayra “Kalian ada masalah?“ tanya mama Tina merasa aneh dengan sikap mereka “Enggak ma. Iya kan Nay?“ jawab Devan menutupi masalah yang ada di antara mereka Nayra hanya menganggukan kepala sebagai balasan pertanyaan Devan. Terlalu malas Nayra bersikap baik lagi ke Devan. “Kalau kalian emang lagi nggak ada masalah malam ini kalian tidur disini,“ tukas mama Tina “Apa ma?“ ucap Nayra dan Devan bersamaan “Kenapa?“ tanya mama Tina “Besok kita kerja ma,“ jawab Devan “ Nggak ada masalah Van. Mama tidak menerima penolakan,“ titah mama Tina Suasana hening meliputi kamar yang dihuni oleh sepasang suami istri yang masih saling diam dan asyik dengan kegiatan masing-masing. “Aku mau bicara sama kamu Nay.“ Devan menghampiri Nayra yang tengah tiduran di sofa “Nggak ada yang perlu dibicarain lagi. Saya mau pulang dari sini.“ Nayra bersikap dingin ke Devan “Nay.. Aku sama sekali nggak tahu apa yang terjadi semalam,“ balas Devan “Ngapain jelasin ke saya,“ ujar Nayra “Bisa nggak jangan terlalu formal bicaranya,“ seru Devan “Suka-suka saya donk!" ketus Nayra “Ok. Aku cuma nggak mau ada salah paham Nay,“ jawab Devab “Nggak penting buat saya,“ tukas Nayra “Kalau nggak penting buat kamu kenapa kamu pergi dari rumah selama empat hari? Kamu marah dan cemburu kan?“ tandas Devan “Cih. Cemburu? Nggak penting! Pernikahan ini hanya di atas kertas kan?“ elak Nayra “Kamu nggak usah bohongin diri kamu Nay," sambung Nayra “Tolong dengarkan saya baik-baik Pak Devan yang terhormat. Saya nggak cemburu sama anda. Saya juga nggak ada rasa sama sekali dengan anda. Saya pergi dari rumah karena saya jijik jika harus satu rumah dengan orang yang sudah tidur dengan orang lain padahal masuh berstatus suami orang. Saya memilih pergi daripada saya harus satu rumah dengan penzina,“ terang Nayra “Aku nggak kaya itu Nay!" tegas Devan “Lalu apa namanya? Lelaki beristri tidur dengan wanita lain yang katanya mantan pacar atau bahkan masih pacarnya. Apa namanya kalau bukan zina?“ ujar Nayra “Nay." Devan mengangkat tangan hendak menampar Nayra namun terhenti ketika kewarasannya kembali “Kenapa? Mau tampar saya silahkan. Saya manusia punya hati dan perasaan. Saya tahu pernikahan ini perjodohan. Bukan hanya anda saja yang merasa tidak suka. Saya juga tidak suka. Tapi saya menghargai dan menghormati orang tua saya. Saya menyerah. Saya capai dengan pernikahan ini," tukas Nayra “Maksud kamu Nay?“ tanya Devan “Saya ingin pisah!" Nayra berucap dengan lantang hingga membuat Devan terkesiap mendengar ucapan Nayra. Devan bungkam tidak menjawab ucapan Nayra. Hati dan pikiran Devan kacau dan tidak sinkron saat ini. Nayra menidurkan diri di sofa dan membalas pesan dari Nara bahwa Nayra malam ini tidak pulang ke rumah Nara.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

My Secret Little Wife

read
90.6K
bc

Tentang Cinta Kita

read
187.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
202.7K
bc

Siap, Mas Bos!

read
10.7K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
13.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook